
Ada cinta yang mengantarkan menuju kemaksiatan. Ada juga cinta yang membuat seseorang mencintai hanya karena Allah. Cinta Lillah itulah yang akan memberikan kebahagiaan hakiki pada pasangan suami-istri dalam mengarungi bahtera rumahtangga mereka.
Sama halnya dengan Arwaa dan Attalaric, kedua sejoli itu yang sekarang tengah sama-sama menanti akan kelahiran putra pertama mereka. Siapa yang menyangka di tahun ke 4 usia pernikahan mereka, akhirnya mereka diberikan amanah oleh Allah dengan tumbuhnya janin kecil di rahim Arwaa.
Sebetulnya Arwaa sempat merasa sedih dan hampir menyerah ketika dirinya tak kunjung mengandung, tapi Attalaric tak pernah lelah untuk terus menyenangkan dan menenangkan hati sang istri. Ia memberi pengertian bahwasanya mungkin Allah memang ingin Arwaa bisa terfokus pada pendidikannya terlebih dahulu dan putri mereka, Hanna, yang ketika itu masih sangat manja sekali pada Bundanya. Bahkan Hanna tidak pernah mau jauh dari Arwaa ketika pun mereka sedang berkumpul dengan seluruh keluarga besar Arsawijaya. Padahal biasanya Hanna dekat dengan Neneknya dan juga kedua adik Attalaric.
Arwaa mengerti. Mungkin benar, Allah memang ingin memberi dirinya waktu untuk belajar menjadi Ibu yang baik dengan menjadi Ibu dari Hanna terlebih dahulu. Menyayangi putri suaminya yang belum pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu sejak kecil. Sehingga Arwaa pun belajar ikhlas jika bahwasanya Allah belum memberikan kesempatan padanya untuk mengandung. Dengan do'a disetiap malamnya Arwaa dan Attalaric bersimpuh mengharapkan yang terbaik untuk keluarga kecil mereka. Juga ikhtiarnya yang mengikuti program kehamilan.
Siapa yang menyangka, kebesaran Allah datang kepada Arwaa dan Attalaric setelah Arwaa berhasil menyelesaikan pendidikannya. Dan Hanna yang sekarang sudah berumur 10 tahun tumbuh menjadi gadis manis. Dia pun begitu antusias ketika tau bahwa dirinya akan segera punya seorang adik. Rencana Allah memang selalu indah.
"Assalamu'alaikum Bunda..."
"Wa'alaikumsalam."
Hanna langsung berlari kecil menuju pintu rumah di mana Arwaa yang menunggu kedatangannya dengan Attalaric.
Gadis yang sudah duduk di kelas 5 SD itu mengambil tangan Arwaa dan menciumnya, lalu memeluk Arwaa dan memberi ciuman di perut Bundanya itu.
Gadis manis itu baru pulang dari tempat lesnya dan di jemput oleh Attalaric yang kebetulan pulang kerja melewati tempat les putrinya juga.
"Adek gak main bola terus kan Bun?" Tanyanya menatap Arwaa dengan tatapan mata yang begitu polos membuat Arwaa terkekeh kecil.
"Nggak sayang. Adeknya lagi bobo dulu," Arwaa mengelus lembut kerudung yang dikenakan putrinya.
Attalaric yang melihat pemandangan indah itu tersenyum haru dan langsung melangkah ke istri dan putri tercintanya.
"Assalamu'alaikum sayang."
"Wa'alaikumsalam Mas."
Attalaric mencium pipi dan kening Arwaa setelah istrinya itu menyalimi tangannya.
"Gimana adeknya anteng kan di dalem?" Tanya Attalaric mengelus lembut kerudung Hanna yang masih setia memeluk Bundanya.
"Bu-Bundaaa, adek main bolaaa."
Hanna terperanjat begitu ia merasakan tendangan kecil di perut Arwaa ketika dirinya sedang menempelkan kepala di perut Bundanya.
Arwaa dan Attalaric tertawa melihat tingkah putri mereka, "Daddy si gangguin, jadi adeknya bangun kan."
"Eeeh ko Daddy... Adeknya aja yang udah gak sabar pengen keluar."
Arwaa menggeleng melihat suami dan putrinya berdebat kecil hanya karena bayi mungil yang masih betah di dalam dirinya.
"Udah, udah. Ayo masuk, kalian mandilah dulu. Biar Bunda siapin untuk makan malam."
