Pengantin Yang Terbuang

Pengantin Yang Terbuang
Berita Duka


__ADS_3

Setelah makan malam dan menemani Hanna pergi tidur, Arwaa memutuskan untuk menenangkan pikirannya sambil membaca ayat suci Al-Qur'an di kamar keponakan suaminya itu.


"Shodaqallah al adzim..."


Ia tutup kitab suci pemberian sang ayah.


Dielusnya lembut rambut gadis kecil yang sedang terlelap.


"Robbi habli minnasholihin..."


Ia mengecup kepala Hanna setelah mendoakannya.


Hal itu tidak luput dari perhatian Attalaric yang sedari tadi ada di depan pintu kamar anaknya. Hatinya benar-benar tersentuh oleh kelembutan dan kasih sayang Arwaa pada anaknya.


Tanpa sadar ia memegang dadanya karena perasaan hangat yang tiba-tiba bergelora. Namun sekuat tenaga juga dia menyadarkan dirinya, jangan sampai dia menjadi duri dalam rumahtangga adiknya sendiri.


'Plak!'


"Astaghfirullah ibuu!"


Attalaric terkejut karena tepukan pada pundaknya oleh sang ibu.


"Lagian ngapain kamu disitu ngintipin kamar Hanna, bukannya masuk aja."


Arwaa yang mendengar sedikit keributan didepan kamar Hanna pun beranjak untuk melihat apa yang terjadi.


"Eh ibu... mas..."


Arwaa berjengit sedikit terkejut ketika melihat kakak ipar dan ibu mertuanya ada didepan kamar Hanna. Bu Hayya yang melihat Arwaa muncul dari kamar cucunya pun memicingkan mata curiga pada Attalaric.


"Jangan melihatku seperti itu ibu, aku hanya ingin melihat Hanna sudah tidur atau belum. Tapi Arwaa sedang membaca Al-Qur'an tadi jadi ku putuskan untuk menunggunya selesai."


Attalaric memutar bola matanya berpura-pura kesal padahal dalam hati, dirinya sangat khawatir jika sampai ibu dan adik iparnya itu tahu kalau dia sudah mengintip.


"Loh mas padahal langsung masuk saja tadi, aduuh maaf ya mas." Arwaa memegang tengkuknya merasa tak enak pada Attalaric.


"Eh tidak perlu minta maaf, lagipula Hanna kelihatannya juga nyaman dengerin kamu baca Qur'an sampai nyenyak begitu tidurnya."


Attalaric tersenyum kecil pada Arwaa tanpa menyadari sang ibu yang dari tadi memperhatikan dirinya.


'Aouw'


Attalaric memandang tak percaya pada ibunya karena mencubit pinggangnya.


"Ada apa dengan ibu, kenapa menyiksaku terus sejak tadi?" Tanyanya kesal dan Arwaa terkekeh melihat itu.


"Sudah sudah ayo sana temui ayahmu. Ibu ingin berbincang dengan menantu ibu." Bu Hayya menarik lengan Attalaric menuju tangga dan mendorongnya perlahan, menyuruh anak sulungnya itu pergi.


Attalaric menganga dan membulatkan matanya tak percaya namun sejurus kemudian ia menghentakkan kakinya dan menggerutu tak jelas pada sang ibu yang hanya dibalas oleh lambaian dan senyum kemenangan Bu Hayya.


Arwaa menggeleng melihat interaksi ibu mertua dan kakak iparnya itu, mereka terlihat sangat dekat meski kakak iparnya jarang berada di Indonesia. Ah, dia jadi penasaran apakah suaminya pernah bertingkah seperti itu pada Bu Hayya.


Matanya mulai berembun, ia jadi teringat ayah dan mendiang ibunya, Arwaa sangat merindukan mereka. Terakhir dia menghubungi ayahnya adalah seminggu yang lalu, dan sudah lama juga dirinya tidak mengunjungi sang ayah.


