Pengantin Yang Terbuang

Pengantin Yang Terbuang
Keluarga Ibu


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan Jakarta - Bandung, akhirnya mereka pun sampai dikediaman Arwaa pukul 2 pagi. Arwaa sebisa mungkin terlihat tegar, cukup dia menangis dirumah mertuanya tadi, belum lagi mertua dan saudara iparnya pasti sangat lelah karena perjalanan mereka, karena itulah dia meminta keluarga dari suaminya itu untuk istirahat sejenak, apalagi Attalaric yang tadi mengemudikan mobil.


Ada pak RT dan tetangga-tetangga terdekatnya yang menjaga dan mengurus jenazah sang ayah karena ayahnya memang tinggal sendirian disana setelah Arwaa menikah dan ikut tinggal bersama suaminya.


Pak RT mengatakan bahwa pemakaman akan dilaksanakan saat pagi, Arwaa pun tak hentinya berterimakasih pada warga yang telah membantu mengurus jenazah sang ayah saat dia tak ada disana.


Haa...


Sekali lagi Arwaa menatap sedih wajah sang ayah yang sudah tak berrona itu. Dia benar-benar menyesal karena tidak bisa menemani ayahnya disaat-saat terakhirnya. Hatinya sangat hancur tatkala ia mendapat kabar jika ayahnya meninggal dunia, mengingat sosok itulah satu-satunya keluarga yang Arwaa miliki.


Sekarang dirinya sudah tidak menangis lagi, tak enak jika terus membuat orang-orang khawatir karenanya.


Dielusnya lembut kepala gadis kecil yang tertidur pulas di pangkuannya. Hanna, anak itu seakan obat penenang bagi hatinya. Dia tak henti-hentinya menenangkan Arwaa sejak dirumah mertuanya. Hanna terus-menerus memeluk dan menciumi Arwaa juga menghapus air matanya.


Bunda jangan menangis terus, Hanna sedih lihat bunda seperti ini...


Dia tersenyum miris mengingat sosok yang seharusnya ada disini, menenangkannya, memberi support padanya, justru tidak menghubunginya sama sekali.


Suaminya itu...


Entahlah dia sudah tidak berharap banyak lagi pada pria itu. Dirinya benar-benar kecewa pada Aldair. Bahkan sejak tadi banyak sekali orang yang mengira jika suaminya adalah Attalaric, apalagi karena Hanna memanggil mereka berdua dengan sebutan Daddy dan bunda.


Meski begitu dia tidak peduli, dia tidak ingin memberitahukan pada orang-orang yang sebenarnya bahwa suaminya tak ada disini karena lebih mementingkan wanita lain daripada kesedihan istrinya sendiri.


"Arwaa..."


"Eh mas..."


Arwaa tersadar dari lamunannya karena panggilan Attalaric.


"Hanna biar ku pindahkan ya, kamu pasti pegal."


Attalaric menggendong putrinya yang tertidur itu. Arwaa ikut bangun dan membenarkan posisi kepala Hanna yang hampir jatuh di pundak ayahnya.


"Hanna tidurkan dikamarku saja mas."


"Tidak apa-apa?"


Arwaa mengangguk sebagai jawaban, lagi pula kamar tamunya sudah ditempati oleh mertuanya dan Arrazi tentu dengan kasur lipat yang dipasang diatas lantai karena kasur disana hanya cukup ditempati ayah dan ibu mertuanya.


"Mas juga istirahat saja disana sekalian temani Hanna. Lagipula mas pasti lelah setelah perjalanan tadi."


Arwaa mencoba tersenyum meski kesedihan masih tergambar jelas diwajahnya.


Attalaric mencoba menahan diri untuk tidak memeluk dan menenangkan adik iparnya itu, bagaimana pun juga wanita itu adalah sosok yang disayangi anaknya dan juga ... uum ... dirinya.


"Bagaimana denganmu?"


"Aku mau temani ayah mas."


Lirih Arwaa membuat hati Attalaric sakit dan juga kesal karena sosok suami dari adik iparnya itu tidak ada disini. Dia tak habis pikir bagaimana adiknya itu lebih mementingkan pekerjaannya dibanding sang istri. Lihat saja, dia akan buat perhitungan karena menambah kesedihan adik iparnya itu.


