Pengantin Yang Terbuang

Pengantin Yang Terbuang
Keikhlasan


__ADS_3

Setelah sekian lama Arwaa hampir melupakan kenangan buruk masa lalunya bersama pria bernama Aldair. Kenapa sekarang bayangan pria itu datang kembali menghantuinya.


Ah, tidak. Bukan bayangan ataupun menghantui, tapi memang sang kenangan itu akan segera menemuinya.


Malam ini mata Arwaa sama sekali tidak bisa terpejam. Meski ada Naina dan juga Grace yang menginap di tempatnya. Ya, Naina akan tinggal di apartemen Arwaa hingga besok sampai Mehmet datang menjemputnya seusai urusan pria itu selesai.


Saat ini semua yang ada di otak Arwaa hanyalah pikiran buruk tentang kedatangan mantan suaminya.


Kenapa pria itu datang kemari? Jika memang Mama dan Hanna ingin bertemu, bisa dengan Attalaric, kenapa harus Aldair?!


Arwaa menatap langit-langit kamarnya dan tersenyum samar.


Pertemuan terakhirnya dengan Aldair adalah ketika pria itu bersilaturahmi ke rumah keluarganya dengan Mehmet. Perpisahan mereka pun bisa disebut baik-baik saja meski sempat ada kesalahpahaman, tapi masih bisa diatasi.


Walaupun senyuman tetap senantiasa terpatri di wajah Arwaa. Tak ada yang tahu bagaimana keadaan hatinya setelah perpisahan dengan Aldair karena nama pria itu seolah menjadi ketakutan tersendiri bagi Arwaa untuk mengharapkan cinta kembali.


Memaafkan memang mudah, tapi melupakan itulah yang tak mudah. Apalagi untuk melupakan orang yang pernah memiliki tempat di dalam hati. Namun selalu memberikan payah, perih, dan juga pedih untuk menjadi kenangan. Bukan, bukan kenangan manis, tapi kenangan pahit yang selalu menghantui diri setiap waktunya.


***


"Arwaa..."


"Loh Grace sudah bangun jam segini?"

__ADS_1


"Tidak sholat?" Tanya Grace sembil duduk di kursi dapur sambil menguap.


Sedikit banyak gadis itu tahu kebiasaan Arwaa yang selalu bangun di sepertiga malam untuk melakukan sholat, tapi tadi tidurnya terganggu karena suara berisik dari dapur. Dia pikir tikus, tapi ternyata Arwaa.


Arwaa sendiri yang tadinya berniat ingin membuat kue untuk menenangkan pikiran malah jadi membangunkan tidur Grace padahal masih jam setengah 3 subuh.


"Aku sedang datang bulan. Aku hanya sedang ingin buat kue saja," jawab Arwaa tersenyum.


"Kamu tidak tidur ya?" Grace terus menelisik wajah Arwaa, terlihat jelas kantung matanya sedang Arwaa hanya mengangkat bahu dan terkekeh kecil menanggapinya.


"Apa karena kabar yang tadi disampaikan oleh Kakak Naina?" Tanya Grace lagi sedikit kesal atas respon Arwaa tadi.


Pergerakan Arwaa terhenti. Dia menatap sahabatnya itu sejenak sebelum Arwaa menggeleng dan melemparkan senyum lembutnya yang justru malah membuat Grace tambah kesal.


"Bukan siapa-siapa Grace, dia hanya orang di masa laluku saja."


Arwaa menjawab sekenanya sambil terus membuat adonan kue.


"Ingat tidak? Kamu pernah berkata padaku jika masa lalu itu jangan dijadikan kenangan melainkan pelajaran. Tapi dari yang ku lihat saat ini, sepertinya kamu menganggap masa lalumu itu sebagai kenangan. Tepatnya kenangan buruk. Am I right?"


"Sama halnya dengan jawaban yang kamu berikan untukku waktu itu. Bahwa apa yang dikatakan tidak semudah itu untuk dilakukan," jelas Arwaa datar membuat Grace terdiam.


Sepertinya Grace merasa jika dia sudah memaksa Arwaa untuk spill up pada dirinya yang justru malah membuat Arwaa kesal.

__ADS_1


"But you have me, Naina too. Also don't forget about your God." [Tapi kau punya aku, juga Naina. Dan jangan lupa dengan dengan Tuhanmu.]


Sekarang Arwaa yang terdiam. Dia memandang Grace nanar. Apa yang dikatakan Grace persis apa yang dia katakan sebelumnya ketika menyemangati gadis itu.


Perlahan Arwaa menyimpan bahan-bahan kuenya dan berjalan mendekati Grace lalu berhambur memeluknya.


Dan Grace yang mendapat perlakuan tiba-tiba itu tentulah terkejut, tapi segera dia menguasai keterkejutannya dan membalas pelukan Arwaa sembari menepuk-nepuk punggung sahabatnya yang sedikit bergetar.


"Everything will be alright," bisik Grace.


"Mm..."


Arwaa tersadar jika selama ini yang dilakukan olehnya hanyalah melarikan diri dari masa lalu dengan membiarkan masa lalu itu terus menghatui di tiap malam-malamnya. Tanpa memikirkan bagaimana cara menghentikannya.


Satu hal yang Arwaa lupa. Ikhlas.


Dulu saja Arwaa meminta Aldair untuk ikhlas melepasnya. Tapi Arwaa sendiri belum bisa ikhlas dengan apa yang terjadi pada takdirnya. Apa yang ia katakan saat itu hanyalah sekedar bualan untuk memuaskan hati, bukan menenangkannya.


Sebelum memaafkan Aldair harusnya Arwaa mengikhlaskan dulu apa yang telah pria itu berikan padanya.


Karena bahagia itu adalah ketika akhirnya bisa ikhlas melepaskan yang pergi, merelakan yang hilang dan ikhlas menerima apa yang telah dan akan terjadi karena Allah.


***

__ADS_1


__ADS_2