Pengantin Yang Terbuang

Pengantin Yang Terbuang
Jawaban Arwaa


__ADS_3

Keluarga lelaki itu memberiku waktu selama seminggu untuk memutuskan jawaban atas pinangan putra pertama mereka.


Dan selama itu pula, tak pernah diri ini berhenti bermunajat kepada-Nya dalam shalat istikharah berharap akan jawaban terbaik.


Tapi mungkin belum waktunya untuk ku membangun kembali biduk rumahtangga dengan siapapun saat ini, karena hatiku tetap meragu meski telah berikhtiar dengan melakukan shalat istikharah.


Maaf...


***


Hati ini terus berdebar menunggu kedatangan pihak keluarga yang menunggu jawabanku atas pinangan putra pertama mereka.


Bukan karena ada rasa cinta namun lebih takut akan membuat mereka kecewa dengan keputusanku ini.


"Arwaa mereka sudah datang," ucap Bibi Claire menyadarkanku.


"Ingat, jangan merasa tertekan karena apapun sehingga membuatmu memberi jawaban yang berlawanan dengan kata hatimu,"


"Karena seperti yang kamu tahu, dirimu lah yang akan menjalaninya nanti."


"Iya Bibi. Terimakasih," ucapku tulus.


Setelahnya aku mengekor di belakang Bibi menuju ruang tamu.


Tenggorokan ku tiba-tiba terasa kering mendapati senyum lembut dari lelaki yang mengenakan kemeja biru muda itu.


"Assalamu'alaikum Arwaa," salamnya.


"Wa'alaikumsalam."


Aku tersenyum kecil dan mengangguk sebelum memposisikan diriku duduk diantara Kakek Harry dan Paman Jhonny yang berhadapan dengan keluarga lelaki yang menunggu jawaban dariku.


Aku tatap mereka satu persatu.


Abba, Amma, dan putra pertama mereka, Kak Mehmet.


Ya, Kak Mehmet lah yang datang meminangku setelah kejadian di rumahnya 2 bulan lalu dengan Mas Genta.


Aku tidak tahu jika ternyata selama ini Kak Mehmet menyimpan perasaan spesial terhadapku. Sebelumnya aku hanya menganggap sikap ramahnya padaku hanyalah karena aku teman baik Naina, tapi ternyata...


Tidak alasan untuk menolak pinangan Kak Mehmet sebenarnya.


Sikap yang ramah, penuh kasih sayang dan juga sangat menghormati wanita, dapat ku lihat dari bagaimana dirinya memperlakukan Amma dan Naina.


Selain itu juga wajahnya yang tampan juga kondisi ekonominya yang bisa dibilang mencukupi, sebagai bonus, karena yang terpenting, Kak Mehmet adalah sosok yang paham agama.


Tapi seperti yang telah ku katakan sebelumnya, jika hati ini tetap meragu meski seminggu penuh ini tak pernah aku melewatkan shalat istikharah.


Mungkinkah masih ada rasa yang tertinggal untuk mantan suamiku?


Impossible...


Aku mengambil nafas dan memejamkan mata sejenak, menenangkan diri yang tiba-tiba panik akan perasaan khawatir atas kegagalan yang mungkin saja terjadi lagi.

__ADS_1


Mungkin inilah jawaban yang telah Allah berikan. Rasanya berdosa sekali jika sampai aku menerima pinangan Kak Mehmet hanya karena dia adalah Kakak dari sahabat ku. Tanpa ada perasaan cinta terhadapnya.


Meski orang-orang bilang bahwa cinta datang seiring waktu. Tapi bagiku itu semua omong kosong, terbukti dari pengalaman yang telah ku lalui dengan Mas Genta.


Suamiku itu...


Ah, maksudku mantan suami. Dia sama sekali tidak pernah mencintaiku selama 2 tahun pernikahan kami. Bahkan di saat terakhir pun ketika dirinya memohon untuk kembali.