***

__ADS_1


Pemakaman sang ayah berlangsung dengan lancar, bahkan ayah mertua dan saudara-saudara iparnya pun ikut menurunkan jenazah ayah Arwaa.


Saat ini dirinya hanya bisa mengelus nisan sang ayah dan mendoakan yang terbaik untuk sosok yang selama ini menjadi pelita dalam kehidupannya.


Ayah berbahagialah disana, tidak perlu mengkhawatirkan aku karena aku lebih kuat dari yang ayah ketahui. Sampaikan rinduku pada ibu disana, ayah...


Lirih Arwaa dengan mencium nisan sang ayah. Ibu mertuanya menangis sesenggukan melihat itu membuat Arwaa tersentuh karenanya.


"Ibu sudah jangan bersedih ya, aku tidak apa-apa." Arwaa tersenyum lembut pada ibu mertuanya.


"Bundaaa..."


Hanna memaksa turun dari gendongan sang ayah, melihat itu Arwaa langsung menghampirinya dan mengambilnya dari gendongan Attalaric dengan Hanna yang langsung memeluk erat leher Arwaa dan sesekali mengecup pipinya membuat Arwaa tersentuh karena perhatian keponakan suaminya itu. Attalaric tersenyum, jauh didalam hatinya, dia bersyukur karena anaknya bisa menjadi penenang bagi wanita yang telah memiliki hatinya itu.


Pemandangan ketiga orang yang terlihat seperti keluarga itu tak luput dari penglihatan Bu Hayya, Pak Ahmad, dan Arrazi. Saat ini pak Ahmad benar-benar merasakan kesal yang begitu besar dihatinya, apalagi kalau bukan karena sosok Aldair yang sampai sekarang tidak datang kemari.


"Seharusnya ayah menjodohkan aku atau kak Atta dengan mbak Arwaa saat itu." Gumam Arrazi namun masih bisa didengar oleh pak Ahmad karena mereka berdiri bersebelahan.


"Kau benar. Ayah menyesal."


Arrazi sontak menoleh kearah ayahnya, dia tidak berpikir ayahnya itu akan mendengar gumamannya.


"Kita bicara nanti, ada yang ingin ayah tanyakan tentang kakakmu, ayah yakin kamu mengetahui sesuatu." Ucap pak Ahmad menepuk pundak anak bungsunya.


***


"Bapak terimakasih karena telah mengurus ayah saat dirumahsakit. Dan saya juga minta maaf tidak sempat datang karena ayah sama sekali tidak memberi kabar apapun tentang penyakitnya ketika dihubungi."


"Jangan seperti itu nak, bapak hanya sesekali saja menengok pak Roni dirumahsakit sedangkan yang selalu menjaga pak Roni disana adalah tuan Jhonny."


Arwaa mengernyit mendengar itu.


"Tuan Jhonny siapa pak?"


Setahu Arwaa ayahnya tidak memiliki kenalan bernama Jhonny, dan lagipula ayahnya pun tidak punya sanak saudara yang lain karena beliau adalah anak satu-satunya, sedangkan kakek dan nenek Arwaa juga sudah meninggal sejak lama.


"Assalamu'alaikum..."


Suara bariton terdengar membuat Arwaa dan orang-orang yang ada disana melihat kearah pintu masuk.


Disana terlihat ada sosok pria paruh baya dengan tatto dilehernya membuat Arwaa dan keluarga suaminya mengernyit melihat itu.


"Ah tuan Jhonny, wa'alaikumsalam."


Arwaa membulatkan mata mendengarnya. Bagaimana ayahnya dan pria itu bisa saling mengenal.


Tuan Jhonny yang melihat sosok Arwaa tersenyum dan melangkah kearahnya, dan dia langsung memeluk Arwaa tiba-tiba membuat Arwaa terkejut setengah mati. Begitu pula dengan keluarga Aldair yang langsung berdiri dari duduknya, mereka terlihat kesal karena pria asing itu langsung memeluk Arwaa.


Terutama pak Ahmad, setelah kematian ayah Arwaa, dia sudah menganggap bahwa dirinya lah yang bertanggungjawab atas Arwaa, tentu melihat pria asing yang tiba-tiba memeluk menantunya itu ia marah.


