
Suasana sarapan di meja makan keluarga Arsawijaya pagi ini begitu tenang, hanya ada Pak Ahmad, Bu Hayya, Attalaric, Hanna, dan Arwaa disana. Sesekali terdengar celotehan riang Hanna pada wanita yang telah dianggapnya ibu.
"Bunda nanti temani Hanna main ke taman ya."
"Iya sayang."
Gadis kecil itu terlihat bahagia dengan keberadaan Arwaa, dia bahkan tidak memperdulikan ayahnya yang duduk dihadapannya. Padahal jarang sekali ayahnya itu pulang ke Indonesia tapi sekalinya ia datang, malah diabaikan oleh sang anak.
Haa...
Mungkin ini karmanya juga karena secara dia tidak pernah memberikan kasih sayang pada Hanna sejak dia masih bayi. Namun setidaknya saat ini Attalaric bahagia mengetahui ada sosok wanita yang juga menyayangi anaknya dengan tulus.
Seandainya... Ah, tidak!
Attalaric menggelengkan kepalanya tiba-tiba membuat semua orang yang ada dimeja makan menatapnya bingung.
"Kamu kenapa Atta?" Pak Ahmad mengernyit melihat tingkah aneh putra sulungnya.
"Eh tidak apa-apa ayah. Hanya sedikit pusing."
Attalaric mencoba bersikap tenang, tidak ingin kehilangan image dihadapan adik iparnya, walau sejujurnya dia sudah ingin bersembunyi di lubang tikus karena malu. Benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa dia membayangkan jika dirinya bertemu dengan Arwaa lebih dulu, pasti wanita manis itu sudah menjadi ibu sambung Hanna.
Maafkan kakakmu ini Al...
Bisiknya dalam hati.
"Oh iya sayang, apa Aldair memberitahumu kapan dia akan pulang?" Tanya Bu Hayya membuat Arwaa terdiam namun sedetik kemudian dia tersenyum.
"Mas Genta tidak akan pulang kesini Bu, katanya dia akan langsung pulang kerumahnya ketika urusan dikantor selesai."
Arwaa menunduk berpura-pura menyuapi Hanna yang ada disampingnya. Padahal rasa bersalah terus menggerogoti hatinya.
Entah sampai kapan dia harus berbohong demi Aldair yang bahkan Arwaa tak yakin jika suaminya itu menganggap dirinya sebagai seorang istri.
"Memang perusahaan kita sedang ada masalah apa sih yah, sampai-sampai waktu akhir pekan Al pun harus dihabiskan disana. Bukannya ayah dapat informasi tentang semua hal yang terjadi di perusahaan." Celetuk Bu Hayya.
Arwaa langsung menoleh kearah ayah mertuanya begitu ia mendengar apa yang Bu Hayya katakan. Namun ia langsung mengalihkan pandangannya ketika mendapati sang ayah mertua sedang memperhatikannya.
Keringat dingin terasa mengalir dibalik hijabnya, bersamaan dengan ritme jantung yang kian meningkat. Jika ayah mertuanya itu mendapatkan informasi tentang semua yang terjadi di perusahaan, berarti selama ini dia juga mengetahui jika Arwaa telah berbohong.
"Hanya masalah kecil Bu, Al pasti menyelesaikannya dengan cepat. Tenanglah, ayah akan menghubungi anak itu nanti agar kembali kesini."
Arwaa terdiam mendengar itu, dengan hati berdebar ia mencoba melihat kearah ayah mertuanya dan mendapati ayah dari suaminya itu telah kembali makan.
Meski begitu hatinya tidak merasa tenang sama sekali, karena ia yakin cepat atau lambat rahasia rumahtangganya akan segera diketahui oleh keluarga suaminya itu.
"Oh iya Arwaa nanti setelah makan, bisa temui ayah diruang kerja sebentar? Ada yang ingin ayah titipkan untuk suamimu." Ucap Pak Ahmad.
"Iya ayah." Arwaa mengangguk mengerti meski ia sebenarnya tidak ingin.
***
"Tolong berikan ini pada suamimu nanti."
Pak Ahmad memberikan sebuah map berisi beberapa dokumen.