Sebenarnya Arwaa sudah berkali-kali ingin mengajak suaminya untuk berkunjung ke kampung halamannya, namun selalu ia urungkan. Semua itu ia lakukan agar ayahnya tidak terlalu kecewa karena tak lama lagi Aldair akan menceraikan dirinya.


Lihat saja, semenjak Aldair pergi ke rumahsakit untuk menemui Fani, pria itu tidak mengabarinya sama sekali sejak kemarin malam.


Sebenarnya ia enggan merasakan debaran hebat dalam dirinya kala ia bersama sang suami. Karena ia sadar betul bahwa Aldair tidak pernah mencintainya, namun apa daya dirinya tak mampu menolak sebuah perasaan.


Ia benci hatinya, sudah sekian kali disakiti oleh angan yang tak tentu, namun tak bosan jatuh cinta kembali pada sosok sang suami.


'Drrt... Drrt...'


Arwaa melirik ponselnya yang bergetar berharap suaminya yang menghubungi, namun hanya nomor tak dikenal yang ia lihat. Ia mengernyit bingung, tapi tetap diangkatnya, khawatir sesuatu yang penting.


Dan benar saja, setelah mendengar kabar yang diberikan oleh penelpon itu. Tubuhnya terasa lemas tak bertenaga, bersamaan dengan air mata yang mengalir deras, ia pun terduduk di depan kamar Hanna membuat sang ibu mertua langsung menoleh dan melangkah kearahnya khawatir.


"Sayang ada apa?"


Bu Hayya merangkul tubuh menantunya yang tiba-tiba menangis terisak itu.

__ADS_1


"Ibu, ayah ibuu... ayah meninggal dunia."


"Innalilahi... Ayaaah... Attaaa...!!!"


Bu Hayya langsung berteriak memanggil suami dan anak sulungnya tanpa peduli jika Hanna terbangun karena teriakkannya. Dia pun langsung memeluk erat tubuh menantu kesayangannya yang bergetar hebat karena menangis.


"Ada apa ibuu?"


Tanya Pak Ahmad dan Attalaric begitu mereka sampai di depan kamar Hanna.


Bu Hayya memandang nanar pada suami dan anaknya.


"Besan kita meninggal dunia yah."


Jelasnya dan kembali mengelus kepala Arwaa yang tertutupi hijab, menenangkan jiwa yang tengah bersedih itu.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun..." Ucap pak Ahmad dan Attalaric berbarengan.


"Hubungi adikmu sekarang juga!"


Perintah pak Ahmad pada Attalaric yang langsung diangguki oleh anak sulungnya itu.


Pak Ahmad pun ikut berjongkok dan menepuk pundak menantunya.


"Tenangkan dirimu nak dan bersiaplah kita akan pergi ke rumah ayahmu."


Ucapnya lembut, Arwaa pun hanya mengangguk berusaha menghentikan tangisannya meski masih tetap terisak.


"It's okay sayang. Ayo ibu bantu mempersiapkan keperluanmu."


Bu Hayya menuntun Arwaa menuju kamar Aldair masih dengan mengelus punggung menantunya itu.


Pak Ahmad memperhatikan Attalaric yang terlihat masih menghubungi seseorang.


"Bagaimana?"


"Aldair tidak dapat dihubungi yah."


Pak Ahmad menghubungi seseorang yang merupakan satpam yang berjaga di perusahaannya


"Assalamu'alaikum Setyo."


"..."


"Apa ada masalah di perusahaan saat ini?"


"..."


"Oh begitukah... Lalu apa Aldair ada disana?"


"..."


Pak Ahmad terlihat mengepalkan tangannya mendengar jawaban orang diseberang sana.


"Tidak apa-apa Setyo, saya hanya ingin memastikan sesuatu. Terimakasih dan maaf sudah mengganggu waktu bekerjamu. Assalamu'alaikum."


"..."


'Pip'


Pak Ahmad mendudukkan dirinya dan memijat keningnya.


"Apa yang terjadi ayah? Apa Aldair ada disana?" Tanya Attalaric khawatir melihat keadaan ayahnya.


"Harusnya ayah memilihmu waktu itu."


