
"Jadi kita deal dengan kerjasama ini?"
"Iya, lagipula ini juga untuk menyogok calon menantu. Betul kan Amma?"
"Abba!"
"Loh memang benarkan?"
Ustadz Zahid terlihat mengedipkan sebelah matanya membuat sang istri terkekeh geli.
"Sudah, sudah. Abba jangan menggoda Mehmet terus, nanti dia malah makin kebelet ingin melamar teman Naina itu."
"Amma kenapa ikut-ikutan menggodaku!"
Wajah Mehmet benar-benar memerah hingga sampai telinga.
"Haha iya kak, makanya cepat lamar Ar..."
"Diam Naina!"
Mehmet melempar Naina dengan bantal sofa, saking malunya karena terus digoda oleh keluarganya.
Jika bertanya dimana Aldair, ya sudah tentu dia juga ada disana. Berkumpul bersama keluarga Ghifari di ruang keluarga, setelah mendiskusikan kerjasama mereka.
Sebenarnya Aldair ingin permisi dari sana karena tak nyaman. Meski keluarga itu tak keberatan dengan keberadaan dia disana, tapi tidak dengan dirinya, karena bagaimanapun juga dia tetap orang asing.
"Oh iya Nay. Bagaimana keadaan temanmu sekarang, apa sudah sembuh?"
Naina mengangkat sebelah alisnya.
Ah, kakak pasti malu karena digoda tadi, jadi tak sanggup panggil nama Arwaa hihi
"Sepertinya sih belum pulih benar, tapi sudah lebih baik. TEMANKU juga akan menghadiri kajian di Masjid Jami Toronto besok," ucap Naina menekan kata temanku membuat Mehmet mendelik kearahnya.
Sedangkan kedua orangtua mereka terkekeh geli, melihat putra sulungnya salah tingkah.
"Maaf ya nak Aldair, seperti inilah mereka selalu saling mengerjai jika sedang dekat, tapi saling rindu jika berjauhan," jelas Ustadz Zahid.
Aldair tersenyum mendengarnya.
"Tidak apa pak. Saya mengerti karena saya juga punya 2 saudara laki-laki."
Sejujurnya, Aldair sangat merindukan kebersamaan dengan saudara-saudaranya. Tapi setelah apa yang terjadi diantara mereka, apakah mungkin dirinya bisa bersenda gurau lagi, duduk, dan menghabiskan waktu di akhir pekan bersama.
"Oh ya Al, besok ada kajian rutin di Masjid Jami Toronto, apa kau akan ikut?" Tanya Mehmet.
"Siapa tahu bertemu dengan cintamu disana," lanjutnya lagi sedikit berbisik.
"InshaAllah," ucap Aldair mengulas senyumnya.
***
Seperti biasa, kajian rutin di Masjid Jami Toronto selalu di ikuti oleh banyak jamaah. Selain untuk menambah wawasan ilmu keagamaan, juga untuk ajang silaturahmi.
"Arwaa, benar kamu sudah baik-baik saja?"
Sean menatap khawatir pada sepupunya itu.
Hampir 2 minggu Arwaa jatuh sakit, bahkan saat ini dengan keadaannya yang belum pulih total, Arwaa memaksa Sean untuk mengantarkan dia ke Masjid Jami Toronto demi menghadiri kajian yang rutin setiap minggu diadakan disana.
"Don't worry Sean, aku sungguh baik-baik saja."
"Kau ini keras kepala Arwaa. Haa... Sudahlah, kalau begitu aku akan ikut acara ini."
"Hmm... Kau yakin?"
"Tidak apa-apa kan? Lagipula aku penasaran dengan agamamu juga."
Arwaa tersenyum mendengar ucapan sepupunya.
"Baiklah ayo kalau begitu."
Arwaa dan Sean pun berjalan menuju Masjid.
"Oh iya karena tempat pria dan wanitanya dipisahkan jadi kau masuk melalui pintu sebelah kanan ya."
"Dipisah? Kenapa?"
"Tidak baik jika bercampur baur, karena bukan mahramnya," Arwaa tersenyum melihat tampang Sean yang kebingungan.
__ADS_1
"Kalau penasaran aku akan mengenalkanmu pada Ustadz Zahid, beliau bisa menjelaskannya padamu dengan gamblang. Sudah ayo kamu masuk Sean, aku lewat sini," tunjuk Arwaa menuntun Sean sebelum dia berjalan ke pintu sebelahnya.
