Pengantin Yang Terbuang

Pengantin Yang Terbuang
Extra Part 1 (Aldair-Fani)


__ADS_3

"Dik, besok Ibu suruh kita menginap di sana."


Fani menghentikan kegiatan mencuci piringnya.


Sepasang tangan milik Aldair memeluknya dari belakang, "Kalau kamu tidak mau. Mas bisa beritahu pada Ibu," ucap Aldair melihat kegusaran di wajah istrinya.


Fani menghela nafasnya, "Tidak perlu Mas, kita menginap saja di sana. Ibu dan Ayah juga pasti merindukanmu," jawab Fani sambil membersihkan tangannya dari sisa busa.


Ia melepaskan tangan Aldair dan berbalik, menatap wajah sendu suaminya.


"Adik baik-baik saja Mas."


Fani memegang pipi Aldair, meyakinkan pria itu.


"Maaf jika Mas menempatkanmu di posisi yang sulit."


Aldair merengkuh Fani ke dalam pelukannya. Perasaan bersalah semakin besar dalam hatinya ketika merasakan tubuh istrinya bergetar menahan tangis.


"Maaf."


***


Aldair menatap wajah polos Fani yang sedang tertidur. Tanpa sadar air matanya menetes mengingat kesakitan istrinya yang disebabkan oleh keluarganya. Meski Fani senantiasa mengatakan jika dirinya baik-baik saja. Tapi mata wanita itu tidak bisa berbohong.


Entah sudah yang keberapa kalinya Aldair menghela nafas. Sekarang ia memandang langit-langit kamarnya. Seperti yang sudah ia bicarakan dengan istrinya sebelum tidur, jika besok mereka akan menginap di rumah orangtuanya.


Aldair memang merindukan Ibu dan Ayahnya, tapi tiap kali harus membawa Fani ke rumah mereka rasanya tak sampai hati jika harus melihat perlakuan dingin anggota keluarganya terhadap Fani. Hanya satu orang yang selalu ramah dan hangat pada istrinya. Siapa lagi kalau bukan Arwaa.


Dirinya ingat ketika waktu itu meminta restu pada kedua orangtuanya untuk menikah. Tentu mereka senang, menyambutnya penuh haru dan suka. Pikirnya pasti sudah ada yang bisa menggantikan posisi Arwaa di hati Aldair.


Namun kenyataan tak seindah ekspetasi. Ketika Aldair memberitahu jika wanita yang akan ia nikahi adalah Fani, kedua orangtuanya sontak terdiam dan menatap nyalang ke arahnya.

__ADS_1


Ia ingat ketika Ibunya mulai menangis karena hal itu, "Ya Allah Al, kamu ingin membawa wanita itu untuk menghancurkan kehidupanmu lagi? Tidakkah kamu sadar jika dia sudah membuatmu terjebak dalam nafsu syaitan, sampai kamu hampir kehilangan semuanya?!"


Aldair menatap nanar mata Ibunya. Ia sadar apa yang diucapkan oleh Ibunya adalah kenyataan, tapi sepertinya satu yang mereka lupa atau bahkan tak tahu. Jika dirinya-lah yang telah memaksa Fani untuk tetap bertahan dengannya waktu itu, dan meminta Fani untuk mempertahankannya dengan janji-janji manis yang bahkan belum pernah ia tepati.


Apa yang telah terjadi, tidak semuanya murni salah wanita yang pernah ia cintai.


"Bu, Fani sudah berubah Bu. Dia sudah berhijrah, bahkan sekarang dia menutup auratnya dengan sempurna. Dia juga selalu menjaga jarak dengan pria yang bukan mahramnya."


"Dari mana kau pasti akan hal itu?" Sela Ayah Aldair menatapnya tajam.


"Aku selalu memperhatikannya dari jauh... Aku menguntitnya."


Aldair menundukkan kepalanya, tak berani melihat wajah kedua orangtuanya.


"Jangan bilang kau sudah lama melakukannya? Hah, benar-benar buang waktu saja," dengus Pak Ahmad sontak membuat Aldair mendongak.


"Yah sumpah demi Allah, dia sudah berubah. Dia sudah menyesali perbuatannya. Dia bahkan memintaku untuk mempertemukannya dengan Arwaa ketika pertama kali kami bertemu dengan tidak sengaja di Supermarket. Dia ingin meminta maaf. Dia tulus mengatakan itu Yah, Bu. Aku bisa melihatnya," tukas Aldair tak suka dengan ucapan Ayahnya.


