Pengantin Yang Terbuang

Pengantin Yang Terbuang
Sangkar Emas


__ADS_3

Aldair menarik lagi tangan Arwaa secara paksa meski tak seerat tadi, karena istrinya itu hanya bergeming didalam mobil ketika telah sampai di rumah mereka.


"Mas lepaskan aku. Aku ingin pulang!"


Arwaa menahan tangannya yang ditarik Aldair, membuat pria itu semakin kesal.


"Pulang? INI RUMAHMU!!!"


Arwaa memejamkan mata mendengar teriakkan suaminya. Namun tiba-tiba dia terkejut ketika tubuhnya digendong oleh Aldair membuat ia terus memukuli dada suaminya itu agar diturunkan.


"Diam atau kau akan ku jatuhkan!"


Arwaa tersentak mendengar ancaman Aldair. Bagaimanapun juga saat ini mereka sedang berada ditangga menuju lantai dua. Dirinya tidak bisa membayangkan jika suaminya itu menjatuhkannya, sehingga ia pun memilih untuk menuruti perintah Aldair.


***


"Mas lepaskan aku mas! Jangan seperti ini!!"


Arwaa terus menerus menghindari Aldair yang mencoba mencium dirinya secara paksa.


"AKU SUAMIMU ARWAA!!"


Emosi Aldair semakin tersulut karena penolakan Arwaa.


"Kau berdosa jika menolak ku!!"


Arwaa seketika menatap sengit sang suami. Didorongnya tubuh Aldair sekuat tenaga dari atas tubuhnya, membuat pria itu menyingkir.


Perlahan Arwaa berdiri dan terus melangkah mendekati Aldair hingga suaminya itu tak dapat menghindar karena punggungnya telah menabrak dinding.


"Kau mau berbicara tentang dosa denganku?" Tantang Arwaa menengadah menatap suaminya.


Aldair terkejut melihat tatapan tajam Arwaa. Tak pernah ia menyangka istrinya bisa seperti itu.


"Bagaimana denganmu? Bagaimana dengan dosamu yang selama ini mengabaikan aku, istrimu? Bagaimana dengan dosamu yang selama ini berzina bersama wanita yang bukan mahrammu? Bagaimana dengan dosamu yang selama ini membohongi kedua orangtuamu? Beritahu aku! BERITAHU AKUU!!!"


Arwaa kepalang murka pada Aldair sehingga dia sudah tidak peduli jika pria yang ada dihadapannya itu adalah suaminya, jalan untuk menuju surga-Nya.


"Mas tahu, Rasulullah shalallahu alayhi wasallam pernah bersabda bahwa sebaik-baiknya seorang suami adalah dia yang berbuat baik kepada istrinya, dan dia yang memuliakan istrinya..."


Tubuh Arwaa terduduk dilantai, kakinya terasa seperti jeli, tak bisa menahan seluruh emosi yang membebani dirinya saat ini.


"Aku tidak mengharapkan kamu memuliakan ku, tapi pernahkah kamu, Aldair Gentala Arsawijaya memperlakukan aku dengan baik sebagai istrimu?" Tanya Arwaa menatap nanar kearah suaminya.


Arwaa menutup wajah dengan kedua tangannya dan Isak tangis pun mulai terdengar dari gadis itu.


Seolah tersentil, hati Aldair merasakan pedih dan nyeri mendengar ucapan istrinya.


Dia tersadar selama ini perlakuannya terhadap Arwaa sangat buruk. Tak heran jika istrinya itu murka ketika dia memaksakan kehendaknya dengan mengkambinghitamkan dosa.


Meski begitu, isak tangis Arwaa yang terdengar memilukan tidak membuat Aldair berubah pikiran untuk melepas sang istri.


Tidak!


Dia tidak akan menceraikannya!


Tidak akan pernah dia membiarkannya keluar dari rumah ini!!!


Aldair bertekad, apapun yang terjadi dia tidak akan melepaskan istrinya, terlebih menceraikannya.


Tentang Fani?


Dia yakin, dirinya bisa membujuk atau bahkan memohon, jika perlu, pada sang kekasih untuk menerima Arwaa tetap menjadi istrinya, atau mungkin... simpanannya.


