
Aldair baru saja mendarat di Bandara Internasional Ottawa Macdonald-Cartier pukul 9 malam, untuk itu dia memutuskan bermalam di hotel sekitar sana, sebelum bertemu dengan Mr. Ghifari, orang yang akan bekerjasama dengannya.
Begitu pagi hari menjelang Aldair langsung berkemas kembali. Dirinya memang berada di Ottawa untuk sementara saja sebelum berangkat ke Toronto, karena Mr. Ghifari mengundang Aldair untuk tinggal di rumahnya beberapa hari kedepan, agar memudahkan dirinya untuk melihat keadaan restoran milik Mr. Ghifari yang berada di kota tersebut dan juga mendiskusikan kerjasamanya dengan sang pemilik restoran, karena katanya Mr. Ghifari hanya yang mengurusnya saja.
Aldair memilih menaiki kereta bawah tanah uOttawa untuk pergi ke Toronto. Sebenarnya bisa saja dia menggunakan jalur udara lagi namun jetlag sisa penerbangan kemarin masih terasa, lagipula perjalanan via kereta hanya 2 jam lebih lama.
Selama dalam perjalan, Aldair tidak pernah berhenti berdo'a agar dirinya bisa menemukan keberadaan sang istri di negara ini, dan tentunya juga dengan harapan, wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu dapat memaafkan dan menerimanya kembali.
Terdengar egois memang, tapi apa daya, rasa penyesalan terhadap Arwaa yang mendorong dirinya menginginkan untuk bisa kembali bersama sang istri.
'Union Station... Union Station...'
Akhirnya Aldair sampai di pemberhentian. Dia merenggangkan ototnya sesaat dirinya telah keluar dari kereta. Fasilitas keretanya memang the best, tapi tetap saja jika selama 4 jam lebih terus menerus duduk, tentulah membuat tubuh pegal-pegal.
"Mr. Arsawijaya?"
Aldair menghentikan aktivitasnya. Sebelah alisnya terangkat.
"Mr. Ghifari?" Ucap Aldair memastikan.
Pria berjenggot dihadapannya pun tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"Assalamu'alaikum Mr. Arsawijaya."
"Wa'alaikumsalam Mr. Ghifari," Aldair membalas uluran tangan rekan bisnisya.
"Saya tidak menyangka ternyata Mr. Arsawijaya masih muda."
"Begitupun saya, saya pikir Mr. Ghifari lebih tua dari saya."
Kedua pria itu saling melempar senyum, mencoba mengakrabkan diri sebagai rekan bisnis.
"Ah, jika tidak keberatan Mr. Arsawijaya panggil saja saya Mehmet."
"Kalau begitu, anda bisa memanggil saya Aldair."
"Tentu saja Aldair. Senang bertemu dengan anda. Lebih baik kita segera berangkat ke tempat tinggal saya."
"Baik, terimakasih Mehmet."
Mereka pun meninggalkan stasiun kereta dan pergi menuju kediaman keluarga Ghifari dengan mobil yang dikendarai Mehmet.
***
"Assalamu'alaikum Amma, Abba," ucap Mehmet memasuki rumahnya, sedang Aldair menunggu di luar untuk dipersilahkan.
"Wa'alaikumsalam," jawab seorang pria paruh baya yang tak lain adalah Ustadz Zahid, ayah Mehmet.
Mehmet pun mempersilahkan Aldair untuk masuk ke rumahnya begitu sosok sang ayah terlihat.
"Abba, kenalkan ini Aldair, pengusaha kuliner dari Indonesia yang akan bekerjasama dengan restoran kita."
Aldair menyalami Ustadz Zahid. Perasaannya berubah menjadi sendu, teringat sang ayah. Apakah ayahnya dalam keadaan sehat, karena terakhir kali mereka bertemu, ayahnya itu terlihat tidak baik-baik saja.
"Wah masih muda ternyata. Abba pikir sudah seumuran Abba," kelakar Ustadz Zahid.
"Ya sudah, Mehmet antar Aldair ke kamar tamu untuk menyimpan barang-barangnya, setelah itu langsung ke ruang makan. Amma sudah memasak banyak untuk menyambut tamu kita."
Ustadz Zahid menepuk bahu sang putra dan memberi senyum pada tamunya.
"Baik Abba. Ayo!"
Begitulah keluarga Ghifari, sejak dulu memang sudah dibiasakan untuk memperlakukan tamu dengan baik dan sopan, lagipula merupakan keharusan juga bagi kita untuk memuliakan tamu. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah:
Wa man kaana yu'minu bilaahi wal Yaumil akhir falyukrim dhoifahu.