"Iya ayah." Arwaa mengangguk. Entah apa isinya, mungkin hanya dokumen yang berhubungan dengan perusahaan.
Arwaa melihat ayah mertuanya mendudukkan diri di kursi kerjanya, dengan menatap kearah Arwaa.
__ADS_1
Dia menelan ludah. Perasaannya sudah tidak enak sejak sarapan pagi tadi. Pasti ayah mertuanya ingin membicarakan tentang keadaan rumahtangga anaknya.
"Apa kalian sedang ada masalah?"
Suara pak Ahmad terdengar dingin kali ini membuat Arwaa menunduk, enggan melihat kearahnya. Berharap ayah mertuanya itu tidak menangkap kebohongan dari dirinya, karena mata adalah jendela hati, right?
"Tidak ada ayah, kami baik-baik saja."
Arwaa mencoba mengontrol hatinya. Perlahan ia membalas tatapan ayah mertuanya dengan tersenyum lembut, tapi hal itu tidak membuat pak Ahmad menjadi lebih baik.
Pak Ahmad menghembuskan nafas berat dengan memijat keningnya, ia kembali menatap menantunya lagi namun dengan tatapan yang lebih tenang.
"Jika tidak ada masalah apapun, lalu kenapa kamu berbohong tentang Aldair, seakan-akan kamu ingin melindungi suamimu. Dan ini bukan pertama kalinya kamu berbohong pada kami tentang anak itu, menantuku."
Arwaa tersenyum kecut, meski ditekan seperti apapun dia tidak akan membuka aib Aldair walau pada orangtua suaminya itu sendiri.
"Maafkan aku ayah karena telah berbohong selama ini. Bukannya tidak ingin memberitahu tentang apa yang sedang terjadi dalam rumahtangga kami, hanya saja bukan tempat ku untuk memberitahukan hal ini pada ayah dan ibu..."
Arwaa terdiam sejenak dan kemudian tersenyum.
"Ayah tenang saja, cepat atau lambat mas Genta pasti akan memberitahukan hal ini pada semuanya."
Pak Ahmad hanya menghela nafas mendengar jawaban menantunya itu.
***
"Bundaa..."
Arwaa berjengit ketika mendapati Hanna memeluk pinggangnya tiba-tiba.
"Eh sayang, maaf ya pasti nungguin bunda." Arwaa mengelus sayang rambut Hanna.
"Gak apa-apa kok Bun, lagian tadi Hanna main dulu sama Daddy." Jawabnya sambil tersenyum riang.
"Hanna tunggu dibawah aja bun sama Daddy, nanti bunda nyusul ya."
Gadis kecil itu berjalan riang menuruni tangga membuat Arwaa menggelengkan kepalanya, dan tersenyum melihatnya.
Haa...
Arwaa menghembuskan nafas lelah. Ia memegang perut rampingnya tanpa sadar, namun sejurus kemudian ia tersenyum miris.
"Bagaimana mau punya anak, kalau suamiku saja tidak pernah menyentuhku." Gumamnya pelan.
Arwaa menuruni tangga, terkekeh geli melihat Hanna yang tidak bisa diam digendongan ayahnya. Gadis kecil itu pun turun dan berlari kearahnya.
"Hati-hati sayang nanti jatuh."
Arwaa menangkap tubuh Hanna yang berhambur memeluknya.
"Hehe maaf bunda, habis Hanna sudah tidak sabar ingin ketaman dengan bunda dan Daddy."
Arwaa mengernyit mendengar itu.
Bersama mas Atta ya. Aduh pasti akan canggung.
Arwaa jarang sekali pergi berduaan bersama pria, bahkan dengan suaminya pun baru beberapa bulan terakhir saja dia bisa menghabiskan waktu bersama.
Tapi bagaimana juga dia sudah berjanji pada Hanna, apalagi sepertinya ini pertama kalinya anak itu bisa pergi bersama ayahnya. Arwaa melihat kearah Attalaric, pria itu hanya menggaruk kepalanya tak gatal sambil mengatakan sesuatu.
__ADS_1
"Maaf!" Gumam pria itu tanpa suara.
Arwaa pun hanya tersenyum dan mengangguk, tanpa mempermasalahkan hal itu.