Aah...


Meski dirinya mengurungkan niat untuk menceraikan sang istri, ternyata sang kekasih masih tetap ratu di hatinya.


***


Hampir satu bulan Arwaa terkurung dirumah yang bagai sangkar emas ini.


Hanya ada dia, dua orang pembantu, dan puluhan penjaga yang diperkerjakan oleh Aldair untuk memastikan agar dirinya tidak kabur dari rumah.


Pria itu bahkan melarang Arwaa untuk sekedar pergi ke warung kelontongan di depan rumah.


Setelah kejadian waktu itu Aldair benar-benar berubah. Suaminya selalu memberitahu ketika dia akan menemui sang kekasih bahkan tak jarang meminta Arwaa untuk ikut dengannya, yang tentu saja ditolak mentah-mentah olehnya.


Dan ketika Arwaa menanyakan kenapa dia melakukan itu, kalian tahu apa jawabannya.


Mas hanya ingin kamu mengakrabkan diri dengan Fani. Bagaimanapun juga dia akan menjadi madumu.


Rasanya Arwaa ingin menggunting bibir manis suaminya itu. Berkali-kali juga ia beristighfar melafalkan asma Allah berusaha untuk tidak terpancing emosi dan memaki sang suami.


Dirinya bukan tidak menyetujui poligami, bagaimanapun juga hal itu adalah salah satu sunnah dan dibolehkan dalam agamanya.


Dirinya bisa saja menerima dengan ikhlas jika suaminya itu sejak awal menerima dan memperlakukan dia sebagai seorang istri dengan baik. Bukan malah menjalin hubungan yang tidak diridhai oleh agamanya dengan wanita yang bukan mahramnya, bahkan sampai si wanitanya mengandung.


Hampir setiap hari Aldair selalu ada dirumah, meski tak jarang juga dia pergi menemui kekasihnya.


Mereka makan pagi, siang, dan malam bersama, bahkan tidur pun bersama. Memang tidak ada yang salah, karena bagaimana juga mereka adalah sepasang suami istri.


Tapi justru hal itulah yang aneh dan membuat Arwaa tak nyaman dengan sosok suaminya. Mereka memang sudah tinggal bersama selama beberapa bulan, tapi suaminya tidak pernah sampai memperlakukannya seperti ini. Bahkan Aldair tak jarang masih bersikap dingin padanya saat itu.

__ADS_1


Entahlah... semenjak Aldair mencoba untuk memaksakan kehendaknya dan dengan luwes menyampaikan niat untuk berpoligami. Perasaan cinta dan hormat yang selama ini ada dihatinya semakin hari kian meredup untuk sang suami.


Bahkan ketika suaminya kini memperlakukan dirinya dengan sangat manis. Setiap bangun tidur atau akan pergi pastilah selalu memeluk dan mengecup keningnya, bahkan tak jarang pria itu juga mencuri ciuman dari bibirnya.


Jika kalian penasaran apakah keluarga Arsawijaya dan Paman Jhonny berusaha membebaskan Arwaa, tentu saja jawabannya adalah YA.


Bahkan sejak hari kedua Arwaa dikurung, dua saudara Aldair dan Paman Jhonny sudah datang untuk menolong Arwaa. Namun mereka dihentikan oleh puluhan penjaga yang memang langsung Aldair perkerjakan dihari pertama istrinya itu ia kurung.


Hingga sekarang pun mereka masih terus berusaha menolong Arwaa terutama Attalaric dan tentu saja hal itu membuat Aldair semakin tak suka dan membenci kakaknya.


Dia bahkan tak punya hati menyuruh para penjaga untuk memukuli kakaknya hingga babak belur dan baru memerintahkan mereka berhenti ketika Arwaa memohon padanya.


Meski pada akhirnya Arwaa harus menerima Aldair mencium dirinya dengan ganas bahkan tak jarang hingga bibirnya berdarah sebagai bayaran.


***


Pagi itu bersama cahaya hangat yang dipancarkan sang surya, Arwaa menikmati pemandangan bunga-bunga di taman kecil di halaman belakang rumahnya yang sudah lama tidak dia urus.


