Pengantin Yang Terbuang

Pengantin Yang Terbuang
Kejutan Yang Menanti


__ADS_3

Semakin dewasa dirinya, semakin Arwaa mengerti bahwa selalu mengalah itu penting, redakan ego, sabar, dan berdiam menenangkan diri. Walau tahu betul jika ada amarah yang ingin meronta dikala hati tengah lara.


Arwaa tidak bisa menyalahkan siapapun atas hancurnya sebuah harapan. Dirinya paham, meski ego kadang menggoda, tapi segera ia sadar, jika harapannya itu dipaksakan maka tidak semua akan bahagia. Tidak semua akan terlihat menyenangkan, dari sudut pandang seseorang.


Tapi ada satu hal yang ingin ia tanyakan pada semesta. Apakah dirinya bersalah karena memiliki perasaan yang ada?


Mata Arwaa mengerjap beberapa kali. Sepertinya dia tertidur seusai sholat tahajjud.


Memang semenjak kepulangan Attalaric, Bu Hayya, dan Hanna 4 bulan yang lalu, Arwaa tidak pernah absen untuk bertahajjud.


Meminta agar diikhlaskan atas semua yang terjadi dalam hidupnya. Arwaa memiliki tekad untuk tidak menyimpan harapan pada manusia lagi karena akhirnya akan pupus jua, padahal belum terlaksana. Hanya kepada Allah-lah satu-satunya tempat ia menyimpan harap.


Dilihatnya jam dinding di dekat pintu, waktu sholat subuh hampir habis. Dengan tergesa Arwaa pun beranjak dan pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu lagi.


Selesai subuh dan mandi pagi, Arwaa langsung mempersiapkan keperluan kuliahnya, dia ada kelas pukul setengah 10 nanti. Masih ada waktu untuk bersantai, pikirnya.


Untuk itu Arwaa berencana untuk menghabiskan waktu di perpustakaan universitasnya sebelum masuk kelas. Berada di tempat yang penuh buku cukup bisa menenangkan dirinya.


Sarapan pun Arwaa hanya memakan satu roti tawar dengan selai kacang ditambah segelas susu. Well, beberapa mingu terakhir ini dirinya memang kehilangan nafsu makan. Cukup tahu Arwaa alasannya. Patah hati memang benar-benar luar biasa.


Jika bertanya tentang Grace, sebenarnya Arwaa sendiri sedang menghindarinya karena belum siap untuk bercerita tentang apa yang terjadi. Ya, sahabatnya itu terus memaksa Arwaa untuk menceritakan apa yang telah terjadi. Memang niat Grace baik. Dia ingin Arwaa merasa lebih lega setelah membagikan masalahnya, tapi di sini Arwaa hanya merasa masalah yang terjadi tak perlu diceritakan pada siapapun. Biarlah waktu yang membuat Arwaa berdamai dengan hal itu.


***


"Ugh..."


Arwaa meringis memegangi perutnya yang terasa perih, bersamaan dengan mual yang tiba-tiba membuat dirinya ingin muntah.


"Are you okay Arwaa?" Bisik seorang teman yang duduk di sebelah Arwaa. Ya, saat ini mereka sedang di tengah-tengah jam kuliah.


"Mm... I'm fine. I just need a bathroom," ringis Arwaa perlahan berdiri. Namun baru saja ia akan melangkah, dia kehilangan keseimbangannya karena pusing yang tiba-tiba datang.


Arwaa masih bisa mendengar dan melihat beberapa teman mendekatinya dan berusaha menolong, tapi sedetik kemudian penglihatannya sudah tak bisa menangkap apapun dan berubah menjadi gelap. Dia pingsan.


***


"Arwaa... Arwaa..."

__ADS_1


Kesadaran Arwaa mulai kembali sedikit demi sedikit bersamaan dengan terasanya sebuah genggaman hangat.


"Gr... ace..." bisik Arwaa hampir tak terdengar.


"Jangan paksakan dulu dirimu Arwaa. Aku akan panggil dokter," ucap Grace melepaskan genggamannya dan pergi keluar tanpa menunggu jawaban Arwaa karena Arwaa memang masih merasa lemas dan pusing.


Tak lama kemudian Grace masuk bersama seorang dokter dan mempersilahkan dokter itu memeriksa Arwaa.


"Pasien memang sudah sadar, tapi tekanan darahnya masih sangat rendah. Jadi pasien harus dirawat inap untuk sementara. Jika besok keadaannya sudah lebih baik, pasien boleh pulang."


"Saya kenapa dok?" Tanya Arwaa lemah.


"Anda terkena magh akut, ditambah tekanan darah rendah. Untuk itu anda perlu dirawat sementara sampai setidaknya tekanan darahnya normal," jelas Dokter dengan name tag, William.


Arwaa hanya mengangguk mengerti dan menghela nafas panjang setelah Dokter keluar dari ruang inapnya meninggalkan Arwaa berdua dengan Grace.


"Jadi apa yang membuatmu seperti ini?"


"Telat makan saja," jawab Arwaa sambil memejamkan mata.


Grace mendengus tak suka saat mendengar jawaban Arwaa, "In case you forget Arwaa, meski aku belum begitu lama berteman denganmu, setidaknya aku tahu jika kau akan tetap sehat walau selalu berpuasa. Entah itu Senin-Kamis ataupun Daud, tapi tidak pernah sampai membuatmu seperti ini!" Cebik Grace. Mungkin Arwaa lupa jika sahabatnya itu cukup tahu tentang apa-apa yang selalu Arwaa lakukan, terutama yang berhubungan dengan kegiatan ibadah Arwaa.