***
"Pernikahan adalah suatu ikatan sakral seorang pria dan wanita. Dengan kita memegang tangan sang ayah dari wanita yang akan kita jadikan istri, dan ber-akad didepan para saksi, sejak saat itulah kalian, para pria bertanggungjawab atas istri kalian,"
"Begitupun untuk para istri, ketika telah menikah, saat itu suami kalian adalah jalan untuk menuju surga-Nya. Namun bukan berarti ketika surga istri ada pada ridha suami, dan surga suami tetap pada sang ibu, maka para suami bisa seenaknya memperlakukan istri-istri kalian,"
"Ingat apa yang disabdakan Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam dalam Hadits Riwayat Tirmidzi bahwa orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kamu adalah orang yang paling baik kepada istrinya,"
"Jadi sudah jelas disini, meski surga suami tetap pada ibunya, namun suami pun tidak akan pernah masuk surga apabila selama hidupnya tidak memuliakan istrinya, terlebih membahagiakannya."
***
Hati Aldair tercubit mendengar penjelasan tentang pernikahan oleh Ustadz Zahid. Dirinya termenung, mengorek kembali saat-saat dia tinggal bersama sang istri.
Aldair ingat, meski dia sudah tidak lagi bersikap acuh ketika bersama Arwaa. Tapi jelas terlihat ada kesedihan dalam mata istrinya kala itu.
"Al!"
Tepukan pada pundak membuat Aldair menoleh pada pria disebelahnya.
"Ya?"
Mehmet mengernyit kemudian menggeleng sambil tersenyum.
"Ayo keluar, kajiannya sudah selesai."
Aldair melongo mendengar itu.
Ah, dia benar-benar jatuh dalam lamunan penyesalan pada sang istri, sampai membuat dirinya tak sadar jika acara kajian sudah usai.
"Oh, kita tidak langsung kembali. Teman Naina biasa membawa roti dan kue-kue untuk dibagikan kepada jamaah, kita bantu bagikan dulu. Is that okay?"
Aldair hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi ucapan Mehmet. Lagipula siapa tahu dia bisa bertemu istrinya disini.
***
Mehmet dan Aldair melangkah menuju stand-stand minimalis yang ada dihalaman Masjid. Disana ada beberapa orang yang membagikan berbagai macam makanan secara gratis.
Mehmet juga melihat seorang pria yang diketahui sebagai sepupu Arwaa membagikan roti dan kue-kue dari toko Bibi Claire, sedang adiknya sedang duduk dikursi yang disediakan disana. Tapi dia tidak melihat wanita yang sejak tadi ingin ia temui.
"Assalamualaikum Nai," salam Mehmet.
Naina tersenyum geli melihat kakaknya yang seperti sedang mencari sesuatu.
Sedang Aldair menggendikkan bahunya ketika Naina melihat kearahnya. Dia pikir Naina bertanya kenapa kakaknya seperti itu.
"Hehehe," Naina terkekeh membuat sang kakak memandang aneh kearahnya.
"Ada apa denganmu? Oh dan kenapa Sean ada disini, kemana Ar..."
"Temanku ada dirumah kita kak. Tadi dia tiba-tiba merasa pusing dan mual, jadi Amma membawanya kerumah. Aku disini menunggu kakak karena tahu kakak pasti akan mencari temanku itu."
Berbeda dengan Naina yang terlihat sedikit menggoda kakaknya. Ekspresi Mehmet justru terlihat sangat terkejut dan panik ketika mendengar kabar dari adiknya.
"Kakak akan pulang dan meli..."
"No! No! No! No!"
Naina seketika menahan tangan kakaknya yang akan beranjak pergi.
"Kakak dan Mr. Aldair tetap disini dan bantu Sean membagikan roti. Aku akan pulang dan menjaga calon iparku dirumah. Kakak bisa menengoknya ketika sudah selesai!"
Naina menepuk pundak kakaknya dan mengangguk sambil tersenyum pada Aldair, merasa tak enak karena sudah memintanya membagikan roti dan kue.
Sedang Mehmet, dia menatap tak percaya pada adiknya yang semakin menjauh dari pandangan matanya.
"Maaf tentang adikku."
Mehmet menggaruk tengkuknya merasa tak enak pada Aldair.
"Tidak apa-apa. Aku senang jika bisa membantu," ujar Aldair tersenyum.
"Ya sudah. Ayo!"
Meraka pun membantu Sean sesudah perkenalan singkat antara Sean dengan Aldair.
***
__ADS_1
"Ini minum dulu air hangatnya."
