Pengantin Yang Terbuang

Pengantin Yang Terbuang
Bertemu Mantan


__ADS_3

Setelah malam-malam panjang Arwaa lewati dengan keresahan yang luar biasa. Pagi ini di mana dia telah memberikan janji pada bidadari kecilnya untuk menjemput di Bandar Udara YYC Calgary. Akhirnya Arwaa mencoba untuk mengawali pagi dengan mengukir senyumnya meski berat karena ada kenangan yang harus disambut olehnya.


Bicara memang mudah, tapi tidak ketika dilakukan. Arwaa sangat menyadari saat ia membagi keluh kesah tentang masa lalunya pada Grace di malam pertama kali ia mendengar kabar tentang kedatangan Sang Kenangan.


Mulutnya berkata, ia akan mencoba untuk ikhlas atas apa yang telah terjadi. Namun nyatanya sampai saat ini, sampai pria masa lalunya beberapa jam lagi menginjakkan kaki di kota yang sama dengannya. Arwaa belum bisa mengikhlaskan kepedihan dari kegagalan pernikahannya.


Dengan diantar Grace dan Marius sekarang Arwaa sedang berada di Bandara Internasional YYC Calgary menunggu kedatangan keluarga mantan suaminya.


Sejak tadi Marius sama sekali tidak mengalihkan pandangannya pada Arwaa. Pria itu sudah mengetahui perihal orang-orang yang sedang ditunggu kedatangannya oleh Arwaa setelah dia memaksa Grace untuk memberitahunya.


Awalnya Marius sendiri tidak percaya kalau ternyata sahabat dari sepupunya itu sudah pernah menikah karena kelihatannya Arwaa memang masih muda. Tapi melihat kegelisahan dalam diri Arwaa, Marius pun jadi yakin jika yang sedang mereka tunggu adalah orang-orang dari masa lalu Arwaa.


Ada sedikit rasa tak suka ketika Grace mengatakan jika salah satu diantara orang yang akan datang kemari adalah mantan suami Arwaa.


Entahlah Marius memang sudah menyimpan ketertarikan pada Arwaa sejak pertama kali mereka bertemu walau ia akui itu adalah pertemuan yang buruk karena baginya Arwaa berbeda dari orang-orang yang biasa mengaku sebagai teman Grace. Ketulusan terlihat jelas pada mata Arwaa setiap saat dia bersama Grace.


"You okay?"


Arwaa tersenyum dan mengangguk menanggapi pertanyaan Grace yang berdiri di sebelahnya.


"Kamu tahu Arwaa, keberadaanmu sangat menguatkanku ketika aku sedang gelisah. Aku harap keberadaanku pun bisa menguatkanmu saat ini," ujar Grace menatap jauh orang-orang yang berlalu-lalang di depannya.


Arwaa mengamitkan tangannya pada lengan Grace. "Tentu saja. Keberadaanmu di sini sangat menenangkan hatiku Grace," sahut Arwaa tulus.


"Bagaimana dengan keberadaanku?" Sela Marius yang sedari tadi memperhatikan dua perempuan di depannya.


Arwaa sendiri sedikit tersentak. Ia pikir Marius tidak mendengar percakapannya dengan Grace. Jadinya Arwaa kikuk sendiri dengan pertanyaan pria berambut pirang itu.


"Tentu saja keberadaanmu sangat penting saat ini untuk menjadi supir kami sementara," olok Grace sekenanya membuat Marius mendengus kesal karenanya.


***

__ADS_1


"BUNDAAA!!"


Seolah ada aliran listrik mengenainya, tubuh Arwaa menegang mendengar suara gadis kecil yang sudah lama ia rindukan itu. Bukan, bukan karena Hanna ataupun Bu Hayya yang saat ini sedang berjalan mendekati Arwaa dengan senyum yang merekah. Namun sosok pria yang menatapnya penuh kerinduanlah di belakang Hanna dan Bu Hayya.


Arwaa tersadar begitu Grace menyentuh tangannya dan tersenyum menenangkan ke arahnya. Segera Arwaa mengubah ekspresinya dan ikut berjalan menuju Hanna dan Bu Hayya.


"Bundaaa..."


Hanna langsung menghambur memeluk Arwaa membuat Bu Hayya dan Aldair yang masih menjaga jarak tersenyum haru.


"Hanna sayang. Bunda rinduuu," Arwaa memeluk erat gadis kecil yang ada di dekapannya. Terakhir kali mereka bertemu adalah ketika Hanna ke Toronto bersama Attalaric.


"Hanna juga rindu Bundaaa huaaa...aaa,"


Semua yang berada di sana terkejut dengan Hanna yang tiba-tiba menangis sesegukan di pelukan Arwaa.


