
Setelah makan siang bersama keluarganya tadi, Aldair kini sedang berada di kamar, merebahkan diri di atas kasur dan memandang langit-langit kamarnya. Dia tidak tau jika keponakannya sedang merengek diruang keluarga menginginkan istrinya untuk tidur bersama sang kakak.
Pikirannya bercabang pada Arwaa dan kekasih tercintanya.
Tak terasa olehnya bahwa sudah hampir enam bulan ia dan istrinya tinggal bersama. Dan selama itu juga hatinya mulai merasakan dilema yang begitu besar. Arwaa yang begitu sabar akan dirinya, melayani dan menghormati dia dengan sangat baik sebagai suaminya.
Dia tahu jika Arwaa mengerti alasan sebenarnya Aldair melakukan puasa Daud, tapi istrinya tidak pernah marah dan menuntut tentang hal itu. Arwaa bahkan selalu dengan senang dan bersemangat menyiapkan makan sahur dan buka puasa untuknya dengan sempurna.
Dia juga heran pada istrinya itu karena Arwaa jarang sekali memakai uang yang ia berikan untuknya kecuali untuk membeli kebutuhan rumahtangga saja. Tentu dia mengetahui hal itu karena dia akan mendapat notifikasi ke ponselnya jika Arwaa menggunakan ATM yang diberikannya.
Ketika dia bertanya tentang hal itu, istrinya menjawab...
Aku belum butuh apa-apa kok mas, baju-baju ku, tas, dan sepatu juga masih pada bagus dan layak pakai. Sayang kalau beli banyak-banyak, gak akan kepake, mubadzir, malah jadi pajangan. Apalagi barang-barang itu akan minta pertanggungjawaban di Akhirat. Aku kan bingung kalau ditanyain nanti, masa mau bilang nambah koleksi aja gitu jawabnya.
Aldair terkekeh geli mengingat itu. Arwaa memang berbeda dari wanita kebanyakan yang hobi shopping. Apalagi jika dibandingkan dengan Fani, kekasihnya itu suka sekali membeli baju, tas, dan barang-barang branded lainnya.
Ah...
Aldair menggelengkan kepalanya. Entah sudah yang ke berapa kali dia membandingkan Fani dengan Arwaa. Jika terus seperti ini, dia takut akan jatuh cinta pada istrinya.
Tidak boleh! Tidak boleh sampai terjadi karena mereka akan segera bercerai setelah Fani melahirkan anaknya nanti.
Aldair mendudukkan dirinya dan menjambak rambutnya kesal. Jangan sampai dia termakan oleh pesona Arwaa. Padahal tak banyak yang dilakukan oleh Arwaa. Istrinya itu pun jarang menggunakan make up yang berlebihan, bahkan dengan diamnya saja, hati Aldair sudah berdebar tak normal.
'Drrt... Drrt...'
Ponsel Aldair berdering, menampilkan nama ayah dari kekasihnya.
"Assalamu'alaikum."
"..."
"APA!"
"..."
"Rumah sakit mana paman? Kirimkan juga nomor kamarnya. Saya segera kesana!"
'Pip'
Aldair langsung bangun dan mengambil kunci mobil dimeja sebelah tempat tidur. Dia berjalan kebawah dengan terburu-buru, kekhawatiran pun begitu tampak diwajah tampannya.
Semua orang yang ada diruang keluarga menatap bingung Aldair yang terlihat gugup, begitu pula Arwaa yang masih menenangkan Hanna yang sedari tadi memintanya untuk tidur bersama dengan daddy-nya.
__ADS_1
"Ada apa Al buru-buru begitu?" Tanya Bu Hayya.
"Ada masalah mendadak, Al harus segera pergi ke kantor."
Pak Ahmad mengernyit bingung, meski dia sudah tidak mengurusi perusahaannya itu tapi dia tetap mendapatkan laporan tentang apa-apa yang terjadi disana dan setahunya perusahaan dalam keadaan baik-baik saja.
Aldair menghampiri Arwaa dan berbisik.
"Fani masuk rumah sakit, mas tidak bisa menginap, maaf." Ucap Aldair dekat telinga Arwaa dan mengecup dahi istrinya sebelum menghilang dibalik pintu keluar.
Arwaa yang melihat punggung suaminya semakin jauh dari pandangan matanya hanya bisa tersenyum miris.
Ingin hati menahannya namun dia tidak boleh egois, bagaimanapun juga ibu dari calon anak suaminya sedang ada dirumah sakit, tentu saja Aldair akan sangat khawatir. Meski harus mengingkari janjinya pada Arwaa.
Hal itu membuat Arwaa kembali sadar diri, karena kebersamaan mereka beberapa bulan ini, dia merasa diatas awan dan melupakan bahwa kebersamaan mereka hanyalah untuk sesaat.
Haa...
Arwaa menghembuskan nafas lelah dan mengecup kepala Hanna yang bersembunyi diceruk lehernya dan memeluknya erat, anak kecil itu masih tergugu sisa menangis tadi.
Bu Hayya dan Pak Ahmad saling memandang. Begitu pula Attalaric, dia menatap Arwaa dengan tatapan misterius kearahnya. Dia menghampiri adik iparnya.