Meski begitu bunga-bunga itu tetap tumbuh dengan baik dan terlihat segar. Tentu saja siapa lagi kalau bukan bi Inah dan bi Yayu yang selalu bergantian mengurusnya.


Arwaa sudah terlalu enggan mengurusi segala sesuatu yang ada di rumah ini semenjak menjadi kurungan untuknya.


"Mbak Arwaa..."


Arwaa menoleh mendapati bi Inah yang menunduk terlihat enggan untuk berbicara.


"Ada apa bi? Bicara saja, tidak apa-apa." Ujar Arwaa.


"Anu mbak... ada seseorang yang mengaku sebagai calon istrinya Tuan Aldair ingin bertemu dengan mbak Arwaa."


Arwaa terdiam sejenak, menerka-nerka siapa kemungkinan orang itu.


Ah, mungkinkah...?


Arwaa memandang bi Inah yang terlihat gugup menatap kearahnya khawatir.


"Tidak apa-apa bi. Sudah disuruh masuk kan orangnya?" Bi Inah mengangguk mengiyakan.


Arwaa beranjak dari duduknya dan tersenyum pada bi Inah.


"Tolong siapkan camilan untuk kami ya bi. Bibi juga tenang saja, saya tidak apa-apa."


Diamitnya lengan wanita paruh baya yang sudah menemaninya di sangkar emas ini.


Arwaa memang selalu ramah pada mereka yang ada di rumah itu. Bahkan pada para penjaga sekali pun yang terkadang hal itu membuat mereka merasa tak tega ketika harus menghalangi orang-orang yang mencoba menolong istri Tuannya itu.


***


"Assalamu'alaikum..."


Fani terkejut hampir menjatuhkan ponselnya mendengar salam Arwaa.


Sejenak dirinya terpesona pada sosok Arwaa.


Parasnya sangat membuat iri karena begitu cantik meski tanpa polesan makeup sepertinya. Ditambah cara berpakaian wanita dihadapannya terlihat begitu elegan padahal dia hanya mengenakan gamis polos berwarna pastel dengan hijab panjang berwarna merah muda yang menutupi hingga dadanya.


Rasa cemburu tiba-tiba mengisi relung hati wanita yang tengah mengandung itu. Pantas saja sang kekasih memberitahu dirinya bahwa pria itu mengurungkan niat untuk menceraikan istrinya.


Bagaimanapun juga jika dilihat, istri dari kekasihnya itu tentu adalah tipe idaman para pria.


Fani memandang sinis pada Arwaa membuat gadis itu berjengit sedikit terkejut.


Mungkin Fani merasa dirinya lebih superior dari istri kekasihnya itu, meski secara fisik dan ahlak dirinya tentu saja berada jauh dibawah Arwaa, namun saat ini dia mempunyai bayi yang dikandungnya yang tentu saja bisa membuat Aldair selalu membelanya.


Tiba-tiba ide cemerlang muncul di kepalanya membuat dia menyeringai pada Arwaa yang terlihat semakin kebingungan dengan tingkah kekasih dari suaminya itu.


Fani berdiri dan melangkahkan kakinya mendekati Arwaa.


"Mbak Fani ya... Kenapa tidak duduk saja, nanti pegal." Ujar Arwaa sedikit canggung karena tak nyaman dengan cara wanita itu memandangnya.


"Jangan pura-pura sok baik kamu!"


Arwaa tersentak mendengar bentakan Fani.


"Saya tahu sebenarnya kamu ingin sekali menampar saya, menjambak rambut saya kan!"


Fani berteriak sambil terus memojokkan Arwaa dengan mendorong bahu istri dari kekasihnya itu.


"Tunggu dulu! Mbak ini kenapa datang kesini dan tiba-tiba memarahi saya!"


Arwaa menahan tangan Fani yang terus-menerus mendorong bahunya.


Fani menarik tangannya kasar dari pegangan Arwaa.


"Halah jangan sok tidak tahu kamu. Kamu kan yang terus menggoda Aldair agar tidak menceraikanmu. Dasar wanita murahan tidak tahu diri." Teriak Fani mencaci maki.