Attalaric mengernyit bingung mendengar jawaban ayahnya yang sama sekali tidak sesuai dengan pertanyaannya.


"Assalamu'alaikum."


Pak Ahmad dan Attalaric seketika menoleh kearah seseorang yang mengucapkan salam, berharap itu adalah Aldair.

__ADS_1


Mereka menghela nafas ketika mendapati Arrazi-lah orang itu.


"Ada apa dengan kalian? Tidak suka aku pulang?"


Tanyanya sedikit kesal mendapati ekspresi sang ayah dan kakaknya yang terlihat kecewa karena kedatangannya.


"Ah maaf, kami pikir Aldair."


Attalaric menggaruk tengkuknya merasa bersalah pada adik bungsunya.


"Memang ada apa dengannya?"


"Ayah Arwaa meninggal dunia, kita akan pergi kerumahnya sekarang, tapi Aldair tidak bisa dihubungi." Jelas Attalaric.


Arrazi terdiam mendengar itu, tanpa sadar tangannya mengepal dan hal itu tak luput dari perhatian sang ayah.


"Aku akan coba menghubunginya."


Suara dingin Arrazi membuat Attalaric menatap bingung kearahnya. Kenapa moodnya tiba-tiba berubah seperti ayahnya tadi.


"Assalamu'alaikum ka."


Mereka saling berpandangan ketika Aldair mengangkat teleponnya, Arrazi pun men-loudspeaker-kan panggilan itu agar bisa didengar oleh mereka yang ada diruangan itu.


"Wa'alaikumsalam. Iya, ada apa Ar?"


"Kakak dimana?"


Aldair terdiam sejenak.


"Kantor, kenapa?"


Sekarang giliran Arrazi yang terdiam mendengar jawaban kakaknya.


"De, ada apa?" Tanya Aldair lagi karena tak mendengar suara adiknya.


"Mertua kakak meninggal dunia."


Aldair terdiam cukup lama.


"Lalu bagaimana keadaan mbakmu?"


"Sedang ditenangkan oleh ibu. Kapan kakak pulang, kami akan pergi ke rumah mbak Arwaa sekarang."


Terdapat jeda sejenak,


"... Kalian pergilah terlebih dahulu, kakak masih harus menyelesaikan masalah di kantor. Kakak akan menyusul jika sudah selesai. Assalamu'alaikum."


'Pip'


Aldair memutuskan panggilannya secara sepihak.


Gigi Arrazi bergemelutuk menahan marah dan pak Ahmad mengepalkan tangannya, begitu pula dengan Attalaric yang terlihat kesal mendengar jawaban adiknya itu.


"Lupakan anak itu. Bersiaplah kita akan pergi melayat besan ayah. Dan Atta bawa serta Hanna, agar anakmu bisa menenangkan hati bundanya."


Attalaric dan Arrazi sedikit terkejut mendengar cara pak Ahmad mengatakan itu. Meski begitu Attalaric mengangguk menyetujui, karena memang sepertinya Hanna-lah yang bisa menenangkan adik iparnya.


"Iya ayah."


***


Aldair terlihat mondar-mandir didepan ruang inap kekasihnya. Dia cukup terkejut tadi ketika diberi kabar jika mertuanya meninggal dunia, ingin rasanya dia langsung pergi menemui Arwaa dan menenangkan istrinya itu.


Tapi dia juga tidak bisa meninggalkan Fani, karena keadaannya pun tidak lebih baik, di tambah ayah dari kekasihnya itu sedang tidak ada disana sehingga hanya dialah yang menjaga Fani saat ini. Dia khawatir sesuatu terjadi pada Fani dan calon anaknya.


Karena itulah dia memilih untuk tetap di rumahsakit, karena ia yakin Arwaa pasti sedang dijaga oleh keluarganya disana, sedangkan Fani, hanya ada dirinya saja disisinya saat ini.


🍂🍂🍂


Jangan lupa untuk support aku dengan like, comment, dan vote cerita ini ya. Terimakasih ♥️

__ADS_1


__ADS_2