"Iya Bunda sayangkuu..." Jawab Attalaric dan Hanna bersamaan.
__ADS_1
Mereka bertiga memasuki rumah dengan Arwaa yang berada di tengah-tengah. Attalaric yang merangkulnya dan Hanna yang memegang tangannya.
***
Waktu sebelum tidur memang paling bagus untuk melakukan pillow talk dengan sang kekasih. Saling berbagi cerita tentang hari yang baru dilewati. Sama seperti Arwaa dan Attalaric yang tengah berbaring saling berhadapan dengan Attalaric yang senantiasa mengelus lembut perut Arwaa.
"Sayang gimana hari ini, apa adek gak nyusahin kamu?" Tanya Attalaric memandang istrinya penuh perhatian.
"Alhamdulillah Mas baby-nya anteng ko," tangan Arwaa terangkat memainkan rambut Attalaric membuat pria itu tersenyum.
"Alhamdulillah kalau begitu. Bisa dong Mas jengukin?" Goda Attalaric menaik-turunkan kedua alisnya membuat Arwaa terkekeh kecil lalu mendekatkan diri pada suaminya dan beringsut ke dalam dekapan Attalaric.
"Usapin punggung aku dulu tapi," ucap Arwaa membuat Attalaric tertawa, tapi tetap menuruti kemauan istrinya.
Memang semenjak kehamilan Arwaa memasuki trimester ketiga, punggungnya selalu terasa pegal dan bisa disembuhkan oleh usapan lembut dari sang suami saja.
"Oiya sayang, besok Ibu ajakin kita untuk menginap di rumahnya. Gimana?"
"Gimana, gimana Mas? Ya kita nginap aja di sana. Lagian aku rindu Ibu, Hanna juga pasti ingin ketemu Nenek dan Kakeknya."
Arwaa memperhatikan perubahan ekspresi suaminya, "Kenapa?" Tanya Arwaa walau sebenarnya ia sudah tau alasan suaminya jadi seperti itu.
"Mas hanya gak mau kamu bertemu dia karena sudah pasti Ibu mengundang mereka juga."
"Jangan bicara begitu Mas. Mereka juga kan anak-anak Ibu dan Ayah, sama seperti kita," ucap Arwaa tersenyum manis agar suaminya itu bisa lebih tenang.
"Tetap saja sayang. Rasanya setiap melihat dia, hati Mas selalu panas. Ingin sekali membuatnya merasakan apa yang kamu rasakan waktu it...!"
Arwaa menempelkan jari telunjuknya di bibir Attalaric dan menatap sendu suaminya itu.
"It's all in the past. [Semua itu hanya masa lalu]. Jangan buat diri Mas lelah sendiri hanya karena perasaan itu. Ikhlas sayangku. Bukankah kita juga tahu jika dia sudah mengakui kesalahannya dan meminta maaf padaku hm? Terlebih sekarang dirinya sudah menjadi iparmu juga."
Kecupan kecil di bibir sang suami Arwaa berikan. Berharap dengan begitu suaminya itu bisa merasa lebih baik.
Sedang Attalaric memandang sedih istrinya. Dia kecewa pada dirinya sendiri karena belum bisa ikhlas atas masa lalu yang menimpa Arwaa.
"Maaf," lirihnya membuat Arwaa tersenyum lembut dan memegang pipi Attalaric.
"Mas hanya tidak bisa membayangkan lagi jika sampai dirimu harus terluka seperti waktu itu."
"Suamiku sayaaang. Inshaallah sekarang aku akan baik-baik saja karena ada dirimu yang selalu melindungiku dan anak-anak kita. Aku selalu merasa aman saat bersamamu, berada di pelukanmu,"
"Setiap orang pastilah memiliki masa lalu yang buruk, termasuk Aldair dan istrinya, Fani. Bukankah kita hidup di masa sekarang? Untuk masa depan?"
Ya, dia yang dimaksud oleh Attalaric adalah Fani. Perempuan yang pernah memberikan banyak luka dan menjadi kenangan buruk bagi Arwaa.
Takdir Allah memang tak ada yang tahu. Meski nyatanya waktu itu Aldair sempat membenci sosok Fani. Namun karena melihat perubahan perempuan itu yang menjadi lebih baik, hatinya pun terebut kembali.