"Ya sudah yuk kita pergi." Ajak Arwaa menggenggam tangan kecil Arwaa.
"Okay, ayo daddy."
Hanna membawa Arwaa berjalan kearah Attalaric dan dia menggenggam tangan sang ayah dengan tangan yang satunya. Suasana canggung sempat muncul beberapa saat diantara Attalaric dan Arwaa namun sejurus kemudian tangan mereka berdua ditarik oleh Hanna.
"Kakek, nenek, Hanna pergi ke taman dulu dengan Daddy dan bunda ya. Assalamu'alaikum."
Anak kecil itu terlihat begitu bahagia dengan dua orang dewasa disisinya. Bu Hayya tersenyum haru melihat cucunya itu senang sedangkan pak Ahmad hanya memandang kepergian ketiga sosok yang disayanginya dengan tatapan mata yang tidak dapat dimengerti oleh siapapun.
"Mereka terlihat seperti keluarga bahagia ya yah. Jika saja Attalaric tidak di Amerika, kita pasti akan menjodohkan Arwaa dengannya waktu itu, lihatlah Hanna bahkan sangat menyayangi Arwaa. Iyakan yah?"
"Insha Allah Bu kalau mereka jodoh."
Auw!
Bu Hayya mencubit lengan pak Ahmad kesal dengan apa yang dikatakan suaminya itu.
"Ayah ini apa maksudnya bicara begitu?"
"Loh kok ibu jadi marah sih, kan tadi ibu yang bilang kalau Arwaa dan Atta terlihat cocok."
"Iya... Tapi maksudnya bukan seperti itu, lagipula Arwaa dengan Al pun sama-sama terlihat cocok."
Bu Hayya mendelik kesal pada suaminya dan berjalan menaiki tangga, sedangkan pak Ahmad hanya menggelengkan kepalanya dan terkekeh geli melihat tingkah istrinya itu.
"Siapa yang tahu Bu..." Gumam pak Ahmad memperhatikan punggung istrinya yang kian menjauh.
***
Terlihat Attalaric dan Arwaa tengah duduk di bangku taman memperhatikan Hanna yang sedang bermain bersama teman-teman sebayanya.
Hanya ada keheningan diantara keduanya, sebelum Attalaric memutuskan untuk memulai pembicaraan dengan adik iparnya itu.
"Maaf ya Hanna pasti selalu merepotkanmu."
Arwaa menoleh sejenak sebelum kembali mengalihkan pandangannya pada Hanna. Dia tersenyum dan menggeleng.
"Tidak ko, um... mas, hehe lagipula Hanna anak yang manis, ditambah aku juga menyayanginya."
Attalaric tersenyum mendengar jawaban Arwaa. Hal itu semakin membuatnya ingin menjadikan wanita itu sebagai ibu sambung anaknya. Tapi sekali lagi dia menghela nafas panjang karena hal itu tidak mungkin terjadi, mengetahui wanita disisinya ini adalah istri Aldair, adiknya.
"Oh iya, mas Arrazi kemana ya, setelah makan siang kemarin mas Arrazi tidak kelihatan dirumah?" Tanya Arwaa penasaran, karena memang sejak kemarin siang dia tidak melihat adik dari suaminya itu.
"Dia langsung pergi ke rumahsakit untuk mengurus kepindahannya, dia akan berkerja dirumahsakit Medika sekarang."
Arwaa mengangguk mendengarnya dan ia tersenyum melihat Hanna yang berjalan kearah mereka.
"Bunda, Daddy ayo pulang, Hanna ngantuk." Ucapnya sambil menggisik matanya.
"Ya sudah ayo, Daddy gendong."
Hanna pun meletakkan kepalanya di pundak sang ayah, mulai terlelap. Arwaa tersenyum manis dan mengelus rambut Hanna lembut.
Mirisnya orang-orang yang melihat ketiga orang itu pasti berpikir jika mereka adalah keluarga sungguhan. Walau pada kenyataannya mereka hanya sekedar ipar saja.
__ADS_1
🍂🍂🍂
Jangan lupa untuk support aku dengan like, comment, dan vote cerita ini ya. Terimakasih ♥️