Pengantin Yang Terbuang

Pengantin Yang Terbuang
Kepergian Arwaa


__ADS_3

"Hmm..."


"Bunda?"


Suara gadis kecil yang dirindukan Arwaa sebulan terakhir ini menyapa pendengarannya.


"Bunda... Bunda sudah bangun?"


Kali ini Arwaa pun bisa merasakan elusan lembut tangan kecil dipipinya.


Dia mencoba untuk membuka matanya perlahan.


Haa...


Badannya sangat lemas sekali, pandangannya pun terasa seperti berputar, kepalanya benar-benar pusing.


"Sayang..." Gumam Arwaa hampir tak terdengar, namun masih bisa ditangkap oleh pendengaran gadis kecil itu, terlihat dari senyuman yang merekah diwajahnya.


"NENEEEK, KAKEEEK, AYAAAH, PAMAAAN, GRANDPAAA, BUNDA BANGUUUN!!!"


Arwaa mengernyit memejamkan mata mendengar teriakkan keponakan Aldair yang membuat kepalanya semakin pusing.


"Ya Allah Hanna jangan teriak didekat bunda. Bundanya masih sakit."


Bu Hayya yang langsung masuk ke dalam kamar menegur sang cucu yang hanya tersenyum kearahnya sambil terus memegang tangan bundanya.


"Bunda nek, sudah bangun!" Ucap Hanna riang.


Ingin marah tapi tak bisa, apalagi melihat senyum bahagia di wajah sang cucu setelah sebulan lamanya terus-menerus menanyakan keberadaan Arwaa.


"Iya sayang Alhamdulillah."


Bu Hayya mendekati menantunya dan mengelus rambut Arwaa sambil menitikkan air mata.


"Maafkan Aldair ya sayang. Maafkan dia."


Arwaa meneteskan air mata melihat ibu mertuanya memohon agar dia memaafkan Aldair.


Kenapa...?


Kenapa ibu mertuanya harus memohon padanya seperti itu.


Arwaa menggelengkan kepalanya pelan, dan tersenyum simpul.


"Mas Genta hanya khilaf Bu, dirinya sedang panik saat itu."


Bukannya menjadi tenang, Bu Hayya justru semakin terisak mendengar ucapan Arwaa.


Ya Allah, betapa tabahnya menantuku...


"Bu, sudah. Biar Razi periksa dulu keadaan mbak Arwaa." Arrazi mengelus punggung sang ibunda.


Arrazi menduduki kursi di sebelah kasur yang tadi ditempati ibunya.


"Razi periksa dulu mbak. Maaf ya."


Setelah meminta izin, Arrazi pun memeriksa keadaan kakak iparnya. Dia men-check tekanan darah dan detak jantung Arwaa.


"Masih pusing mbak?" Tanyanya yang hanya diangguki oleh Arwaa.


"Tekanan darah mbak masih rendah. Tapi secara keseluruhan keadaan mbak sudah baik-baik saja, tinggal menunggu beberapa hari sampai benar-benar pulih, dan luka di wajah mbak hanya perlu diolesi ointment saja."


"Terimakasih mas."


Arrazi tersenyum mendengar ucapan terimakasih yang tulus itu.


"Iya mbak sama-sama. Tapi jangan lupa untuk sampaikan rasa terimakasih mbak sama kak Atta juga karena dia yang paling khawatir ketika mendapat kabar tentang keadaan mbak dari bi Inah."


Arwaa terdiam, hampir dia lupa kalau dirinya pingsan karena ditampar Aldair.


Dipandangnya setiap sudut kamar tempat dirinya berada saat ini.


Kamar Hanna...


Arwaa menghela nafas lega menyadari bahwa dirinya sudah terbebas dari sangkar emas sang suami.

__ADS_1


"Mbak jangan takut. Mbak sudah dirumah Ibu dan Ayah." Ucap Arrazi menangkap ketakutan dimata kakak iparnya.


Arrazi menoleh ketika Paman Jhonny menepuk pundaknya.


"Aku permisi dulu ya mbak."


Arrazi mengangguk sebelum melangkah keluar kamar.


Hanya ada dirinya dan Paman Jhonny diruangan bernuansa pink yang penuh dengan boneka-boneka lucu sang pemilik kamar.


Mereka saling memandang kedalam netra masing-masing hingga kedua mata Arwaa mulai mengembun, dia menangis terisak.


Paman Jhonny terus memegang tangan Arwaa dan mengelus rambutnya. Menenangkan anak gadis dari mendiang kakaknya.


"Sttt! Sudah jangan terlalu banyak menangis, nanti kamu kelelahan dan akan memperlambat pemulihanmu."


Paman Jhonny menghapus air mata Arwaa dengan jari tangannya.


"Kita harus segera pergi ke Kanada." Lanjutnya lagi membuat Arwaa terdiam seketika.


"Pama..."