"Hanna ayo kemari Daddy gendong, kasihan, bunda gendong Hanna dari tadi. Hanna kan sudah besar, bundanya berat tuh."
Attalaric membeku melihat wanita yang dianggap ibu oleh anaknya menangis. Entah kenapa hatinya merasa tak nyaman melihat air mata Arwaa.
"Eh maaf." Arwaa menghapus air matanya dengan tersenyum kecil, makin membuat Attalaric ingin mengetahui penyebab air mata itu menetes.
Sang mertua yang melihat gelagat aneh Arwaa mulai berpikir jika rumahtangga menantunya itu sedang tidak baik-baik saja.
"Sayang kamu kenapa?" Bu Hayya memegang pipi menantunya khawatir.
"Gak apa-apa bu. Maaf, Arwaa hanya ngantuk. Arwaa ke kamar dulu ya semua. Assalamu'alaikum."
Arwaa menggelengkan kepala dan melepaskan tangan ibu mertuanya lembut. Dia memilih segera berpamitan ke kamar sebelum keluarga suaminya itu bertanya yang tidak-tidak padanya.
Perubahan Arwaa yang terlihat sedih mengundang sejuta pertanyaan pada benak masing-masing manusia yang ada diruangan tersebut, termasuk Attalaric.
Hari ini memang pertama kalinya dia bertemu dengan istri dari adiknya itu, karena sejak tiga tahun terakhir dia tidak pulang ke rumahnya di Indonesia. Bahkan untuk sekedar berhubungan dengan sang anak pun, dia hanya mengandalkan sambungan Internet saja.
Tidak punya hati memang, dia akui itu. Menitipkan anaknya pada kakek dan neneknya, sedangkan dia meratapi kesedihan atas kematian sang istri.
Tapi saat ini ketika dia bertemu wanita yang sangat disayangi dan terlihat begitu menyayangi putrinya, membuat hatinya berdebar-debar tak karuan. Jika cinta pada pandangan pertama itu nyata, mungkin inilah yang dia rasakan sekarang.
__ADS_1
Sepertinya dia telah jatuh cinta pada adik iparnya sendiri.
Awalnya meski dengan perasaan aneh yang dia miliki untuk Arwaa didalam hatinya, dia sama sekali tidak terpikirkan untuk ikut campur urusan rumahtangga adiknya iparnya itu. Lagipula dia menyayangi Aldair sebagai adiknya, dan tentu menghormatinya juga sebagai suami dari wanita yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
Tapi hatinya menjadi goyah tatkala melihat air mata Arwaa menetes. Ia mengepalkan tangannya ketika sosok Arwaa semakin jauh dari pandangannya.
Apa yang sebenarnya dilakukan adiknya hingga membuat Arwaa menangis, untuk itu ia bertekad untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam rumahtangga Aldair, adiknya.
***
"Mas Al..." Lirih Fani yang baru saja siuman dari pingsannya.
Aldair seketika terbangun. Ia tertidur ketika menunggu kekasihnya itu siuman.
"Ini sayang..."
Begitu lembut suara Aldair menyapa pendengaran sang kekasih membuat wanita itu tersenyum sedih.
"Maafin adik, karena adik mas jadi khawatir dan harus menemui adik."
Fani menangis karena membuat Aldair harus mengingkari janji pada istrinya.
"Adik terlalu merindukan mas Al."
Ia menangis tergugu menahan kerinduan yang membuncah untuk pria yang ia cintai. Belum lagi ketakutan besar yang melanda hatinya setiap mengingat Aldair tinggal bersama istrinya.
"Tidak sayang tidak, jangan bicara begitu. Mas yang minta maaf karena membuat adik harus melewati semua ini sendirian."
Aldair menggeleng keras, menggenggam tangan Fani, dan menciumi wajahnya penuh kerinduan. Ia tidak peduli lagi dengan dosa karena hubungan mereka yang belum sah, yang terpenting dia tidak melihat kekasih hatinya menangis seperti ini lagi.
Fani mengangguk dan mengecup bibir Aldair.
"Mas tetap disini ya. Adik gak mau mas bersama dengan istrinya mas, disini rasanya sangat sakit."
Fani memegang dadanya. Ia menatap Aldair dengan tatapan memohon disertai air mata yang mengalir.
"Iya sayang..."
Aldair mengecup tangan Fani yang dipegangnya. Entahlah, meski hatinya juga mengkhawatirkan Arwaa, tapi saat ini ia hanya ingin fokus pada pemulihan Fani. Karena ibu dari calon anaknya itu mengalami anemia yang parah, belum lagi hubungan Aldair dengan Arwaa yang membuat Fani terus kepikiran dan menjadi stress.
Aldair terus menenangkan dan mengatakan kata cinta pada kekasih hatinya itu tanpa mengetahui ada sepasang mata yang bersembunyi dibalik pintu, melihat dan mendengar itu semua.
🍂🍂🍂
__ADS_1
Jangan lupa untuk support aku dengan like, comment, dan vote cerita ini ya. Terimakasih ♥️