
Hampir satu hari penuh sejak kemarin aku sama sekali tidak keluar apartemen karena aku belum siap bertemu mereka yang sempat melihat auratku, walau tak sengaja.
Tak hentinya diri ini menyalahkan sendiri karena kecerobohan yang kadang selalu diperbuat tanpa sadar.
Paman Jhonny pun sudah berulangkali meminta maaf karena katanya kejadian waktu itu juga bisa dibilang salahnya yang tak bisa berhenti menjahili ku.
"Arwaa, I'm home."
Kegiatan membereskan berkas-berkas untuk keperluan administrasi kuliah terhenti dengan datangnya Paman Jhonny yang habis berbelanja dari supermarket.
Aku terkekeh melihat pria yang tahun ini akan berumur 46 itu kesulitan membawa barang belanjaan.
"Maaf Paman aku jadi merepotkan," ujarku sambil berniat membawa beberapa kantong belanjaan ke dapur namun dihentikannya.
Memang aku memesan banyak sekali bahan-bahan untuk membuat kue karena aku berniat untuk membuat beberapa kue sebagai permintaan maaf pada para tetangga yang beberapa waktu lalu menyiapkan pesta sambutan untuk Paman dan juga aku.
Namun gagal karena kejadian yang tak disangka-sangka sehingga mereka menyelesaikan pesta itu lebih cepat karena ketidakhadiran ku.
"Kami membuat pesta sambutan ini untuk keponakanmu, bukan dirimu. Bosan sekali sebenarnya melihatmu lagi," ucap Paman sambil menirukan gaya bicara wanita karena katanya Emma-lah, tetangga sebelah kiri ku yang bicara seperti itu.
Paman bahkan sambil menggerutu kecil setelah mengatakan hal itu yang justru malah membuatku bisa melihat sedikit kebahagiaan di matanya ketika membicarakan tentang wanita yang umurnya 18 tahun lebih muda darinya.
Jadi penasaran aku hihihi
"Hei kamu kenapa senyum-senyum sendiri Arwaa? Sudah kemarikan belanjaannya biar Paman bawa sekalian ke dapur,"
"Meski tak muda lagi, tapi kekuatan Paman masih sekuat baja," sahut Paman menyadarkan ku dari lamunan tentangnya bersama tetangga sebelah membuatku terkekeh geli karena tingkat kepedeannya.
Well walaupun memang begitu kenyataannya sih karena aku tidak bisa menampik juga jika Paman Jhonny masih terlihat menarik di umurnya yang hampir kepala 5 itu.
Entah apa alasannya sehingga Kakak dari Alm Ibuku ini masih betah melajang hingga sekarang. Meski begitu aku harap dia tidak terbiasa dengan kehidupan yang suka bergonta-ganti wanita, seperti Seba yang dengan bangganya mengatakan hal itu, seakan itu adalah sebuah prestasi membuat diriku tak berhenti beristighfar saat pertama kali bertemu dengannya.
"Arwaa cepat, kenapa kamu masih disana? Paman sudah tidak sabar ingin menikmati kue buatanmu."
Sekali lagi aku berjengit, tersadar dari lamunanku tentang pria yang sudah ku anggap seperti ayahku sendiri.
"Apalah Paman ini. Aku kan buat kue untuk tetangga-tetangga kita. Bukan untuk Paman," candaku begitu memasuki area dapur.
"Aish dasar kau ini!"
Dengan cepat aku menghindari tangan Paman yang siap untuk mengacak-acak rambutku membuat kami kejar-kejaran sejenak. Walau akhirnya terhenti karena Paman menyerah, lelah katanya dengan nafas ngos-ngosan dan aku terkekeh geli melihatnya.
"Haha ya sudah kalau begitu Paman istirahat dulu, biar aku sendiri yang buat kue. Paman cukup menemaniku saja ketika mengantarkan kue-kue yang akan ku buat ini. Oke?" Tuturku yang hanya dibalas oleh tangan Paman yang membuat bentuk 👌.
