Penggemar Ku Seorang Ustadz

Penggemar Ku Seorang Ustadz
19. Suami


__ADS_3

"La.."


"Lala.."


"Nirmala..."


Nirmala mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. Lalu buru-buru keluar kamar melihat siapa yang memanggilnya. Tampak nya banyak orang di depan rumah nya. Di buka pintu perlahan, benar saja. Sudah ada ibu-ibu tetangga nya.


"Ada apa, Bu?" tanya Nirmala keheranan.


Para ibu tersebut celingukan mengintip ke arah dalam rumah Nirmala. Sang pemilik rumah pun turut mengikuti arah Padang para ibu tersebut.


"Ibu cari siapa?" tanya Nirmala lagi.


"Kata nya, kamu sudah nikah tadi pagi ya, La?" tanya salah satu ibu tersebut.


Nirmala menelan saliva dengan kasar ditanya seperti itu. Ia takut bila mereka beranggapan buruk dengan nya. Apalagi, seorang janda dianggap jelek di mata masyarakat.


"Su-sudah Bu, pagi tadi."


"Wah.. Kamu gak bilang-bilang, ya. Enggak pernah keluar, tahu-tahu menikah. Beda sama janda sebelah, tiap hari boncengan naik motor lengket bener, tapi gak nikah-nikah!"

__ADS_1


Nirmala hanya mampu tersenyum kikuk saja sebab seperti itulah jika sudah bergabung dengan para ibu disini. Bukan hanya menggosipkan orang lain, mereka juga terkadang menceritakan seputar kehidupan masing-masing.


"Kenapa buru-buru, La? kalian gak aneh-aneh, kan?" tanya ibu itu lagi.


"Enggak, Bu. Aku dan suami memang gak mau lama-lama. Ketemu langsung nikah," jawab Nirmala jujur tanpa menceritakan awal mula hubungan mereka yang singkat dan diluar nalar.


"Oohh.." Ibu-ibu itu ber o ria bersamaan.


"Jadi.. Sekarang, mana suami kamu?" tanya salah satu ibu tersebut.


Nirmala hendak menjawab. Namun, ucapan salam dari Adnan membuat semua orang di teras rumah itu menoleh ke belakang.


"Assalamualaikum," ucap Adnan. Tatapan nya hanya tertuju pada Nirmala yang berdiri disana masih mengenakan mukenah. Rasanya adem melihat sang istri seperti ini.


"Ada apa? Kenapa ramai sekali?" tanya Adnan kepada Nirmala.


Sementara Nirmala masih diam memerhatikan penampilan Adnan, seperti tak asing dan pernah melihat nya. Namun, ia tidak mengingat nya.


"Gak kenapa-kenapa, mas. Kami cuma tanya sama Nirmala. Betul gak, dia sudah nikah."


Adnan mengangguk. "Betul, Bu. Kami menikah tadi pagi di Masjid. Kalau begitu, saya masuk ke dalam, ya." Ia masuk ke dalam rumah meninggalkan mereka yang memerhatikan nya.

__ADS_1


Salah satu dari ibu-ibu itu mencolek lengan Nirmala. "Hebat kamu, ya. Ganteng banget, beda sama mendiang suami mu."


Nirmala hanya tersenyum sebagai tanggapan. "Bu. Aku masuk dulu, ya. Nanti kita cerita lagi. Suami ku belum makan."


"Iya deh. Pengantin baru mau main lato-lato." Para ibu itu cekikikan setelah mengatakan itu dan pergi dari rumah Nirmala.


Nirmala bergidik ngerih mendengarnya. Ia tahu pasti maksud main lato-lato dari ucapan ibu tersebut.


Malam pertama.


Nirmala tidak langsung mendatangi Adnan. Ia harus ke kamar lebih dahulu membuka mukenah, melipat, dan merapikan sajadah yang masih terbentang di lantai. Setelah itu barulah menyusul Adnan yang tengah duduk di sofa sedang teleponan.


"Iya, bi. Aku akan ajak istriku."


Kalimat itulah yang di dengar Nirmala dan sudah berhasil membuat jantung nya hampir lepas dari pusara.


"Sudah dulu, bi. Nanti Adnan telepon lagi. Assalamualaikum." Pamim Adnan ketika melihat Nirmala berdiri mematung.


"Kamu kenapa?"


โค๏ธ

__ADS_1


Maaf belum bisa update kayak biasa. Emak masih beberes dan masih down atas kejadian ini๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2