Pengantin Yang Terbuang

Pengantin Yang Terbuang
Kesempatan Kedua (Aldair POV)


__ADS_3

Atmosfer di ruang makan keluarga Ghifari tadi sungguh membuatku sangat tidak nyaman. Walaupun aku tahu, keberadaankulah yang membuatnya seperti itu.


Lagipula siapa yang menyangka ternyata teman Naina yang selalu dibicarakan sebagai calon menantu keluarga Ghifari adalah Arwaa, istriku.


Ah, maksudku mantan. Ya, mantan istri, setelah aku menceraikan dirinya beberapa jam yang lalu.


Jujur hati ini terasa berat untuk melepasnya. Sosok yang aku rindukan kehadirannya di sisiku belakangan ini.


Begitu perih terasa ketika Arwaa mengiba memohon agar diriku menceraikannya.


Separah itukah luka yang aku berikan untuknya sehingga dia enggan untuk kembali?


Bodoh, tentu saja!


Sudah jelas bukan, tak ada yang bisa dia harapkan dariku. Suami durjana, yang tidak pernah mensyukuri harta terbaik yang telah Allah berikan, seorang istri shalihah.


Tak heran jika Arwaa memilih pergi dari suami sepertiku.


Dengan ini aku jadi tahu, bahwa kita butuh terluka, untuk bisa menjaga. Butuh lebih banyak terhempas, untuk tahu betapa pentingnya bersyukur.


Jika saja luka dan hempasan ini datang lebih awal, mungkin aku bisa menjaga hatinya dan juga mensyukuri hadirnya disisiku.


Haa...


Aku benci diri ini yang merasa paling tersakiti, padahal akulah yang paling banyak menyakiti.


***


Lucu sekali.


Aku benar-benar seperti seorang terpidana saat ini. Bagaimana tidak, seusai makan malam, Mehmet lantas meminta waktu untuk bicara. Meski tak mau, tapi tak ada alasan juga untuk menolak karena aku tahu apa yang ingin dibicarakan olehnya.


"Kapan kau akan kembali?"


Wah, sikapnya sungguh berbeda dari sebelumnya.


Apa karena sekarang dia tahu jika aku adalah pria yang sudah menyakiti hati wanita yang dicintainya.


Memang benar, cinta bisa merubah seseorang. Sama halnya seperti diri ini yang berubah buta karena cinta yang tak nyata.


"Besok," jawabku lesu.


Ku lihat Mehmet memandangku dengan tatapan tajam sebelum dia mengacak rambutnya frustasi dan menangkup muka dengan kedua tangannya sambil beristighfar.


Setelah lebih tenang Ia menyenderkan tubuhnya pada tembok yang bersebelahan dengan pintu dan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana di masing-masing sisi.


"Hampir aku membencimu Al," ungkapnya membuatku mengernyit.

__ADS_1


Isn't it normal? Maksudku, aku menyakiti Arwaa, wanita yang dicintainya.


"Aku tidak boleh menilaimu hanya karena kamu pernah menyakiti Arwaa,"


"Bisa jadi kau lebih baik di mata Allah dari pada aku."


Heh! Apa dia mengejekku?!


Aku terkekeh geli. "Jangan bercanda Mehmet."


Ia tersenyum, terlihat sangat tenang. Berbanding dengan apa yang ku bayangkan.


"No, I'm serious. Maksudku siapa yang tahu kadar pahala seseorang kan."


Aku tersenyum kecut. "Ya, setidaknya aku tahu berapa banyak dosa yang telah ku lakukan."


"Wah, hebat sekali! Kalau begitu beritahu aku berapa banyak dosa yang telah ku lakukan!"


Apa?!


"Kenapa menatapku seperti itu, bukankah kau tahu jumlah dosamu, berarti kau juga bisa tahu jumlah dosaku," ejeknya.


"Ck!"


Aku berdecak kesal melihat tingkahnya.


"Sepertinya kau masih tidak mengerti mengapa Allah membawamu bertemu dengan Arwaa ya."


Suka sekali orang ini bermain teka-teki.