***
"Paman apa benar tak akan apa-apa?" Tanyaku sedikit ragu ketika berada di depan pintu apartemen sebelah kiriku, Emma.
"Memangnya kenapa?"
"Ya, takut saja mereka menolak kue ini."
"Well, kita tak akan tahu jika tidak mencobanya."
Dengan santai Paman Jhonny menekan bel sambil menyapa sang pemilik apartemen lewat intercom.
Tak lama kemudian wanita berambut merah dengan kacamata yang membingkai wajahnya membuka pintu.
"Um... Halo Mis..."
"Wait!"
Belum sempat aku menyapa ia memotong ucapan ku membuat diri ini sedikit gugup.
"Panggil saja aku Emma hehe."
Aku menganga melihat Emma mengulurkan tangannya dengan senyum manis yang diberikannya.
Ku pikir ia akan memarahiku karena aku yang waktu itu tak hadir di pesta sambutan yang sudah mereka persiapkan, ternyata salah.
Suudzon aku jadinya.
Astaghfirullah.
"Oh... Yes, Emma. Ini aku bawakan kue sebagai permintaan maaf ku karena tidak hadir di pesta sambutan kalian," ucapku menyesal.
"It's okay, aku mengerti. Justru kami malah khawatir ketika kamu memilih untuk berdiam di kamar. Kami pikir ada apa-apa karena wajahmu sangat pucat ketika melihat kami."
"Bukan begitu. Waktu itu aku pikir tidak ada orang di apartemen selain aku dan Paman Jhonny jadi aku keluar kamar tanpa mengenakan khimarku. Perasaanku campur aduk saat kalian melihat rambutku walau sebenarnya itu karena salahku juga."
"Tidak apa-apa kok. Lagipula senang sekali rasanya. Sudah lama aku tidak bertemu dengan teman-teman Muslim ku sejak masih menjadi relawan tenaga medis di Palestina,"
"Ayo masuklah dulu. Kita berbincang di dalam!"
Baru saja Emma akan menarik tanganku, namun terhenti oleh Paman Jhonny.
"No, no, no. Tidak sekarang sayangku, masih ada beberapa kue yang harus kami berikan untuk tetangga yang lain, kecuali jika kamu mau ikut serta menemani kami," jelas Paman Jhonny membuat Emma mencebik kesal sedang aku hanya tersenyum.
__ADS_1
Ada niat terselubung ternyata.
"Baiklah, aku ikut. Tunggu sebentar oke. Aku akan simpan kue menggiurkan ini dulu," jelasnya melempar senyum padaku namun berganti menjadi delikan tajam pada Paman Jhonny membuatku ingin tertawa keras karena hal itu.
"Apa-apaan dia?!" Sungut Paman kesal saat Emma masuk kedalam apartemennya.
"Move out!!" [Minggir!!]
Emma menyenggol Paman Jhonny begitu ia keluar dari apartemen membuat pria itu berdecak.
"Ayo Arwaa," ucap Emma mengamit lenganku.
Aku harap bisa menjadi teman baik dengannya.
***
"Mau diberikan ke siapa dulu kue ini?" Tanya Emma.
"Um... Seba?"
"NO!!" Seru Paman dan Emma bersamaan membuatku terkejut.
"Ke... Kenapa?"
"Kue untuk Seba biar Paman saja yang berikan nanti. Lagipula saat ini dia pasti sedang bekerja. Untuk sekarang kita berikan saja dulu kuenya untuk yang lain," jelas Paman Jhonny yang diangguki Emma.
Dengan ragu aku pun ikut saja walau sebenarnya sedikit aneh, serasa mereka tak ingin aku bertemu Seba.
Ada apa sebenarnya?
"Baiklah," jawabku seadanya.