"Semudah itu kamu melihat ketulusan di matanya, tapi kamu begitu sulit bahkan tak bisa melihat ketulusan di mata Arwaa ketika dia menjadi istri..."


Pak Ahmad sontak berdiri dan menatap tajam Aldair, "Lihatlah! Belum ia menjadi istrimu, tapi sudah sampai bisa membuat kamu membentak Ibumu sendiri!!"


Aldair menatap nanar keduanya, "Ini bukan karena Fani Yah. Aku hanya tidak suka jika semuanya selalu disangkutpautkan dengan Arwaa. Dia bukan lagi istriku Yah, Bu. Dia istri Attalaric sekarang,"


"Kesalahanku padanya adalah masa lalu. Tidak pantas jika harus membicarakannya lagi ketika aku ingin memulai masa depanku tanpanya. Ayah dan Ibu tahu sendiri, bagaimana penyesalanku atas semua yang terjadi. Tapi tidakkah Ayah dan Ibu juga melihat bagaimana Arwaa begitu mudah memaafkanku?"


"Asal Ayah dan Ibu tahu saja. Aku sudah membawa Fani bertemu dengan Arwaa di rumahnya, dan Arwaa menyambutnya dengan baik, tanpa ada rasa benci dan dendam di matanya,"


"Ketulusan? Itu yang ingin Ibu tahu bukan? Ya, aku bisa. Aku bisa melihat ketulusan yang terpancar dari mata istri Kakakku itu. Mungkin terlambat, tapi sekarang aku dapat mengerti dan menerima jika Arwaa bukan diciptakan untukku karena ketulusannya. She deserves better. Dan yang pantas bersanding dan membahagiakannya adalah Kakakku, Attalaric."


Pipi Aldair sudah dibasahi oleh air matanya yang entah sejak kapan mengalir.

__ADS_1


"Arwaa bahkan sudah memberikan restunya untukku menikah dengan Fani,"


"Allah memberikanku kesempatan kedua untuk menjadi lebih baik adalah bersama Fani Yah, Bu. Kami berdua sedang bersama-sama memperbaiki diri karena itulah aku membutuhkannya untuk menemaniku dalam menapaki jalan hijrah yang tak mudah ini."


Pak Ahmad dan Bu Hayya menatap putra keduanya dengan ekspresi wajah yang berbeda. Ada sendu di mata sang ibu, sedang Pak Ahmad, menatap Aldair datar.


"Silahkan. Menikahlah dengannya, tapi jangan berharap Ayah dan Ibu akan menghadiri pernikahan kalian," ucap Pak Ahmad yang langsung menarik Bu Hayya pergi, meninggalkan Aldair yang menatap nanar punggung orangtuanya.


Haa...


Mengingat kejadian itu membuat hati Aldair dapat merasakan denyut sakitnya kembali. Meski pada akhirnya seluruh anggota keluarganya mendatangi pernikahannya dengan Fani. Tentu saja semua itu adalah karena bujukan Arwaa. Istri Kakaknya itu bahkan ikut sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Fani, dua orang yang pernah sangat menyakitinya.


"Maas?"


"Astaghfirullah!"


Aldair tersentak dan kembali pada kesadarannya begitu ia merasakan sapuan jemari lembut di pipinya.


"Mas nangis?" Tanya Fani yang tangannya sekarang tengah dipegang Aldair.


"Eh, maaf. Nggak dik. Mas cuma lagi insomnia saja."


Aldair melirik jam yang tertempel rapi di dinding kamarnya.


"Temani Mas sholat tahajjud ya," ajak Aldair yang langsung diangguki oleh Fani.


Sepasang suami-istri itu pun beranjak dan bergantian pergi wudhu. Mempersiapkan diri untuk bermunajat di sepertiga malam kepada Sang Pencipta.


Berharap selalu diberikan kesabaran atas dirinya dan juga istrinya dalam mengahadapi segala ujian. Baik itu dari keluarga, ataupun ujian di mana mereka belum kembali diberi momongan.


Allah memang Maha Adil. Ia memudahkan segalanya ketika mereka belum terikat halal, semata untuk memberikan sentilan dalam hidup agar kembali pada-Nya.

__ADS_1


Dan sekarang Aldair dan Fani pun menganggap mereka yang belum diberikan kepercayaan untuk mendapat anak lagi adalah untuk memotivasi mereka untuk berusaha memperbaiki diri dan memantaskan diri agar bisa menjadi orangtua yang baik. Yang memiliki bekal ilmu dunia akhirat.


***


__ADS_2