"Al, jika aku tahu kau adalah suami Arwaa saat pertama kali, mungkin aku tidak akan menghubungimu. Kau juga, jika kau tahu aku mencintai Arwaa, mungkin dirimu akan menghajarku sejak pertama kali bertemu,"


"Tapi kenyataannya, Allah memudahkan segala urusan kita berdua. Bahkan tidak mempertemukanmu dengan Arwaa ketika di toko roti Bibi Claire, sehingga kita bisa mencapai kesepakatan kerjasama dengan mudah,"


"Allah justru mempertemukanmu dengan Arwaa setelah urusan kita selesai, setelah kau mendapat pemahaman tentang pernikahan di kajian pagi tadi,"


"Allah memberimu kesempatan kedua agar kau menyesali semua perbuatanmu Al," jelasnya sambil memandangku.


"Kesempatan kedua apanya? Aku bahkan sudah bercerai denga..."


"Heh! Kesempatan kedua ini bukan berarti kau bisa kembali bersama dengan Arwaa. Lagi pula dia hanya manusia, ada batasan hatinya bisa menerima luka yang diberikan. Sedang Allah, Dia Maha Pengampun, dan Maha Pemaaf. Sebesar apapun dosamu, Allah akan selalu menerimamu kembali, tentu dengan dirimu yang bertaubat nasuha,"


"Al, kau mungkin kecewa karena Allah tidak menakdirkanmu dengan Arwaa. Tapi coba pikirkan, pernahkah kau kecewa pada dirimu sendiri karena belum bisa sholat tepat waktu. Kecewa karena belum sempat membaca Al-Qur'an. Kecewa karena lebih sering marah dibanding bersyukur?"


"Sungguh, orang yang paling harus dibenci adalah diri kita sendiri," jelas Mehmet.


Aku menunduk lesu mendengar penuturan Mehmet.

__ADS_1


Benar apa yang dia bilang.


Tanpa sadar selama ini yang aku lakukan hanyalah menyalahkan ayah yang menjodohkanku dengan Arwaa. Menyalahkan keluargaku karena menyayangi Arwaa, juga menyalahkannya karena menerima kasih sayang dari keluargaku. Dan aku pun menyalahkan Allah karena takdir-Nya yang membuat Arwaa ada dalam hidupku.


Tapi karena semua ini, aku mulai mengerti dengan skenario-Nya.


Aku belajar sabar dari sebuah kemarahan. Belajar kesusahan dari hidup senang. Belajar menangis dari suatu kebahagiaan. Belajar keikhlasan dari kepedihan. Belajar tawakal dari ujian, dan belajar ridho dari satu ketentuan.


"Terimakasih Mehmet karena telah menyadarkan ku," ucapku tulus.


Ku lihat pria itu menggeleng.


"Aku tidak melakukan apapun. Semua ini memang sudah ketentuan Allah. Beristirahatlah, kau pasti lelah. Oh, jam berapa penerbanganmu besok?" Tanyanya.


"Aku ambil penerbangan malam."


"Oh, okay. Kalau begitu apa yang akan kau lakukan besok sebelum pergi?"


Aku memandang ragu kearahnya. Ah, tidak, sebenarnya hati ini yang ragu dengan rencana ku yang ingin berkunjung kerumah keluarga Arwaa.


Diri ini hanya ingin meminta maaf atas semua perbuatan yang telah ku lakukan pada Arwaa. Terlebih Paman Jhonny, tapi apakah dia ada di Kanada?


Hah!


Sudahlah, yang jelas aku ingin meminta maaf pada semua orang yang mungkin telah ku sakiti.


Ku garuk tengkuk yang tak gatal.


"Hmm... Mehmet bisakah kau temani aku besok ke rumah keluarga Arwaa?" Tanyaku tak yakin.


"Tentu."


Eh!


Ku lihat Mehmet tersenyum.


"Meski kalian bercerai, tak ada salahnya tetap menjalin tali silaturahmi. Iya kan?!"


Ia menepuk pundak ku sebelum mengucapkan salam dan menghilang dibalik pintu.


Haa...


Arwaa, jikalau suatu saat nanti kau bertemu jodohmu yang sebenarnya, aku harap itu adalah Mehmet.


Dia pria yang baik, juga shaleh. Aku sangat yakin dia akan menjaga dan menyayangimu sepenuh hatinya.


Tidak seperti ku...

__ADS_1


🍂🍂🍂


Jangan lupa untuk support aku dengan like, comment, dan vote cerita ini ya. Terimakasih ♥️


__ADS_2