***
"Wah enak sekali rasanya," celetuk Emma yang dihadiahi cubitan kecil di pinggangnya oleh Susan, penghuni apartemen depan apartemen Emma.
Kami memilih memberikan kue selanjutnya pada Susan karena berdasarkan informasi dari Emma, Eric, penghuni apartemen depan apartemen Seba sedang bekerja saat ini.
"Bukannya kau sudah dapat, kenapa makan punyaku," kecut Susan.
Dengan sebal ia menjauhkan kue pemberianku dari jangkauan Emma.
"Ei jangan pelit Susan, nanti susah jodoh."
"Susah jodoh bagaimana. Orang aku sudah mendapat jodohku. Memangnya kau dan pria tua itu," ledek Susan membuat Paman Jhonny yang sebelumnya memejamkan mata di sebelahku sontak terbangun.
"Kenapa? Bukannya memang benar," celetuk Emma membuat Susan terkekeh sedang Paman Jhonny mendelik.
"Kau salah. Aku punya pasangan," ungkap Paman Jhonny membuat kami bertiga menoleh menatap penasaran padanya.
"Siapa Paman? Stella?" Tanyaku sedang Paman menatap tak percaya padaku.
"Kau bercanda Arwaa. Yang benar saja hah!"
"Eh kau sudah bertemu Stella?" Tanya Emma.
"Iya, saat pertama kali datang kemari."
"Wah amazing. Lalu, apa dia berkenalan denganmu?" Tanya Emma antusias membuatku mengerutkan kening.
"No. Tapi dia hampir ingin menyerang Arwaa," celetuk Paman Jhonny.
"WHAAT?!"
Emma dan Susan terpekik mendengarnya.
"Kau tidak apa-apa kan?" Tanya Susan menatapku khawatir sedang Emma terus menggerutu menyumpahi Stella.
Entah apa yang sebenarnya terjadi antara orang-orang disini dengan wanita bernama Stella. Tapi sepertinya dia tidak terlalu disambut baik disini.
"Aku tidak apa-apa..."
"Ya karena saking lelahnya Arwaa justru berbalik melempar koper agar perdebatan ku dengan wanita itu terhenti, dan bagusnya itu berhasil. Dia bahkan berani menyingkirkan Stella dari pintu apartemen. Hebat sekali bukan keponakanku ini?!" Jelas Paman Jhonny menepuk kepalaku.
"Aish apa-apaan Paman ini."
Aku menghentikan tangannya, malu. Sedang Paman hanya terkekeh menanggapi.
"Benar-benar ya dia, sangat tidak tahu malu. Aku bahkan masih ingat ketika si ****** itu mengamuk di rumahsakit tempat ku bekerja."
"Why?" Tanyaku heran.
"Dia pikir Pamanmu itu memutuskannya karena menjalin hubungan denganku, hanya karena dia tak sengaja melihat kami berdua masuk bersamaan ke gedung apartemen. Gila bukan?"
Aku menganga tak percaya akan penjelasan Emma sedang Paman hanya menghela nafas. Mungkin dirinya jengah mengingat-ingat lagi kejadian itu.
"Aku dengan suamiku, Tommy, bahkan heran dimana kamu bisa mengenal wanita itu Jhon," ujar Susan.
__ADS_1
Paman Jhonny mengusap wajahnya.
"Can we not talking about that woman?" [Bisakah kita tidak membicarakan wanita itu?]
"Kenapa? Dia kan masa lalumu,mungkin saja ingin sedikit mengenang tentangnya," sindir Emma menyeringai dan mendapat dengusan sebal Paman Jhonny.
'Ting Tong'
Kamu berempat menoleh kearah pintu masuk begitu bel berbunyi.
"Suamimu?" Tanya Paman memastikan yang dijawab gelengan oleh Susan.
"Nope. Tommy baru akan pulang sore nanti. Ada banyak yang membooking studio hari ini," jelasnya.
Pasangan suami-isteri tersebut memang memiliki studio musik di pusat kota.