__ADS_1
Yang artinya. "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Sama halnya dengan Aldair, dirinya sempat mengatakan pada Mehmet bahwa dia merasa tak enak karena keluarga pria itu menyambutnya dengan begitu baik dan sedikit berlebihan menurutnya.
Apalagi dirinya hanya rekan bisnis saja, ditambah ini adalah kali pertama mereka bertemu. Tapi sudah mengizinkan Aldair untuk menginap di kediaman mereka, juga dengan jamuan yang luar biasa.
Sedang Mehmet dengan santai menanggapinya,
Kami sekeluarga percaya padamu Al, jadi jangan sungkan. Terlebih kita adalah saudara yang terikat oleh iman. Ku beritahu, Amma dan Abba bahkan pernah menyambut teman Naina, adik perempuanku, seperti mereka menyambut kedatangan seorang menantu. Walau sebenarnya aku harap begitu.
Aldair tersenyum sendiri, sepertinya rekan bisnisnya ini jatuh hati pada teman sang adik.
Haa...
Aldair menghela nafas lelah.
Berada di tengah-tengah keluarga Ghifari membuat perasaan bahagia dan juga sedih melebur dalam diri Aldair. Dirinya begitu merindukan kehangatan bersama keluarganya.
Ia ingat, terakhir kali dia merasa nyaman bersama keluarganya adalah sebelum sang ayah menikahkan dia dengan Arwaa. Karena saat itu Aldair tidak suka melihat keluarganya begitu dekat dan menyayangi wanita yang tak lain adalah istrinya sendiri.
Setelah jamuan luar biasa yang disediakan keluarga Ghifari, dirinya kini tengah berbaring sembari menatap langit-langit kamar.
Besok pagi Aldair akan pergi ke restoran milik keluarga Ghifari untuk men-check keadaan di sana, dan memastikan apakah akan cocok menambah menu Nusantara di restoran itu.
Sebelum matanya terpejam Aldair tidak lupa berdo'a agar dapat segera dipertemukan dirinya dengan sang istri di negara ini.
***
"Wah restoran ini benar-benar menakjubkan Mehmet."
Aldair terkagum-kagum mengamati setiap sudut restoran keluarga Ghifari. Selain karena interiornya yang memukau juga cita rasa makanan yang disajikan di restoran ini sungguh lezat. Sangat berbeda jauh jika dibandingkan dengan restoran yang dia kelola di Indonesia.
"Kau bilang ini restoran pusat kan?"
"Ya, ini restoran pertama yang Abba bangun. Dan baru-baru ini Abba membuka cabang di Edmonton dan Montreal."
"Iya. Tapi untuk sekarang, saya ingin menambahkan menu Nusantara di restoran ini terlebih dahulu, dan melihat respon para pelanggan atas menu Nusantara yang akan ditambahkan."
Aldair mengangguk mengerti.
"Saya penasaran alasan apa yang membuatmu ingin menambahkan menu Nusantara di restoran ini. Karena menurut saya, menu yang ada saat ini pun sudah sangat memuaskan, sedang menu Nusantara ini belum tentu orang-orang menyukainya."
Mehmet menggeleng sembari tersenyum lembut teringat akan seseorang yang menjadi alasan utama kenapa dirinya ingin menambah menu Nusantara ini.
"Saya yakin orang-orang menyukainya, terlebih ada seseorang yang sangat menyukai masakan Indonesia," ucap Mehmet.
"Teman adikmu?"
"Eh?!" Mehmet tersentak oleh pertanyaan Aldair namun sedetik kemudian rona merah muncul di wajah tampannya.
"Feeling saja, habis cara kau menceritakan tentang orangtuamu ketika menyambutnya sedikit, um, bagaimana yaah."
Aldair menggoda Mehmet membuat wajahnya semakin memerah.
"Sejelas itu ya?" Tanya Mehmet menyentuh telinga, kebiasaan ketika dirinya merasa malu.
"Tidak apa-apa, saya mengerti rasanya jatuh cinta," kontras dengan apa yang diucapkannya, Aldair justru terlihat menyendu.
"Tapi cinta saya sepertinya tidak akan mungkin untuk didapatkan kembali," lanjut Aldair lirih membuat Mehmet menatapnya.
"Sebenarnya kedatangan saya kemari bukan hanya untuk mengurus kerjasama ini..."
"Juga untuk mendapatkan cintamu kembali?"
Aldair tersenyum kecil mendengar tebakan rekan bisnisnya.
__ADS_1
"Saya harap begitu, karena justru sayalah yang telah membuatnya pergi."