"Jangan bicara apapun sayang. Ini untuk kebaikanmu juga, Paman tidak mau kejadian kemarin terjadi lagi padamu. Kita semua tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh pria itu kedepannya. Paman sudah membicarakan tentang hal ini dengan keluarga suamimu, dan mereka menyetujui keputusan ini."


Arwaa hanya mengangguk pelan, meski hatinya terasa berat untuk meninggalkan keluarga yang sudah menyayanginya dengan tulus, tapi dia pun tidak bisa menampikan rasa takut setiap kali bayangan suaminya itu datang.


Karena itulah dia tidak peduli lagi dengan Aldair. Dia akan tetap pergi dengan sang paman, dengan atau tanpa izin dari suaminya itu. Mengingat bagaimana perlakuan Aldair yang menyakiti dirinya karena termakan kebohongan wanita licik yang dikasihi pria itu.


***


Sudah hampir seminggu Aldair menginap di rumahsakit menemani Fani yang habis melahirkan putrinya. Ya, putrinya, kekasihnya itu melahirkan anak perempuan yang sempat membuat Aldair mengingat perkataan Arwaa yang pernah diucapkan padanya.


Namun dia menepiskan segala kekhawatiran itu. Tidak peduli putrinya adalah anak diluar pernikahan karena baginya bayi mungil yang tengah berada didalam inkubator itu adalah anaknya, darah dagingnya, buah cintanya bersama sang kekasih hati.


Selama itu juga Aldair tidak menanyakan keadaan istrinya yang telah dia sakiti pada para asisten rumahtangga. Dia terlalu murka untuk memberikan kepeduliannya pada sang istri yang telah membuat kekasihnya melahirkan prematur.


Karena itulah saat ini dia tidak tahu menahu bahwa Arwaa telah pergi jauh dari kehidupannya dua hari yang lalu.


Benar, ketika Arwaa telah dinyatakan pulih oleh adik iparnya, Arwaa langsung berangkat ke Kanada dengan Paman Jhonny untuk memulai hidup baru bersama keluarga dari mendiang sang ibu.


Untuk itu Paman Jhonny memberitahukan alamat tempat tinggal keluarga Dodger di Kanada agar gadis kecil yang memanggil dirinya 'Grandpa' itu bisa mengunjungi mereka. Tapi tentu saja dengan syarat tidak memberitahukan Aldair tentang keberadaan Arwaa.


***


Aldair menjalankan mobilnya dengan pelan seakan enggan untuk pergi menuju rumah dimana sang istri seharusnya berada.


Hari ini Fani beserta putrinya sudah diperbolehkan pulang karena itu setelah dia mengantarkan kekasihnya, dia berniat untuk menemui Arwaa meminta pertanggungjawaban atas perbuatan yang dilakukan terhadap Fani.


Tidak, dia tidak akan memukul istrinya itu sebagai pertanggungjawaban tapi dia akan memaksa Arwaa untuk menerima dirinya berpoligami dan membawanya untuk melamar Fani.


Aldair mengakui dirinya sangat kejam namun dia pikir hal itu seimbang dengan rasa sakit yang diderita kekasihnya atas apa yang telah dilakukan Arwaa.


Dia memarkir mobilnya sembarangan. Tidak peduli ketika para penjaga yang diperkerjakannya terlihat gugup. Dia sudah tidak sabar untuk menemui Arwaa dan meminta istrinya itu untuk bertanggungjawab.


Bi Inah dan bi Yayu menunduk ketika sang majikan melewati mereka dan berjalan menuju lantai dua, kamar dimana seharusnya Arwaa berada.


Namun tak selang beberapa lama...


'BRAK'


Terdengar pintu kamar yang ditutup dengan keras.


Aldair menuruni tangga dengan terburu-buru, nafasnya terengah, mukanya merah padam, dan tangannya terkepal menahan marah.


"Dimana wanita itu?" Tanya Aldair pada kedua asisten rumahtangganya.


"A...anu tuan..."


"JAWAB DENGAN JELAS!!" Bentak Aldair membuat bi Inah dan bi Yayu tersentak.


"Tuan Attalaric dan Tuan Jhonny datang kemari menolong mbak Arwaa Tuan."


Mendengar nama kakaknya, Aldair seketika beranjak pergi dengan amarah yang memuncak menuju rumah keluarganya.


***

__ADS_1


"ATTALARIC SIALAN! DIMANA KAU?!"


Aldair masuk begitu saja kedalam rumah orangtuanya tanpa memberi salam. Dia bahkan meneriakkan nama Attalaric tanpa kesopanan. Dirinya kepalang murka pada sang kakak karena telah membawa Arwaa pergi dari rumahnya.


"Astaghfirullah Al ada apa denganmu, datang-datang berteriak seperti itu?"


Bu Hayya muncul dari arah dapur dengan panik setelah mendengar teriakkan Aldair.


"Dimana pria itu Bu? DIMANA PRIA SIALAN ITU IBUU!!"