"Apa yang anda lakukan. Lepaskan menantu saya!" Perintah pak Ahmad menatap tajam kearah tuan Jhonny.


Tuan Jhonny pun memandang dingin membuat pak Ahmad sedikit terkejut. Namun kemudian pria baya itu melepas pelukannya dan memandang mata Arwaa sejenak sebelum memberi senyum dan membungkuk minta maaf pada keluarga suami Arwaa.

__ADS_1


"Maafkan saya telah lancang. Saya hanya terlalu merindukan keponakan saya."


Mendengar itu Arwaa menoleh pada Tuan Jhonny dengan kening yang mengernyit bingung.


"Perkenalkan saya Jhonny Lau Dodger. Saya kakak dari mendiang ibu menantu anda."


Pak Ahmad terdiam melihat pria baya yang mengulurkan tangannya untuk berjabat sedang Arwaa menutup mulutnya dengan tangan karena terkejut.


***


"Jadi tuan adalah paman saya?"


Entah sudah yang keberapa kalinya Arwaa menanyakan itu karena dia benar-benar tidak percaya jika keluarga dari mendiang ibunya ada disini, menemuinya. Karena yang dia ketahui bahwa keluarga dari ibunya itu tidak setuju dengan keputusan ibunya untuk menikahi sang ayah sehingga mereka memutuskan hubungannya dengan ibu Arwaa.


"Iya nak. Paman sangat paham jika kamu sulit mempercayainya karena paman juga sudah mendengar dari ayahmu jika beliau menceritakan tentang yang terjadi antara ibumu dan keluarganya padamu."


Sejenak paman Jhonny terdiam lalu tersenyum lembut pada Arwaa.


"Tapi paman memang kakak ibumu sayang." Ucapnya membuat Arwaa mengernyit tak nyaman.


Begitu pula dengan Attalaric yang terlihat mengepalkan tangannya kesal mendengar orang asing memanggil adik iparnya sayang.


"Bagaimana kami bisa memastikan jika anda adalah paman Arwaa?" Tanya Attalaric memicingkan matanya curiga.


Paman Jhonny tersenyum. Dia mengambil dompetnya dan mengeluarkan sebuah foto hitam putih berukuran kecil, memberikannya kepada Arwaa.


"Lihatlah itu ibumu dan saudara-saudaranya ketika kecil, dan itu paman yang merangkul ibumu."


Air mata Arwaa menetes melihat kalung liontin yang ia miliki dipakai oleh anak perempuan difoto itu. Dia mengangkat kepalanya dan menatap pria yang memiliki mata biru seperti dirinya.


Pria itu memang benar pamannya.


Arwaa menghapus air matanya dan tersenyum.


"Maaf paman jika kami meragukan paman karena aku sendiri pun tidak percaya jika keluarga ibu akan kemari."


Jhonny tersenyum melihat keponakannya. Wajah Arwaa memang mirip sekali seperti adiknya yang lebih terlihat seperti orang Asia dibandingkan dirinya yang menuruni sang ayah yang asli Kanada.


"Jangan seperti itu, lagipula paman memakluminya. Paman memang sudah sejak lama mencari keberadaan ibumu, kakek dan nenekmu sangat merindukannya dan ingin meminta maaf pada ibumu karena telah mengusirnya,"


"Paman pun baru mendapat kabar tentang alamat ayahmu 3 bulan yang lalu. Dan ketika paman kemari ternyata ibumu sudah meninggal dunia." Jhonny menunduk sedih.


"Sejak saat itu paman tinggal di desa ini. Paman memang berencana untuk menemui mu di Jakarta, namun ayahmu tiba-tiba jatuh sakit, jadi paman harus menjaga ayahmu dulu." Lanjutnya lagi.


"Lalu kenapa paman tidak menghubungiku?"


"Ayahmu yang meminta, dia tidak ingin membuatmu bersedih karena keadaannya."


Mendengar itu Arwaa menangis, Bu Hayya pun merangkul menantunya dan menenangkannya.


🍂🍂🍂


Jangan lupa untuk support aku dengan like, comment, dan vote cerita ini ya. Terimakasih ♥️

__ADS_1


__ADS_2