"Aku tadi menghubungi Emma, dia akan segera kemari setelah selesai operasi. Oh, dan Emma juga bilang akan langsung menghubungi Pamanmu."


Seketika Arwaa membuka mata lagi dan menoleh pada Grace, "Kenapa beritahu Pamanku?" Tanya Arwaa. Bukan apa-apa, diri Arwaa hanya tidak mau merepotkan Paman Jhonny saja karena pria itu sudah banyak berkorban untuknya.


Alis Grace bertaut, "Tentu saja karena dia Pamanmu. Memangnya siapa lagi yang harus dihubungi? Mantan suamimu," ucap Grace tanpa sadar mengingatkan kembali Arwaa pada kejadian-kejadian pedih di hidupnya. Namun apa yang Grace katakan masuk akal sehingga hanya membuat Arwaa terdiam.


***


Keesokan harinya Paman Jhonny benar-benar datang, dengan tergesa memasuki ruang inap Arwaa. Terlihat jelas kekhawatiran di wajahnya yang mulai menua membuat Arwaa semakin merasa bersalah.


"Maaf," lirih Arwaa setelah beberapa lama hanya diam saja.


"Aku selalu merepotkan Paman," lanjut Arwaa dengan air mata yang mulai menetes.


Entahlah kedatangan Pamannya membuat dia merasa ingin mencurahkan segala isi hati tentang apa yang telah terjadi antara dirinya dan Attalaric.

__ADS_1


Paman Jhonny tersenyum dan mengelus lembut kepala Arwaa, "Jangan bicara begitu. Paman sama sekali tidak merasa direpotkan olehmu. Bagaimanapun juga kamu sudah Paman anggap sebagai putri Paman sendiri."


Mendengar itu Arwaa mulai terisak padahal dirinya belum sempat bercerita tentang apapun. Tapi dirinya sudah tak sanggup untuk melanjutkan bicara sehingga Arwaa hanya menangis di dalam pelukan hangat Paman Jhonny.


"Menangislah. Jangan siksa dirimu dengan terus memendamnya sendiri. Lepaskan semua yang selama ini membebani hatimu."


Dengan sabar Paman Jhonny terus membisikkan kata-kata menenangkan pada Arwaa dan mengusap punggungnya penuh kasih sayang membuat diri Arwaa merasa lebih tenang. Terlebih setelah air mata yang ia keluarkan.


Paman Jhonny melepaskan pelukannya setelah merasakan jika Arwaa sudah lebih tenang. Diusapnya lembut pipi Arwaa yang mulai menampilkan sedikit rona merah setelah kemarin terlihat sangat pucat.


"Cepatlah sembuh. Banyak yang sangat mengkhawatirkanmu," jelas Paman Jhonny yang dibalas anggukan dan senyuman oleh Arwaa.


Hingga sore hari Arwaa hanya berdua dengan Paman Jhonny, dengan sesekali Emma datang menjenguk diwaktu istirahatnya. Arwaa memang dirawat di rumah sakit tempat Emma bekerja. Sedang Grace, dia bilang jadwal kuliah dirinya penuh hingga sore jadi dia minta maaf tidak bisa menemani lagi di rumah sakit.


Dan seperti yang dikatakan Dokter William sebelumnya jika Arwaa bisa pulang ketika tekanan darahnya kembali normal. Untuk itulah malamnya Arwaa sudah diizinkan pulang karena keadaan dirinya telah lebih baik.


Sepertinya keberadaan Paman Jhonny cukup mempengaruhi kesehatan Arwaa.


***


"Arwaa..."


Tepukan kecil di pipinya membuat Arwaa terbangun dan mendapati Paman Jhonny yang tengah duduk di pinggir kasurnya.


"Bangunlah sudah masuk waktu sholat subuh untukmu."


"Hmm... Terimakasih Paman," jawab Arwaa setengah sadar karena masih sedikit mengantuk dan lemas.


"It's okay. Sholatlah dan setelahnya kamu bisa tidur lagi kalau masih lemas," jelas Paman Jhonny yang diangguki Arwaa.


Setelah membersihkan diri dan sholat subuh, Arwaa tidak tidur lagi seperti yang disuruh Paman Jhonny. Arwaa memilih untuk mendengar murotal dengan menggunakan headset yang justru tanpa sadar malah membuat Arwaa kembali ke dunia mimpi.


Paman Jhonny yang selesai menyiapkan sarapan. Segera menuju ke kamar keponakannya untuk membangunkan Arwaa. Tapi dia dibuat terkikik saat melihat Arwaa yang tertidur di bawah kasur beralaskan sajadah. Sedetik kemudian Paman Jhonny mengeluarkan ponselnya dan memotret Arwaa yang sedang tertidur.


Lalu mengirimkannya pada seseorang dengan pesan, "Karenamu putriku patah hati. Karenamu ia juga jatuh sakit. Untuk itu segera persiapkan dirimu untuk menyembuhkannya. Aku akan segera membawa Arwaa ke sana."


Seulas senyuman muncul di wajah Paman Jhonny setelah ia menekan tombol send di ponselnya.

__ADS_1


***


__ADS_2