"Kenapa sayang?" Tanya Arwaa melepas pelukan mereka dan memandang wajah manis Hanna yang di basahi oleh air matanya.


"Maafin Bunda ya. Bunda kan sekarang sekolah lagi jadi Bunda sibuk kemarin," jelas Arwaa menghapus lembut air mata di pipi Hanna.


"Hannaaa. Nenek juga rindu sama Bundamu loh, gantian dong."


Arwaa tersenyum haru memandang mantan Ibu mertuanya yang akan selalu ia anggap seperti Ibu sendiri.


"Yaudah Nenek boleh peluk Bunda dulu, tapi nanti gantian Hanna lagi ya Nek," ucap Hanna polos di sela Isak tangisnya, mengundang tawa kecil mereka yang ada di sana kecuali Grace dan Marius karena mereka tidak mengerti Bahasa Indonesia.


Mata Arwaa terpejam merasakan pelukan hangat dari Bu Hayya. Ya Allah, betapa Arwaa merindukan sosok wanita lembut ini. Bersyukur akhirnya bisa bertemu langsung setelah lama tak bertemu.


"Kamu sehat sayang?" Bu Hayya mengelus pipi Arwaa begitu pelukan mereka terlepas. Ada sedikit kesedihan terpancar dari mata wanita baya itu ketika dirinya menatap Arwaa.


"Alhamdulillah Bu. Ibu sendiri bagaimana?"

__ADS_1


"Alhamdulillah Ibu pun sehat. Oiya kamu dapat salam dari Ayah dan Arrazi. Mereka juga rindu kamu. Rumah jadi sepi, biasanya ramai kalau ada kamu dan Hanna."


Arwaa menghapus setetes air mata Bu Hayya.


"Maaf sayang. Ibu hanya terharu saja. Akhirnya bisa bertemu kamu lagi," ucapnya.


"Wa'alaikumsalam buat Ayah dan Mas Razi. Arwaa juga rindu semua yang ada di sana, rindu Ibu juga. Bahkan masih gak percaya Ibu sekarang ada di depanku," Arwaa tersenyum lembut sambil memegang kedua tangan Bu Hayya.


"Sekarang kita ke apartemenku dulu ya Bu. Ibu sama Hanna dan Mas Genta juga pasti capek. Aku minta antar temanku. Kenalkan Grace dan sepupunya Marius. Dan Grace, Marius, let me introduce them. This is my mother and niece, and..." [Grace, Marius. Kenalkan, ini Ibu dan keponakanku, dan...]


Arwaa melirik canggung ke arah Aldair. Dia bingung harus memperkenalkan pria itu sebagai apanya. Sebenarnya Arwaa sendiri tak keberatan memperkenalkan Aldair sebagai mantan suaminya, tapi dia khawatir jika Aldair tak suka dengan itu.


"Hi, I'm Aldair, Arwaa's brother." [Hi, aku Aldair, Kakak Arwaa.]


See?! Pikir Arwaa memang Aldair tidak mau dibilang sebagai mantan suaminya.


Padahal Aldair sendiri tak masalah dengan hal itu, hanya saja ia melihat kebingungan Arwaa sehingga Aldair melangkah maju dan memperkenalkan diri sebagai Kakak Arwaa. Tanpa dia sadari jika Grace dan Marius sudah tahu tentang siapa dirinya.


"Hallo," Sapa Grace yang dibalas Bu Hayya dengan senyum dan anggukan. Sama halnya dengan Aldair. Sedang Marius tidak mengindahkan keberadaan Aldair, dirinya hanya memberikan senyum simpul pada wanita baya di depannya.


Melihat tingkah Marius membuat Grace gemas sendiri karena tak sopan. Jika saja bukan di tempat umum, pasti sudah ia pukul kepalanya.


"Bunda... Bunda... gak rindu Paman Al?" Celetuk Hanna membuat suasana seketika menjadi canggung. Terlebih untuk Arwaa dan Aldair, mereka bingung sendiri harus merespon seperti apa kepolosan Hanna. Walaupun diberitahu, belum tentu anak manis itu mengerti.


"Hehe... Sudah, sudah. Ayo lebih baik kita langsung ke rumah Bunda kamu aja ya sayang," ucap Bu Hayya mencoba mengalihkan perhatian cucunya dari Arwaa dan Aldair.


Kalau boleh jujur, Bu Hayya sendiri berharap jika mantan menantunya itu bisa kembali lagi bersama putra keduanya karena Bu Hayya tahu jika Aldair sudah berubah dan menyesali semuanya.


Tapi apa mau dikata, hati manusia tidaklah seluas lautan. Mungkin mulut bisa memberi maaf, tapi belum tentu hati sudah mengikhlaskan.


***

__ADS_1


__ADS_2