"Aldair jika memang Allah menjodohkan kalian, apa pun yang terjadi, kalian pasti akan di pertemukan kembali, bahkan dengan cara yang tidak kalian sangka-sangka. Untuk saat ini teruslah berikhtiar, berdo'a, dan juga perbaiki diri, karena seperti yang tercantum dalam Al-Qur'an surah An-Nur ayat 26, bahwasanya laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, begitupun sebaliknya."
Aldair tersenyum simpul. Meski hatinya masih sedikit berat namun dia merasa lebih baik setelah mendengar nasihat yang diberikan Mehmet.
"Ya sudah ayo, lebih baik kita mampir ke toko roti langganan ku, kau pasti akan ketagihan jika sudah mencicipi roti dan kue dari toko itu," ajak Mehmet.
"Bagaimana dengan kerja..."
"Sudah, kita tenangkan hati dan pikiran saja dulu. Tidak baik jika kita membahas kerjasama ini dengan pikiran yang kalut," jelas Mehmet.
Aldair dan Mehmet pun pergi ke toko roti bibi Claire yang berjarak 3 kilo meter dari posisi mereka saat ini.
***
'Kling'
"Welcome."
"Oh, Bibi Claire?"
"Kenapa kau tampak kecewa melihatku disini, Mehmet?"
Bibi Claire langsung mendengus seakan-akan tersinggung, walau nyatanya dia ingin sekali tertawa melihat tampang pria yang jatuh hati pada keponakannya itu.
"Eh?! Bu... bukan begitu Bu. Maaf jika aku membuat bibi tersinggung, hanya saja biasanya kan..."
"Keponakanku yang selalu menyambutmu, begitu?"
Mehmet salah tingkah dibuatnya sehingga Bibi Claire tidak tahan lagi untuk tidak tertawa.
"Hahahaha..."
Gelak tawa wanita setengah baya itu menarik perhatian para pelanggan yang ada di toko miliknya. Seketika dia meminta maaf, khawatir membuat pelanggannya tak nyaman.
"I apologize for the inconvient," [Maaf untuk ketidaknyamanannya.]
Bibi Claire sedikit menundukkan kepala sebelum kembali menatap Mehmet yang wajahnya sudah semerah tomat, membuat Bibi Claire harus menahan tawa lagi.
"Maafkan aku Mehmet, aku tidak bermaksud untuk mengerjaimu. Hanya saja kekecewaan terlihat sangat jelas pada dirimu, ketika kau tidak mendapati keponakanku disini hehe," jelas Bibi Claire masih terkekeh kecil.
"Bibi sudahlah jangan menggodaku terus. Aku sedang bersama rekan bisnisku, bisa-bisa dia tidak ingin bekerjasama jika melihatku yang seperti ini," ucap Mehmet sediki berbisik.
"Haha iya maafkan bibi. Wah tampan juga rekan bisnismu ini," saut Bibi Claire menoleh pada Aldair membuat pria itu menganggukkan kepalanya, memberi salam.
"Senang bertemu denganmu Bibi Claire,"
"Anak muda yang sopan," Bibi Claire tersenyum.
"Oh ya Mehmet, keponakanku sedang sakit jadi dia mengambil libur dulu untuk sementara waktu, maka dari itu kemungkinan yang akan menyambutmu di toko adalah antara Bibi atau Sean."
"Sudah lama Bi sakitnya?" Tanya Mehmet khawatir.
"Sudah hampir seminggu, tapi anak gadis itu tetap tidak mau untuk diperiksakan ke rumahsakit. Katanya dia hanya kelelahan dan terkena shock saja, karena tubuhnya masih belum bisa menyesuaikan dengan suhu disini."
"Apa benar baik-baik saja, apa tidak seharusnya di periksakan ke rumahsakit?"
"Tuhan! Kau ini Mehmet! Jika ingin tahu keadaan keponakanku, jenguklah dia dirumahnya. Sekalian bawa kedua orangtuamu untuk melamarnya."
"Bibi!!"
Wajah Mehmet benar-benar sudah bersih seperti tomat sehingga membuat Bibi Claire dan Aldair yang melihatnya pun tertawa.
Mehmet sepertinya sangat khawatir dengan keadaan Arwaa. Entah dengan Aldair, apakah dia juga akan sekhawatir Mehmet atau melebihi pria itu ketika mengetahui istrinya lah yang sedang sakit.
__ADS_1
🍂🍂🍂
Jangan lupa untuk support aku dengan like, comment, dan vote cerita ini ya. Terimakasih ♥️