
"Marius aku..."
"ARWAAA!!!"
Baru Arwaa hendak menjawab Marius, teriakan seorang gadis yang memanggil dia, menghentikannya, dan membuat dua orang yang tengah duduk di kursi taman itu menolehkan pandangan mereka ke arah suara.
"Mashaallah Naina..."
Arwaa beranjak dan langsung berjalan cepat ke arah sahabatnya yang hampir beberapa bulan ini tak bertemu semenjak dirinya pindah ke Calgary.
Mengabaikan Marius yang menatapnya tak percaya karena ditinggalkan begitu saja. Bukan tanpa alasan sih, Arwaa memang sengaja melakukan itu. Sekalian mengalihkan pembicaraan Marius yang mengajaknya berkencan.
Ayolah, Arwaa tak mau menambah musuh di sini. Belum Eric yang berubah sinis padanya karena ajakan kencan pria itu Arwaa tolak. Sekarang, tak mungkin kan kalau sampai persahabatannya dengan Grace merenggang karena dia menolak ajakan kencan sepupunya.
Arwaa dan Naina saling berpelukan erat, melepas rindu masing-masing setelah lama tak bersua.
"Ya Allah, kenapa tidak mengabariku dulu kalau kalian mau ke sini?"
Arwaa memegang tangan Naina, dan sesekali memandang ke belakang gadis itu. Ada Mehmet di sana, menyunggingkan senyumnya.
"Iya tadinya hanya Kakak yang akan ke Alberta karena mau ada pertemuan dengan temannya dia bilang. Mendengar itu aku jadi ingin ikut, karena dekat dengan tempatmu. Lagipula aku sudah sangat rindu," tutur Naina gemas sambil langsung kembali memeluk Arwaa membuat Arwaa merasa lucu sekaligus terharu.
Memang semenjak Arwaa pindah ke sini, Arwaa dan Naina jarang berkomunikasi karena kesibukan masing-masing dengan perkuliahan mereka.
Bahkan pernah ketika mereka sedang melakukan video call, Arwaa dan Naina sama-sama tertidur dengan kamera yang memvideokan kegiatan tidur mereka. Terhenti saat Arwaa bangun hendak melakukan sholat tahajjud.
"Arwaa..."
"Eh!"
Pelukan Naina terlepas begitu Marius memanggil Arwaa dan berjalan ke arah mereka.
"Kenapa meninggalkanku begitu saja," decaknya kesal membuat Arwaa merasa tak enak pada Naina dan Mehmet.
Sedang Mehmet tak suka melihat itu sehingga dia berjalan maju mendekati Arwaa dan adiknya, berhadapan dengan pria berambut pirang tersebut.
"Siapa?" Tanya Mehmet tanpa melihat Arwaa karena dia terus menatap Marius penuh tanda tanya.
"Aku kekasihnya."
Mendengar pernyataan Marius sontak Mehmet dan Naina memandang ke arah Arwaa dengan tatapan yang tak Arwaa mengerti. Sedang Arwaa langsung menggeleng dan mengibaskan tangannya.
"Tidak. Bukan. Kami tidak punya hubungan apapun. Dia Marius, sepupu sahabatku yang tinggal di depan apartemenku," sergah Arwaa membuat Marius menatapnya tajam.
__ADS_1
"Hei!" Protes pria itu tak terima.
"Kenapa? Memang aku salah?"
"Bukankah tadi aku sudah mengajakmu berkencan," pungkas Marius.
"Tapi aku juga belum menjawabnya. Dan inilah jawaban itu," ucap Arwaa gelisah, khawatir Marius merasa tersinggung.
"Too bad, I don't take any rejection!" [Sayangnya, aku tidak menerima penolakan!] Desis Marius membuat Arwaa dan Naina tersentak mendengar jawaban Marius yang terkesan memaksa.
Mehmet yang melihat keterpojokkan dan ketidaknyamanan Arwaa karena hal itu pun memandang sengit Marius.
"Iya. Dan sayangnya juga, dia tidak memberimu pilihan."
Rahang Marius mengeras mendengar ucapan Mehmet. Seolah tertantang Marius semakin mendekatkan dirinya pada pria keturunan Turki itu, hingga hidung mancung mereka saling bersentuhan.
"Jangan ikut campur masalah kami, jika kau tak ingin terluka," geram Marius.
Mehmet sedikit memundurkan tubuhnya, tak suka dengan apa yang dilakukan pria berambut pirang di depannya.
"Tak masalah kalau memang harus terluka karena aku sudah berjanji akan melindunginya," balas Mehmet tenang namun matanya tetap memancarkan kilatan amarah pada Marius.
Melihat ketegangan antara Mehmet dan Marius, Arwaa pun segera maju dan memisahkan mereka. Tidak mau kalau sampai harus terjadi keributan hanya karena dirinya.
"Dia mengganggumu Arwaa," desis Mehmet.