Aku yakin bukan rasa cinta yang mendorongnya melakukan itu. Melainkan rasa penyesalan dan kekecewaan atas perlakuannya selama ini padaku.


"Jangan merasa tak enak karena aku ataupun Abba dan Amma. Kami akan menghargai keputusanmu Arwaa, apapun itu."


Itu yang dikatakan Naina malam tadi melalui telepon, sebelum dia meminta izin bahwa dirinya tak bisa datang ke rumah karena ada kegiatan di kampusnya yang tak bisa ia tinggalkan.


Maka dari itu tekadku telah bulat untuk mengungkapkan semua isi hatiku, meski itu harus mengecewakan Kak Mehmet dan Keluarganya.


Karena jika boleh jujur, dibalik kekaguman ku pada sosok lelaki keturunan Turki itu. Hanya ada perasaan hormat dan care selayaknya adik pada sang kakak.


Ya, aku sudah menganggap Kak Mehmet seperti Kakakku. Walau ku tahu tak ada hubungan darah apapun dalam diri kami.


"Bagaimana Arwaa?"


"Kakek yakin kalian cocok satu sama lain, meski belum lama saling mengenal,"


"Lagipula kita semua pun sudah tahu jika Mehmet lelaki yang baik dan sopan. Dia juga sosok yang mandiri dan ahli dalam berbisnis," jelas Kakek Harry membuatku menoleh ke arahnya.


Ah, sepertinya Kakek ingin aku menerima pinangan Mehmet karena satu hal, keuntungan.


Tapi berbeda dengan Kakek. Meski beliau sosok yang ramah dan juga penuh kasih sayang terhadapku tapi dia tetap orang yang berpikiran kapitalis.


Melakukan atau menerima sesuatu ketika mendapat manfaat dari hal itu.


Dan jika aku menikah dengan Kak Mehmet. Pastilah dirinya akan sangat senang karena bisa melakukan kerjasama bisnis dengan Keluarga Ghifari.


Bukan tak boleh. Tentu saja tak ada yang melarang jika memang Kakek ku itu ingin bekerjasama dengan bisnis keluarga Kak Mehmet. Tapi tak harus mengorbankan aku juga agar memperlancar kerjasama mereka.


"It's okay. Ikuti saja kata hatimu. Semua keputusan ada padamu Arwaa," lirih Paman Jhonny menggenggam sebelah tanganku membuatku menoleh ka arahnya dan tersenyum.


Sebelum aku kembali memandang Keluarga Ghifari yang ada di hadapanku dan menguatkan diri ini.


Aku memejamkan mataku sejenak dan menghela nafas.


Bismillah...


"Abba, Amma, dan Kak Mehmet, sebelumnya aku ingin berterimakasih atas niat baik kalian terhadapku," ucapku tersenyum ke arahnya.


"Kakak adalah lelaki yang baik, bertanggung jawab, dan penuh kasih sayang, terlihat dari cara Kakak memperlakukan keluarga Kakak, dan aku sangat mengagumi itu,"


"Selama waktu yang diberikan Kakak untukku memikirkan keputusan atas hal ini pun tak pernah aku absen ber-istikharah setiap malamnya. Mengharapkan jawaban terbaik atas niat baik Kakak dari-Nya,"


Aku memandang sendu mendapati raut bahagia pada wajah Abba, dan Amma.


Sedikit terkejut karena Kak Mehmet yang terlihat sedih dengan ekspresiku. Sepertinya dia mengerti sehingga dirinya mengangguk dengan tersenyum lara sebelum mengucapkan kata tanpa suara, namun dapat ku tangkap maksudnya.

__ADS_1


"It's okay, aku ikhlas mencintaimu."


Kedua tanganku langsung berpegangan erat meminimalisir getaran pedih dalam hati ini atas keputusan yang akan ku berikan.


Ya Allah, semoga Engkau memberikan jodoh yang baik dan shalihah untuk lelaki di hadapanku ini.


"Bismillahirahmanirrahiim..."


