Penggemar Ku Seorang Ustadz

Penggemar Ku Seorang Ustadz
36. Jemput mas


__ADS_3

Nirmala menelan saliva ketika melihat kedua orang tua Adnan sudah menunggu di teras rumah. Sementara dirinya baru saja pulang dari Kantor Capil, padahal sebentar lagi Maghrib. 


Kesan pertama sudah buruk ketika pertama kali bertemu dengan mertuanya. Ah, Nirmala tidak suka mengulang usaha yang pernah dilakukannya dahulu ketika mencoba mengambil hati mertua. 


"Assalamualaikum,-" Nirmala bingung harus memanggil kedua mertuanya itu. 


"Abi dan ummi," kata Abi Musa mengerti atas kebingungan yang dirasakan Nirmala. 


Nirmala tersenyum kikuk disertai anggukan. Ia mencium punggung tangan kedua mertuanya tersebut. Saat tak sengaja, ia baru tahu bila ibu mertuanya ini sedang memperhatikannya. Beruntung Nirmala mengenakan gamis. 


"Ayo masuk Abi, ummi." Nirmala membuka pintu lalu mempersilahkan mertuanya masuk ke dalam rumah. 


***


Sepanjang hari Adnan ketar-ketir memikirkan sesuatu terjadi di rumah istrinya disana. Ditambah rasa rindu yang menggebu begitu menyiksa. 


"Ustadz kenapa?" Tanya Adi yang juga seorang ustadz.


Adnan menoleh kemudian duduk di samping Adi. "Nggak kenapa-kenapa, Tadz."


"Ustadz. Kenapa ustadz terus menolak dijodohkan dengan ustadzah Farah?" 


Semenjak kepergian Adnan, penolakan Adnan menjadi pertanyaan besar di kalangan ustadz-ustadzah dan para santri. Seperti yang diketahui, Farah terkenal dengan ke sholehanya. Suara merdu dan pemilik mata indah. 


Adnan tersenyum. "Saya sudah menikah, Tadz."

__ADS_1


Pernyataan Adnan mengejutkan Adi. "Menikah? Kapan, Tadz?" Tanyanya beruntun membuat Adnan terkekeh.


"Kemarin saat saya pergi sekalian nikahi istri saya."


"Ustadzah juga?" 


Adnan menggeleng. "Bukan."


"Santri?"


Adnan terkekeh mendengar pertanyaan itu. "Bukan. Istri saya itu idola saya, tadz." 


Adi semakin tidak mengerti. "Idola? Hafizah atau gimana, tadz?"


"Dia seorang penulis dan aku suka sama cerita dia." Adnan melihat pergelangan tangannya. "Saya pulang dulu, Tadz. Assalamualaikum."


***


Setiba di rumah, Adnan mengambil ponsel yang tak sengaja tertinggal. Dihubungi nomor sang istri, tapi tidak ada jawaban. Dan hal itu berhasil semakin membuat hatinya gusar.


Apalagi mengingat ucapan Nirmala jika ia tidak suka bertele-tele bila sedang bicara. Namun, ia sangat tahu bila Nirmala juga memiliki adab yang baik.


"Aku harus menyusul dari pada hati aku gak tenang begini."


****

__ADS_1


Sepanjang malam, Farah selalu berdoa agar Adnan menjadi suaminya. Ia sudah jatuh cinta dengan Adnan saat pertama kali bertemu.


Ia tahu, seharusnya tidak boleh menunjukkan. Namun, ia hanya insan biasa yang tak luput dari kesalahan. Seperti itu pula perasaannya.


Jadi, ketika Adnan memberitahu bahwa sudah menikah. Hatinya sangat sakit. Mengapa Adnan memilih yang lain sementara dirinya telah menunggu lama.


****


Seperti rencana awal. Adnan akan berangkat untuk menyusul kedua orang tua dan istrinya itu. Ditinggal selama tiga hari membuat dirinya tidak tenang. Bukan hanya nasib Nirmala yang dikhawatirkan melainkan orang tuanya juga. Khawatir bila istrinya akan membela diri apabila merasa tersinggung. 


Dari kota nya ke Bandar Udara Internasional Juanda menuju Bandar Udara Kualanamu menghabiskan waktu 4 jam 30 menit. 


Dari Bandar Udara Kualanamu Adnan akan dijemput taksi yang di pesannya menuju terminal. Ia akan menaiki bus menuju kota kelahiran istrinya yang akan menghabiskan waktu 6 jam. 


Tidak ada yang tahu kedatangannya sebab sedari pagi Nirmala belum juga membalas pesannya. Hal itu pula semakin membuat cemas tidak karuan.


Padahal, Adnan pergi menyusul tanpa izin dari pihak Pesantren. Beruntung dua hari ke depan hari libur. Meski di Pesantren tidak pernah libur. 


"Assalamualaikum, istri mas." Ucap Adnan sangat lembut ketika Nirmala menghubungi melalui panggilan telepon.


"Waalaikumsalam. Maaf, mas. Tadi aku ngantri di Bank."


Senyuman Adnan mengembang. "Iya gak apa-apa. Kamu sudah pulang?" 


"Ini mau pulang. Kenapa, mas?"

__ADS_1


"Jemput mas di Terminal, ya."


__ADS_2