"It's okay Kak. Aku bisa mengatasinya, jangan khawatir."
Arwaa memandang Mehmet dengan tatapan memohon agar dia tidak meladeni Marius dengan serius karena menurut Arwaa untuk menghadapi pria berambut pirang tersebut haruslah dengan kepala dingin, bukan malah sama-sama memakai emosi.
Bisa gawat kalau sampai terjadi perang dunia ke tiga nanti.
"Arwaa!"
Semua orang yang ada di sana menoleh pada gadis yang baru saja muncul, berjalan dengan riang ke arah Arwaa sampai dia sejenak terhenti.
Dengan kening berkerut ia memandang Arwaa dan tiga orang lainnya bingung karena ketegangan yang terlihat pada wajah mereka. Sedang Arwaa yang melihat kedatangan Grace bernafas lega, karena dengan adanya gadis itu, akan lebih mudah menjinakkan emosi Marius.
***
Sekarang mereka sedang berkumpul di ruang tengah apartemen Arwaa. Sebelumnya Grace sempat memaksa Marius untuk pulang dan menghentikan omong kosongnya yang terus meminta Arwaa berkencan dengan dirinya, tapi Marius menolak dengan alasan tak mau membiarkan Arwaa berdekatan dengan Mehmet.
Jadi di sinilah mereka, masih tetap dengan suasana yang menegangkan karena Marius. Pria itu terus saja menatap tajam Mehmet walaupun diacuhkan, bahkan sampai membuat Grace kesal sekaligus malu dengan tingkah sepupunya itu.
__ADS_1
"Hei jadi kamu Naina yang tinggal di Toronto itu ya. Arwaa sering bercerita tentangmu. Senang juga akhirnya bisa bertemu denganmu," ucap Grace mencairkan suasana.
"Hehe iya. Kamu Grace kan, Arwaa juga sering bercerita tentangmu melalui telepon. Terimakasih ya sudah berteman baik dengan Arwaa. Aku khawatir sekali anak ini sulit dapat teman di tempat barunya, tapi setelah dia bercerita tentangmu, aku jadi tenang," sahut Naina setelah mencolek pinggang Arwaa.
"Justru aku yang senang bisa berteman dengan Arwaa karena dia aku jadi bisa punya teman yang tulus menerimaku apa adanya. Aku harap kita juga bisa berteman."
Arwaa tersenyum tulus melihat keakraban Naina dan Grace.
"Tentu saja. Teman Arwaa temanku juga. Kita semua berteman sekaraang."
Naina memeluk Arwaa dan Grace sehingga mereka bertiga tertawa bersama menyisakan dua orang pria yang menatap kedekatan tiga perempuan di depannya dengan senyum yang sama-sama mengembang, sampai mereka tak sengaja saling menoleh, dan kembali memasang tampang datarnya.
Dasar ego pria.
"Oiya Arwaa, ada yang menitipkan pesan untukmu," celetuk Mehmet membuat semua yang berada di situ menatapnya, termasuk Arwaa yang mengangkat sebelah alisnya.
"Siapa?" Tanya Arwaa.
Mehmet menatap adiknya sesaat dan menghela nafas berat sebelum kembali menatap Arwaa.
"Aldair."
Tubuh Arwaa membeku dengan wajah yang berubah pias mendengar nama pria yang pernah mengisi hatinya selama hampir dua tahun itu.
Perpisahan memang sudah terjadi di antara mereka, bahkan bisa dibilang dengan cara yang baik. Namun nama pria itu terkadang masih menghantui dirinya, membuat ketakutannya akan pernikahan seakan tambah menjadi.
Naina yang melihat perubahan pada Arwaa pun memegang tangannya, dan memberikan senyum lembutnya menenangkan Arwaa membuat Grace dan Marius juga menjadi bingung dengan reaksi Arwaa.
"Aldair bilang dia akan kemari bersama Ibu dan keponakannya."
"Mama, dan Hanna? Tapi kenapa Aldair?" Tanya Arwaa.
Ya, kenapa harus mantan suaminya. Jika memang Mama dan Hanna ingin bertemu kan bisa dengan Attalaric, begitu yang dipikirkan Arwaa.
"Aku kurang tahu tentang itu," jawab Mehmet merasa bersalah atas kegelisahan yang saat ini tergambar pada wajah Arwaa.
"Siapa Aldair?" Tanya Marius penasaran, terlebih saat melihat reaksi Arwaa yang menurutnya tidak seperti biasanya.
Mehmet dan Naina terdiam, mereka merasa tak ada hak untuk memjawab pertanyaan Marius. Begitupula Grace, dia hanya mengangkat bahu saat Marius menatap penuh tanda tanya padanya, karena Grace memang tidak tahu siapa itu Aldair.
Jadi siapa Aldair? Hehe ðŸ¤ðŸ¤«
***
__ADS_1