Arwaa tersenyum dan menyerima gelas yang diberikan oleh wanita baya yang masih terlihat cantik padahal usianya sudah tidak muda lagi.
"Jazakillah khairan dan maaf sudah merepotkan Amma," ucap Arwaa tulus.
Amma mengelus kepala Arwaa yang ditutupi hijab, membuat Arwaa memejamkan mata sejenak, menikmati lembutnya tangan seorang ibu.
Haa... Dia rindu ibu dan ayahnya.
"Aamiin. Kamu juga tidak perlu minta maaf karena kamu sudah seperti putri Amma sendiri."
Arwaa mengangguk dan menyesap air hangat membuat tubuhnya merasa lebih baik.
"Kamu sakit apa nak? Naina bilang hampir 2 minggu kamu seperti ini."
"Hanya maag dan anemia saja Amma. Salahku juga sebenarnya, cuaca disini dingin jadi membuatku suka makan makanan pedas hehe."
Amma menggelengkan kepalanya.
"Mm... Mm... Mm... Kamu ini lain kali tidak boleh seperti itu. Jika memang tubuhmu belum terbiasa dengan cuaca disini, hangatkan dengan meminum minuman jahe, InshaAllah itu akan lebih baik dari pada mengkonsumsi makanan pedas. Apalagi jika sampai seperti ini, jatuhnya kan jadi mendzolimi sendiri sayang."
Arwaa tersenyum mendengar teguran Amma.
"Iya Amma, InshaAllah tidak akan seperti ini lagi."
"Assalamu'alaikum Amma, Arwaa."
Naina muncul dari balik pintu melangkah menuju ranjang, tempat Arwaa terbaring.
"Wa'alaikumsalam," jawab Arwaa dan Amma.
Naina mengambil tangan sang ibu dan menciumnya, sebelum duduk disamping Arwaa, dan tersenyum.
"Kenapa?" Tanya Arwaa merasa aneh dengan tingkah temannya itu.
"Tahu tidak, kak Mehmet hampir saja mau langsung kemari saat mendengar kabar tentang temanku ini," goda Naina membuat Amma terkekeh sedang Arwaa tersenyum kecil.
"Bagaimana roti dan kuenya? Tanya Arwaa mengalihkan pembicaraan.
Terlihat jelas bahwa Arwaa tidak nyaman ketika keluarga Naina selalu menjodoh-jodohkan dirinya dengan Mehmet.
Tidak, bukan karena dia tidak menyukai kakak dari temannya itu. Lagipula siapa yang tak akan jatuh hati pada pria seperti Mehmet. Pria yang baik, penuh tanggungjawab, menyayangi keluarganya, dan juga sholeh.
Astaghfirullah al adzim...
Entah keberapa kalinya Arwaa beristighfar menghilangkan perasaan yang tidak seharusnya ada. Bagaimanapun juga status dirinya belum jelas karena dia tidak tahu apakah suaminya, yang berada nun jauh di negara tercintanya, sudah menceraikan dia atau belum.
Sebenarnya Arwaa sendiri selalu ingin menanyakan tentang hal ini pada keluarga sang suami hanya saja tak pernah terlaksana karena perasaan ragu yang tiba-tiba memenuhi relung hatinya.
"Oh Amma kebawah dulu ya, mau menyiapkan makanan untuk Abba, dan yang lainnya. Naina temanilah Arwaa disini."
"Iya Amma,"
Naina mengangguk sebelum kembali memfokuskan dirinya pada Arwaa ketika Amma sudah keluar.
"Kenapa?" Tanya Arwaa gugup karena temannya itu.
"Arwaa kamu tidak menyukai kakak ku ya?"
"Ee... eh, kenapa bicara begitu?"
"Feeling saja. Habis kamu selalu mengalihkan pembicaraan setiap membahas tentang kak Mehmet. Lagipula sepertinya kamu juga menyadari perasaan kakakku padamu kan."
Arwaa menghela nafas lalu tersenyum kecut.
"Maafkan aku jika aku mengecewakan keluargamu. Tapi keadaan ku saat ini tidak memungkinkan untuk memikirkan perasaan pria lain."
"Apa maksudmu Arwaa?"
"Aku sudah meni..."
"She is married!"
Tubuh Arwaa menegang mendengar suara bariton yang familiar baginya.
Perlahan dia menoleh kearah pintu dan mendapati sosok pria yang selama ini selalu membayangi dirinya.
"Mas Genta..."
__ADS_1
🍂🍂🍂
Jangan lupa untuk support aku dengan like, comment, dan vote cerita ini ya. Terimakasih ♥️