Bu Hayya menutup mulutnya tak percaya karena Aldair sampai hati berteriak padanya, yang tak lain ibunya sendiri.


'PRANG'


Aldair terkejut ketika sebuah guci yang cukup besar pecah didekat kakinya. Dia menoleh kearah ruang keluarga dan mendapati sang ayah yang berkilat marah menatapnya tajam.


"BERANI KAU BERTERIAK PADA IBUMU?!!" Geram Pak Ahmad dengan memegang dadanya.


Bu Hayya yang melihat keadaan sang suami seketika mendekatkan diri kepada Pak Ahmad dan menenangkan pria baya itu agar tak kehilangan kendali, dikhawatirkan penyakitnya akan kambuh.


Apalagi saat ini hanya ada mereka berdua di rumah, karena Attalaric sedang berada di perusahaan membereskan kekacauan yang dibuat Aldair, dan Arrazi di rumahsakit, sedang Hanna, gadis kecil itu sedang sekolah paud diantar oleh asisten rumahtangga keluarga Arsawijaya.


Aldair menatap ayahnya tak kalah tajam.


"Beritahu aku ayah, dimana Arwaa?!" Tanya Aldair geram.


"Dia sudah pergi." Jawab Pak Ahmad dingin, keadaannya sudah sedikit lebih tenang karena keberadaan sang istri disampingnya.


"Aku suaminya. Dia tak bisa pergi tanpa izinku!!"


"Suami katamu?" Tanya Bu Hayya.


Wanita baya itu menundukkan kepalanya sejenak sebelum melangkahkan kaki mendekati sang anak.


"Suami katamu?" Tanyanya lagi dengan nada yang ditekankan.


'PLAK'


"APA SEORANG SUAMI TEGA MELAKUKAN INI PADA ISTRI SENDIRI!!"


Aldair memejamkan mata merasakan perih dari tamparan sang ibu yang sampai kedalam kalbunya.


"Ibu harus berhenti membela menantu yang menurut ibu shalihah itu!"


Perlahan Aldair mengangkat kepalanya dan menatap nanar pada ibunya.


"Asal ibu tahu, menantu ibu bahkan sampai hati mendorong wanita yang sedang mengan..."


'PLAK'


Aldair menganga tak percaya, sang ibu tega menamparnya bahkan hingga dua kali hanya karena istri sialannya.


"Benar apa kata orang, cinta itu buta. Ya, kau memang yang sebenar benarnya buta. Sampai-sampai tidak mendengar penjelasan tentang apa yang terjadi dirumah kalian saat itu karena termakan fitnah keji dari wanita jahanammu,"


"Percuma ayah dan ibumu ini mengajarimu ilmu agama dan menyekolahkanmu tinggi-tinggi jika pada akhirnya dirimu hanya bisa menjadi suami dan anak yang durhaka demi membela wanita yang bukan mahrammu,"


"Jika dirimu masih berpikir bahwa Arwaa yang membuat si jahanam itu melahirkan sebelum waktunya, maka cobalah dengarkan penjelasan para penjaga dan asisten rumahtanggamu yang pada saat itu ada di tempat kejadian. Dan jangan lupa check cctv yang kau pasang disetiap penjuru rumah untuk memantau pergerakan istrimu jika ingin lebih yakin tentang apa yang terjadi."


Bu Hayya berbalik menuju suaminya tanpa menghiraukan sang anak yang terluka atas perkataannya.


"Dan satu lagi, kirimkan surat pengunduran diri ke perusahaan, kau tak cocok jadi seorang pemimpin para pekerja disana setelah beberapa bulan terakhir memberikan tanggungjawab pekerjaanmu pada Bima, asistenmu. Ah yang terakhir..."


Bu Hayya menolehkan sedikit kepalanya dan memandang Aldair dari ujung mata.


"Buatlah keluarga barumu sendiri dengan si jahanam itu, karena keluarga kami tidak sudi memiliki ikatan dengan seseorang yang bahkan tidak bisa menghormati istri dan orangtuanya, terlebih dia adalah seorang pezina."


"Bu..." lirih Pak Ahmad.


Bu Hayya tahu bahwa apa yang diucapkannya memang berlebihan, tapi apa mau dikata, dirinya sudah terlalu kecewa, dan sakit hati atas semua yang telah dilakukan oleh anak tercintanya.


Aldair meremas dadanya merasakan sesak yang memenuhi relung hati. Mungkin jika sang ayah yang mengatakan itu semua rasanya tidak akan sepedih ini, tapi dirinya harus mendengar semua itu dari mulut sang ibu, wanita yang melahirkannya.


Tanpa sadar air matanya menetes dengan menjauhnya sang ibu dan ayah dari pandangan mata.


🍂🍂🍂

__ADS_1


Jangan lupa untuk support aku dengan like, comment, dan vote cerita ini ya. Terimakasih ♥️


__ADS_2