Arwaa memejamkan mata sejenak dan mengambil nafas panjang mencoba menahan gejolak amarah yang menguar dalam dirinya.


"Mbak membicarakan diri mbak sendiri ya..."


Arwaa terlihat tenang saat mengucapkan hal itu, bahkan dirinya tersenyum lembut pada wanita didepannya.


"Apa kamu bilang?!" Geram Fani.

__ADS_1


"Kenapa, apa saya salah? Asal mbak tahu, mas Genta menikahi saya dengan mahar 100gr emas murni dan seperangkat alat sholat. Mas Genta juga sudah menjadikan saya sebagai istrinya ketika dia mengucapkan akad pernikahan. Dan tentu saja sudah jelas halal bagi saya untuk menggoda suami saya sendiri, bukan karena saya wanita murahan seperti yang mbak katakan, tapi karena saya adalah istrinya dan itu adalah ibadah bagi saya, dan hubungan kami tentu saja sudah diridhai oleh-Nya."


"Bagaimana dengan mbak? Tidak ada hubungan apapun dengan suami saya, tapi sampai bisa mengandung anaknya. Kekasih? Pacar? Mbak Islam kan? Asal mbak tahu dalam agama kita hubungan antara pria dan wanita yang belum menikah itu tidak dibolehkan, terkecuali dalam bidang-bidang tertentu saja, seperti pendidikan, kedokteran, ekonomi, dan perpolitikan. Tidak ada yang namanya menjalin kasih sebelum pernikahan seperti ikatan berpacaran. Nah jadi disini sudah jelaskan siapa yang murahan? ******* memang tidak lebih baik dan tidak dibenarkan oleh agama kita, tapi setidaknya mereka dibayar ketika menjajaki tubuh mereka. Tidak seperti mbak yang cuma karena cinta dengan suka rela tubuhnya dijajah oleh pria yang bukan mahram."


Jelas Arwaa panjang lebar membalas cacian dari Fani dengan tenang bahkan masih dengan senyuman manis yang terpatri diwajahnya.


"Kasihan sekali anak yang dikandung mbak. Meskipun nanti mbak menikah dengan suami saya, hal itu tetap tidak akan menjadikan anak mbak mendapatkan nasab dari ayahnya, ayahnya juga tidak wajib menafkahi, tentu saja tidak berhak mendapat warisan dari ayahnya, bahkan sang ayah pun tidak bisa menjadi wali nikahnya nanti. Lihat betapa jahatnya mbak dan suami saya telah mendzolimi manusia yang bahkan belum dilahirkan."


Arwaa menatap iba pada wanita hamil yang ada dihadapannya.


Sedangkan Fani wajahnya memerah menahan marah atas apa yang dikatakan istri dari kekasihnya. Meski semua yang dikatakannya memang benar, tapi tentu saja dirinya merasa tersinggung.


Tidak disangka-sangka Fani langsung menarik hijab yang dikenakan Arwaa membuat Arwaa panik karena tiba-tiba Fani langsung menyerangnya.


Ingin Arwaa membalas perlakuannya seperti membalas menarik rambut wanita itu tapi khawatir terjadi sesuatu, bagaimana pun juga wanita itu sedang mengandung. Dia memang tidak menyukai Fani tapi bukan berarti anaknya juga jadi ikut-ikutan dibencinya.


"Mbak lepas mbak, istighfar!!"


Arwaa berusaha menahan Fani yang terus-terusan menarik hijabnya, bahkan wajah Arwaa pun terkena cakaran kuku panjang Fani.


"JANGAN SOK SUCI LOH CEWEK KAMPUNG!!!"


Bi Inah dan Bi Yayu yang mendengar keributan di ruang tamu langsung pergi menuju kesana. Betapa terkejutnya mereka melihat istri dari majikan mereka diserang dengan bar-bar oleh wanita yang sedang hamil itu.


Bi Inah pun mencoba memisahkan Arwaa dari Fani dengan menarik Arwaa hingga hijabnya terlepas dari cengkeraman wanita bar-bar itu.


Dan hal itu membuat Fani kehilangan keseimbangan membuatnya terjatuh kelantai bersama bi Yayu yang mencoba menolongnya namun tak kuat menahan bobot berat wanita hamil itu, membuatnya ikut jatuh juga.