"Aku Arwaa Keminung Bhurri, menolak pinangan dari Mehmet Yazdi Al-Ghifari."


Semua orang terdiam mendengar jawabanku. Abba, Amma, dan juga keluarga dari Ibu ku.


Dapat ku rasakan Paman Jhonny yang merangkul dan menepuk pundakku, menenangkan.


"Jangan merasa bersalah. Apapun itu jawabanmu, pastilah akan menjadi yang terbaik bagimu maupun Mehmet," bisiknya menguatkan.


Rona kekecewaan terpancar dari Abba, Amma, dan tentu juga Kak Mehmet. Meski begitu tetap mereka memberikan senyumnya, walau terlihat sendu di mataku.


"Terimakasih Arwaa dengan jawabanmu atas pinanganku. Aku tahu keputusanmu itu bukan semata-mata atas kata hatimu, melainkan ada campur tangan Allah didalamnya mengingat dirimu yang selalu ber-istikharah pada-Nya. Dan aku akan mencoba ikhlas menerimanya untuk saat ini..."


Aku mendongak menatap Kak Mehmet yang terlihat menyunggingkan senyuman bersemangatnya.


"Karena aku tidak bisa menyerah hanya karena gagal satu kali. Siapa yang tahu Allah pun akan mengubah takdir kita menjadi bersama jika aku memperbaiki diri dan memantaskan diri ini untuk bisa menjadi suamimu kelak," tegas Kak Mehmet membuatku meneteskan air mata.


Maaf aku yang belum bisa menghilangkan keraguan dan ketakutan dalam hatiku ini.


"Terimakasih Arwaa sebelumnya atas jawabanmu itu. Abba pun yakin dengan yang dikatakan Mehmet jika kamu memutuskan hal ini bukan hanya atas perasaanmu saja dan kami sekeluarga menghargainya,"


"Tapi seperti yang kamu dengar tadi, bahwa Mehmet tak akan berhenti memantaskan dirinya menjadi suami yang baik untukmu. Karena itulah Abba harap kedepannya kamu pun tak menjadi segan dengan keluarga kami, terlebih dengan Naina dan Mehmet. Lagipula kamu juga sudah Abba dan Amma anggap sebagai anak kami sendiri," jelas Abba bijak tersenyum padaku, begitupun Amma.


Lain halnya dengan Kak Mehmet. Meski ada senyum di wajahnya, tetaplah tak menghilangkan kekecewaan yang tersirat.


"InshaAllah Abba," ucapku.


Suasana menghening dan menjadi canggung, hanya saja terdengar jelas helaan nafas di sampingku, sepertinya Kakek sangatlah kecewa juga dengan keputusan ku.


"O... Oh baiklah bagaimana jika sekarang kita makan. Semuanya masakan khas Nusantara, Arwaa yang memasaknya," ucap Bibi Claire meramaikan keadaan.


Terlihat Abba dan Amma yang girang mendengar ucapan Bibi. Mereka memang suka masakan Nusantara seperti yang biasa ku buat bersama Amma jika sedang berkunjung di rumah mereka.


"Ayo... Ayo..."


Semua beranjak pergi ke ruang makan, diikuti aku dan juga Kak Mehmet yang paling belakang.


"Maaf," lirihku membuat Kak Mehmet tersenyum mendengarnya.


"Tidak ada yang harus minta maaf ataupun dimaafkan Arwaa. Aku tak menyalahkanmu juga jika menolak pinanganku, karena bagaimanapun aku sadar jika yang ku lakukan begitu terburu-buru tanpa memikirkan bagaimana perasaanmu yang baru saja bercerai dengan mantan suamimu,"


"Tapi aku harap kamu bisa memperbaiki perasaanmu sehingga suatu saat nanti kamu bisa mempertimbangkan kembali diriku," ucapnya tersenyum lembut dan melewatiku yang terdiam mendengar penuturannya.


Kapanpun dan siapapun itu, aku akan selalu mendo'akan yang terbaik untukmu Kak.


***

__ADS_1


__ADS_2