"Biar aku lihat dulu," lanjutnya lagi beranjak dari sofa dan pergi menuju pintu.
"Mungkinkah itu Stella?" Sahut Emma dengan ekspresi yang dibuat seperti ketakutan.
"Gila kau!" Ketus Paman membuatku dan Emma terkekeh.
"Ayo masuk!"
Suara Susan membuat kami menoleh kembali kearah pintu masuk.
Wanita yang memiliki tatto kupu-kupu di pundaknya itu masuk bersama seorang pria berambut coklat.
"Oh Eric kau kemari. Ada apa?" Cecar Emma begitu mereka mendekat membuat pria bernama Eric itu berdecak.
"Why? Aku tidak butuh izinmu untuk datang kemari kan," ketusnya sambil berjalan menuju sofa kosong sebelah Paman sedang Susan pergi ke dapur sambil membawa sekantong yang isinya entah apa itu
"Sombong sekali kau! Aku kan hanya main-main."
Emma melemparkan cemilan asin pada Eric namun berhasil dihindarinya membuat wanita berambut kemerahan itu berdecak kesal.
"Sudah pulang jam segini?" Tanya Paman.
"Iya hanya setengah hari restoran dibuka karena ada yang menyewa restoran nanti malam," jawab Eric datar.
Aku berjengit begitu mata kami bertemu namun langsung aku mengangguk tanda menyapa.
"Keponakanmu?" Tanyanya sambil terus menatap ku membuat aku sedikit risih.
"Iya dan berhentilah menatapnya seperti itu," ujar Paman sedang Eric hanya menggendikkan bahunya menanggapi.
"Hallo aku Arwaa," ucapku memperkenalkan diri.
"Eric," jawabnya.
"Oh aku minta maaf karena waktu itu memegangmu," jelasnya lagi membuatku mengerutkan kening.
Ah sepertinya dia yang menahanku untuk tidak jatuh waktu itu.
"Ti... Tidak, aku justru yang minta maaf karena kecerobohan ku sendiri malah hampir jatuh jadinya," ringisku tak enak.
"Tak masalah," jawabnya singkat.
Dengan cepat aku mengalihkan pandanganku darinya karena pria itu terus saja menatapku membuat diri ini tak nyaman.
"Sudah ku bilang berhenti menatapnya!"
Paman Jhonny mengacak-acak rambut Eric membuat pria itu mendelik kesal kearahnya.
"Berhentilah. Aku hanya mengagumi kecantikannya," celetuk Eric membuatku terkejut bukan main.
"HEY!"
Eric terpekik begitu Paman Jhonny mencoba mengunci lehernya.
"Sudah-sudah. Jangan ribut disini. Ayo lebih baik kita makan lasagna buatan chef Eric ini," ujar Susan menghampiri kami sambil membawa nampan makanan membuat Paman Jhonny melepaskan Eric.
"Kau ini, seharusnya senang ada yang mengagumi keponakanmu," dengus Eric yang dihadiahi lemparan sendok oleh Emma.
"Argh!" Ringkasnya karena sendok itu pas terkena keningnya.
"Heh dengar ya Eric. Arwaa ini seorang Muslim jadi tak sembarang orang yang boleh menatapnya seperti itu. Sudah jelas yang kau lakukan tadi akan membuatnya tak nyaman," ujar Emma.
"Tahu apa kau tentang itu?" Decak Eric.
"Kau lupa, aku hampir 3 tahun menjadi relawan di negara bermayoritas Muslim. Jadi tentu saja aku tahu, jika hanya suami dan keluarganya saja yang boleh menatap lama seorang wanita Muslim."
"Kalau begitu aku akan menjadi suaminya."
Semua orang yang berada disini terbelalak dengan ucapan Eric.
Sama halnya denganku, begitu terkejut karena tak mengerti apa maksud Eric bicara seperti itu.
__ADS_1
***