Pengantin Yang Terbuang

Pengantin Yang Terbuang
Perkenalan


__ADS_3

Semua orang yang berada di apartemen Susan terdiam, suasana menjadi begitu canggung. Dan itu semua karena celetukan tak masuk akal Eric.


"Jangan bicara sembarangan Eric," geram Paman memecah keheningan.


"Kau berkata seperti itu hanya karena ingin bisa memandang keponakanku dengan leluasa. Kau pikir pernikahan sebuah permainan?" Cecarnya menatap tajam Eric yang tetap terlihat datar.


"Bukankah aku lebih baik dari pada Seba yang meminta untuk menikahi keponakanmu?"


'BRAK'


Aku berjengit terkejut begitu Paman menggebrak meja membuat Susan dan Emma menggerutu karena terkena tumpahan minuman yang ada di atas meja.


Sebelum keadaan semakin buruk aku pun beranjak dan menahan tangan Paman yang baru saja akan menarik baju pria bermata sipit itu.


"Paman hentikan. Aku yakin Eric hanya bercanda. Iya kan?!" Tanyaku melirik Eric yang tetap bergeming diposisikannya seakan memang berniat menantang Paman.


"Lagipula Paman tahu jika kepindahan ku kesini untuk kuliah, bukan mencari jodoh. Jika pun memang ada yang ingin menikahi ku, tidak mungkin juga aku menikahi pria yang tidak sopan pada keluargaku. Terlebih pada Paman yang sudah ku anggap ayahku sendiri," tegasku sengaja menyindirnya. Tak suka dengan sikap angkuh pria itu.


Paman lebih terlihat tenang begitu mendengar ucapanku. Dirinya pun hanya mendengus dan kembali duduk di sofa.


Sedang Eric memandang sinis padaku, mungkin dirinya tersinggung. Tapi apa peduliku toh dia juga tak bisa menghargai orang lain.


"Memangnya kami juga akan membiarkan Arwaa terjerat jebakan cinta casanova sepertimu," sahut Emma.


"Jangan sampai nanti datang lagi wanita semacam Stella yang mengusik ketenangan para penghuni apartemen disini hanya karena para pria playboy seperti kalian berdua," ketus Susan malas.


Ah sepertinya rata-rata penghuni pria disini suka bermain wanita, dan tentu tak lupa Paman Jhonny pun ku rasa sama saja.


Mau bagaimana lagi meski tak suka dan tak nyaman dengan pergaulan disini, tetap harus bisa membiasakan dan juga harus extra dalam menjaga diri.


Terlebih Paman Jhonny tidak akan terus tinggal disini, karena ada pekerjaan yang menunggu dirinya.

__ADS_1


***


Setelah menghabiskan waktu bersama para tetangga di apartemen Susan & Tommy. Aku dan Paman pun pamit pulang, karena Paman tahu sudah masuk waktu sholat magrib untukku.


"Paman berjanji tidak akan menjahilimu lagi seperti kemarin," katanya.


Aku hanya tersenyum menanggapi.


"Hei Paman, apa Paman juga memang seperti para pria yang tinggal di apartemen ini?"


"Seperti apa?"


"Paman mengerti maksudku," ujar ku kesal.


"Well, ya. Tapi sudah lama juga Paman tidak pernah bermain wanita lagi. Terlebih saat Paman bertemu denganmu, rasanya jika Paman tak berubah, takut kamu yang sudah Paman anggap sebagai putri sendiri pun akan diperlakukan serupa oleh pria brengsek seperti Paman nanti," jelasnya sendu.


"Kalau begitu menikahlah Paman."


"Bukan karena ingin memaksakan Paman agar seperti kami yang tak melakukan hubungan spesial dengan lawan jenis sebelum menikah,"


"Aku hanya khawatir kebiasaan berganti-ganti teman tidur akan membawa petaka. Paman pun pasti mengerti kan konsekuensi dari hubungan seperti itu. Kita tak pernah tahu isi hati manusia, takutnya partner kita mengatakan sehat, tapi ternyata ada kematian yang perlahan menggerogoti dirinya,"


"Aku tidak ingin kehilangan orang yang sangat berharga bagi ku lagi Paman."


Tanpa sada air mata ini menetes.


Bukan.


Bukan aku ingin menghakimi Paman karena dirinya berprinsip kebebasan dan tak menganut agama apapun.


Aku hanya ingin menjaga Paman semampuku, dan yang ku tahu bahwa peraturan pergaulan dalam agamaku tentulah tidak hanya baik untuk pemeluknya saja, tapi untuk semua orang juga.

__ADS_1


"It's okay, Paman mengerti kekhawatiranmu. Lagipula bukan sekali ini ada yang bicara seperti itu pada Paman, bahkan orangtua dan saudara-saudara Paman pun selalu meminta Paman untuk segera menikah," kekehnya sebelum kemudian alisnya bertaut tampak kesal.


"Tak jarang juga mereka membawa wanita-wanita yang akan mereka jodohkan dengan Paman. Padahal Paman sudah tua tapi masih saja dijodoh-jodohkan. Apa mereka pikir Paman tak bisa mencari jodoh sendiri?!" Lanjutnya lagi.


"Kalau begitu buktikan lah dengan menikah Paman," terangku.


"Lagipula bukankah Paman sudah ada calonnya?"


Alis bertaut ditambah kening berkerut, lengkaplah sudah ekspresi Paman mampu membuatku terbahak.


"Kau ini!"


Ia mengacak khimarku gemas.


"Memangnya yang kamu maksud siapa?"


"Emma," jawabku singkat, jelas, dan padat membuat Paman menganga tak percaya.


"Kenapa kamu bicara seperti itu. Mana mau Paman dengan wanita cerewet macam Emma, terlebih bagi dia pekerjaan sebagai seorang dokter lebih penting dari apapun dalam hidupnya."


"Eeeh, meski begitu Paman tetap menyukainya kan,"


"Jujur saja, karena ketika Paman membicarakan tentang Emma dapat ku lihat ada kekaguman dalam mata Paman terhadapnya."


"Ya, itu kan hanya sekedar kekaguman saja," sahut Paman mengalihkan pandangannya membuatku terkekeh.


"Baiklah jika Paman tidak mau mengakuinya. Tapi asalkan Paman tahu, aku sudah memberi restu jika itu Emma," jelasku tersenyum.


"I'll noted that honey. Sekarang kamu persiapkan arsip-arsip yang akan dibawa ke kampus. Paman akan mengantarkanmu besok, sekalian memberitahu rute menggunakan kendaraan umum untuk kesana."


Paman menepuk sayang kepalaku sebelum dirinya pergi ke kamar.

__ADS_1


***


__ADS_2