__ADS_1
Arwaa kembali teringat saat di usia kedua tahun pernikahannya dengan Attalaric. Aldair datang bertamu ke rumah mereka dengan tujuan untuk menyampaikan bahwa Fani ingin bertemu dengannya.
Attalaric memang sempat menolak memberi izin Fani untuk menemui istrinya, tapi dengan kelembutan dan kesabaran Arwaa ketika melobi Attalaric. Suaminya itu pun akhirnya memberi izin, dengan syarat dia harus berada di sana juga.
Arwaa sendiri sebenarnya cukup heran kenapa rasa benci suaminya pada Fani lebih besar dari rasa benci Arwaa pada perempuan yang sempat menjadi duri dalam rumah tangganya bersama Aldair.
Meski begitu ada perasaan hangat menjalar dalam hati Arwaa melihat kekhawatiran Attalaric yang begitu besar pada dirinya saat ini, hanya karena ia akan bertemu dengan Fani.
Attalaric mengaku kalau dia sangat membenci Fani karena kejadian ketika Arwaa dilukai Aldair akibat dari kelicikan perempuan itu.
Rasa cintanya pada sang suami seakan makin menjadi ketika ia ingat kembali saat Attalaric yang memperhatikan dan mengurus dirinya ketika ia di rawat di rumah Arsawijaya setelah penyekapan yang Aldair lakukan.
Meski begitu Attalaric juga masih menghargainya sebagai perempuan yang bukan mahramnya. Dengan menyiapkan makan pagi, siang, dan malam pada Arwaa, dan setelahnya Attalaric pasti menanyakan apakah ada yang masih sakit atau tidak. Jika sudah pria itu selalu langsung beranjak pergi.
Dulu Arwaa merasa perhatian yang diberikan mantan kakak iparnya yang sudah menjadi suaminya saat ini, cukup membuat dirinya merasa sedikit risih karena memang hubungan mereka yang hanya sekedar ipar. Terlebih Arwaa saat itu belum terlalu peka dengan semua perhatian yang diberikan suaminya itu.
Tapi sekarang, Arwaa sangat bersyukur karena akhirnya setiap hari pastilah suaminya itu selalu perhatian dan memanjakan dirinya.
Bahkan ketika Aldair memberitahu semua anggota keluarga Arsawijaya jika dia akan menikahi Fani. Attalaric justru malah menenangkan Arwaa, khawatir jika istrinya itu masih menyimpan rasa pada Aldair, sehingga akan sedih karena kabar yang diberikan adiknya.
Padahal saat itu bagi Arwaa, di hatinya sudah tidak ada nama pria lain selain suaminya, Attalaric.
Dasar ðŸ¤
"Kamu kenapa sayang?"
"Eh?"
Arwaa tersenyum malu karena ketahuan senyum-senyum sendiri saat memikirkan tentang Attalaric.
"Gak apa-apa ko sayang," sahut Arwaa menormalkan ekspresinya dan kembali tersenyum lembut pada suaminya.
"Sekarang aku harap Mas belajar ikhlas tentang apa yang telah terjadi ya, karena aku ingin hidup bersama Mas tanpa adanya kenangan masa lalu yang terus menghantui,"
"Kita buat masa lalu itu sebagai pelajaran berharga bagi kita membangun masa depan yang lebih baik. Jangan jadi masa lalu sebagai penghalang untuk kebahagiaan kita."
Attalaric seketika memeluk Arwaa dengan hati-hati tentunya agar bayi di dalam kandungan Arwaa tak terjepit.
"Terimakasih banyak sudah menyadarkan Mas sayang. Mas sangat mencintaimu."
"Kami juga sangat mencintaimu sayang."
Perlahan namun pasti pasangan suami-istri yang tengah saling menatap satu sama lain. Perlahan keduanya pun mengikis jarak dan menjadi semakin dekat untuk memulai pergumulan penuh cinta.
Terpancar jelas ketulusan cinta di masing-masing netra dua sejoli itu. Keinginan untuk memiliki dan juga saling melindungi.
Bersama kejujuran dan iman yang senantiasa dipupuk setiap harinya, membuat cinta yang Lillah tersebut begitu kuat. Tak goyah dengan adanya godaan yang selalu mencoba untuk menyelinap dan menjadi duri dalam rumah tangga Arwaa dan Attalaric.
__ADS_1
Cinta dua sejoli itu terlalu kuat untuk membiarkan hal itu terjadi.
***