Penggemar Ku Seorang Ustadz

Penggemar Ku Seorang Ustadz
11. POV Author cantik


__ADS_3

"Mbak mau rasa gula batu saja, deh." Terang Nirmala pada Nining yang baru saja menawarkan es goyang harga seribuan.


"Oke. Bakso, mau?" tawar Nining lagi.


Nirmala mengangguk. "3 tusuk saja. Kasih saos, ya."


Nirmala dan Nining baru saja selesai menghadiri rapat di Balai Desa. Sebenarnya, ia enggan menjadi panitia. Namun, Kepala Desa meminta dirinya sebagai Panitia karena tidak repot mengurus rumah.


Ia melihat ponselnya yang bergetar dan nama 'calon jenazah' tertera disana. Seketika membuat nyaendengus kesal. Ingin sekali dirinya memaki pria itu. Namun, saat mendengar suara lembut pria itu membuatnya urung.


"Assalamualaikum," terdengar suara pria itu sangat lembut.


Dapat dipastikan bahwa pria diseberang telepon tersebut dapat membuat para gadis meleleh. Tapi, tidak dengan Nirmala. Ia jengah dengan pria semacam itu yang pasti akan berubah setelah menikah.


Pria manipulatif.


"Waalaikumsalam," sahut Nirmala ketus. Ia masih berharap pria aneh itu mengurungkan niat datang ke rumah nya.


"Saya sudah dijalan menuju Bandara."


Mata Nirmala mendelik mendengarnya. Hatinya menjadi ketar-ketir memikirkan pria aneh itu benar-benar serius akan datang.

__ADS_1


"Kamu yakin, mau nikahi saya?" tanya Nirmala memastikan lagi.


"Ya."


Nirmala menggigit jemari nya semakin panik. Menikah?


Dengan pria yang tidak di ketahui nama, wajah, asal usul, dan segalanya. Ia tidak dapat membayangkan itu semua. Jika kebanyakan mereka yang menikah tanpa pacaran ada proses ta'aruf yang akan menjadi penentu. Sementara dirinya?


Parah. Ini gila.


"Kamu harus ingat. Aku ini janda, loh." Ia memejamkan mata merasa penasaran dengan jawaban pria itu.


"Terus?"


"Aku itu cari suami bukan hanya yang bisa kasih aku uang, loh. Aku juga butuh suami yang dapat menuntunku ke jalan Allah. Aku butuh suami yang bisa puasin aku juga." Senyumku merekah ketika pria aneh itu tidak mengeluarkan suara. Bisa ku pastikan, pria itu tidak sanggup.


"InsyaAllah, saya sanggup."


Nirmala terperanjat mendengar jawaban pria aneh itu. Lagi-lagi ia merasa sangat kesal.


"Terserah kamu, deh. Assalamualaikum," kata Nirmala ketus lalu mematikan sambungan telepon tersebut.

__ADS_1


"Ada apa, mbak?" tanya Nining penasaran.


"Dia.. Sudah berangkat," jawab Nirmala singkat membuat Nining tertawa dan itu berhasil membuatnya semakin kesal.


"Ada yang mau nikah, ni. Ciye.. Ciyee!!" ledek Nining. Namun, segera Nirmala bekap mulut gadis itu agar tidak meledek dan orang-orang disana tidak mendengarnya.


"Jangan sembarangan, Ning. Mbak belum siap menikah. Apalagi mikirin ibu dan anak nya yang pemalas itu. Masalah uang saja belum selesai," ungkap Nirmala pelan.


Nining langsung menghentikan ledekan nya. Ia sangat tahu bagaimana perlakuan ibu mertua Nirmala. "Maaf, mbak. Semoga laki-laki itu gak datang, ya. Atau minimal, dia laki-laki ganteng, baik, dan bertanggung jawab."


Nirmala tidak menanggapi karena merasa gamang. Cukup lama mereka berada di bawah pohon menunggu rapat pembagian kerja panitia.


Beberapa waktu kemudian, rapat berlangsung.


"La. Kamu bagian konsumsi kafilah para juri dan ustadz, ya." Terang ketua panitia membuat Nirmala hanya menurut saja.


"Iya, pak." Jawab Nirmala menurut.


****


Dering ponsel mengagetkan Nirmala yang sedang memasak. Dilihat nama 'calon jenazah', lagi. Ia pun memutar bola matanya jengah. Tapi, tangan nya tetap terulur mendial icon gagang telepon berwarna hijau.

__ADS_1


Lagi-lagi ia lupa memberi salam dulu.


"Saya sudah sampai di terminal sedang menunggu jemputan."


__ADS_2