'AAARGH!'


Fani memegang perutnya yang terasa sakit.


Arwaa yang melihat itu langsung panik melupakan rasa perih di wajahnya karena cakaran Fani.


"Astaghfirullah bi, telpon ambulan bi cepaaat!!" Perintah Arwaa sambil berjongkok mencoba menolong Fani namun wanita itu menepis tangan Arwaa.


Entah kebetulan atau memang sudah direncanakan. Aldair terlihat berdiri dengan wajah memerah murka melihat pemandangan didepannya.


"ADA APA INI?!" Teriaknya sambil berlari panik kearah wanita yang sedang kesakitan itu.


Fani yang melihat Aldair langsung menangis tersedu dan mencengkeram tangan kekasihnya itu.


"Mas mbak Arwaa mas. Mbak Arwaa dorong aku..."


Aldair sontak menoleh dan menatap tajam kearah Arwaa yang memandang tak percaya pada wanita didepannya.


Aldair langsung beranjak dan menarik rambut Arwaa kuat.


"Aaargh maaas sakit mas!!"


Arwaa menangis memegang tangan Aldair yang menarik rambutnya.


"Sakit kau bilang... Kau bahkan mendorong Fani yang sedang hamil, tidak sadarkah dirimu apa yang bisa terjadi padanya!!"


Aldair terus menarik rambut Arwaa hingga istrinya itu mendongak menatap wajah sang suami yang terlihat murka.


"Demi Allah mas, aku tidak mendorongnya. Dia jatuh sendiri!!" Arwaa membela diri masih dengan menahan sakit dikulit kepalanya karena tarikan kuat Aldair pada rambutnya.


"Benar Tuan, mbak Arwaa tidak melakukannya. Mbak itu yang justru menyerang mbak Arwaa lebih dulu!" Jelas bi Inah panik melihat majikannya menyiksa sang istri.


"DIAM KAMU, JANGAN IKUT CAMPUR!!" Bentak Aldair.


"Bukannya bersyukur karena aku tidak menceraikan mu, kau malah nekad melukai ibu dari anakku. DASAR WANITA TAK TAHU DIUNTUNG!!"


'Plak'


Aldair menampar Arwaa sekuat tenaga membuat istrinya itu tersungkur jatuh.


"Ma..aas..." Lirih Arwaa memegang pipinya yang terasa panas ditambah kepalanya yang terasa semakin pusing.


Fani menyeringai senang disela-sela rasa sakit dari perutnya melihat Aldair menyiksa istrinya karena membela dirinya. Namun tiba-tiba rasa sakit diperutnya menjadi berkali-kali lipat, membuat dia tak kuat lagi menahannya. Bersamaan dengan carian kental berwarna merah yang mengalir dari *********** membuat dirinya panik.


"MAAAS!!"


Aldair seketika menoleh pada sang kekasih. Tubuhnya membeku melihat darah yang mengalir dikaki kekasihnya.


"Jika sampai terjadi sesuatu pada Fani dan anakku, kau lah orang pertama yang akan menanggung akibatnya!!" Ancam Aldair menatap Arwaa tajam, yang masih menunduk sebelum ia mengangkat tubuh Fani dan menghilang dibalik pintu.


Bi Inah dan Bi Yayu mendekati Arwaa.


"Mbak..." Lirih bi Inah memegang pundak Arwaa yang bergetar.


Arwaa perlahan mengangkat kepalanya dan menatap nanar pada kedua wanita paruh baya yang terlihat terkejut melihat keadaannya.


"Astaghfirullah mbak! Bi Yayu bawa kotak obat bi, kita obati luka mba..."


Arwaa memegang tangan bi Inah yang sedang panik.


"Bi... Tolong hubungi siapapun... Saya mohon... Saya ingin keluar dari sini..." Lirih Arwaa pelan sebelum ia kehilangan kesadarannya membuat kedua asisten rumahtangganya menjadi makin panik.


🍂🍂🍂


Jangan lupa untuk support aku dengan like, comment, dan vote cerita ini ya. Terimakasih ♥️

__ADS_1


__ADS_2