Penggemar Ku Seorang Ustadz

Penggemar Ku Seorang Ustadz
12. Hahh?!!


__ADS_3

"Kenapa kamu berangkat lebih awal, Nan?" tanya Abi Musa kepada Adnan yang baru selesai bersiap.


Adnan menoleh melihat Abi Musa yang berdiri dekat lemari pakaian seraya memerhatikan nya. Ia pun duduk di tepi ranjang dan diikuti Abis Musa duduk di kursi rias nya.


"Apa kamu pergi lebih awal karena menghindari pertemuan dengan Kyai Hasan dan Farah?" tanya abis Musa merasa khawatir bila pertanyaan yang diberikan benar adanya.


Mendengar itu, tentu saja membuat Adnan menggeleng sebab tidak pernah menghindari Kyai Hasan dan tentu saja menghindar dari Farah karena tak ingin menimbulkan fitnah dan tak ingin membuat perasaan wanita itu terlalu dalam padanya.


"Jadi?" tanya Abi Musa lagi.


Adnan menghela nafas panjang. "Abi.. Gimana menurut Abi kalau saat aku pulang dari sana, aku membawa istri?" tanya nya pelan.


Bagaimanapun, tujuan dirinya selain menghadiri acara MTQ tersebut, ada niat lain, yaitu menemui wanita bernama Lala.


"Apa maksud kamu, Nan? Jadi, selama ini kamu sudah punya calon istri? Kamu pacaran?" berondong Abi Musa panik karena pacaran itu dilarang dalam Agama yang mereka anut, Agama Islam.


"Bukan, Bi. Baru saja aku akan menemui dia bersama teman ku. Aku sama sekali belum pernah bertemu dengan nya, bi."


Abi Musa tampak diam beberapa saat. "Nak. Perempuan itu menyukai orang yang bisa mengarahkannya. Ia mencintai kata-kata cinta yang diungkapkan dengan jelas. Jangan bakhil untuk mengucapkan kata-kata cinta karena kalau tidak engkau lakukan, akan ada jurang pemisah antara dirinya dengan dirimu."


"Sesungguhnya perempuan diciptakan dari tulung rusak yang berkok. Itu adalah rahasia kecantikan dan rahasia keterpesonaannya. Ini bukan sebuah aib dirinya. Jika ia salah, jangan bebani ia dengan beban yang tidak dapat ia bawa. Berusahalah meluruskan kesalahannya dan jangan engkau patahkan dengan mentalaknya. Jangan tinggalkan ia ketika salah sehingga akan semakin bengkok. Namun, jangan terlalu lemah setelah itu sehingga ia tidak mendengarkan dirimu. Jadilah bersamanya sedang-sedang saja."


Adnan mendengar nasihat dari Abi Musa dengan seksama. Inilah yang disukainya ketika bercerita kepada beliau. Pasti akan membuat hati dan pikiran nya tenang.


"Terimakasih, bi. Kalau begitu, Adnan pergi dulu." Adnan menyalam takzim kemudian keluar kamar dan berpamitan kepada Ummi.


Adnan menaiki ojek yang mangkal di persimpangan menuju terminal. Sepanjang jalan, ia memikirkan nasib nya ketika sampai di kota tujuan nya. Sebagai laki-laki ditantang seperti itu membuat jiwa kelaki-lakian merasa tertantang.


Ia menggeleng mengingat dirinya seakan terburu-buru. Sekarang, Adnan berserah diri pada yang kuasa jika begini jalan jodohnya, maka harus diterima nya. Semenjak mendapat tantangan oleh penulis itu, setiap sholat tahajud dan istikharah, hati Adnan selalu merasa tenang.


****


Keesokan hari Adnan sudah tiba di Kota Kabupaten. Pandangan nya mengelilingi sekitar sudah banyak perubahan dari beberapa waktu lalu. Sembari menunggu jemputan dari teman nya, Adnan menyebrang jalan menuju Masjid yang berada di seberang Terminal.

__ADS_1


Sebelum menyeberang, Adnan menelepon calon istrinya lebih dulu. Ia tersenyum simpul setiap kali mendengar suara ketus diseberang telepon. Sama sekali tidak tersinggung, justru merasa tenang sebab tak ingin bila calon istrinya berbicara kepada lawan jenis dengan suara yang mendayu.


Sesampainya di Masjid, Adnan menaruh barang bawaan nya di dalam Masjid kemudian mengambil wudhu melaksanakan sholat Ashar.


****


"Assalamualaikum, Tadz." Ucap seorang pria, teman Adnan, ustad Zaki mengulurkan tangan ke hadapan Adnan.


Adnan tersenyum. "Waalaikumsalam, Tadz." Ia juga mengulurkan tangan menerima jabat tangan Zaki. "Jangan panggil aku begitu."


Zaki mengangguk dan tersenyum. Zaki sendiri adalah ustad terkenal di Kabupaten kota ini, sudah menikah dan memiliki 2 anak.


Mereka masuk ke dalam mobil belum melaju.


"Kenapa berangkatnya dipercepat? Terus kenapa gak bawa mobil sendiri? Bukan nya kamu bilang akan sampai besok?" tanya Zaki beruntun penasaran oleh kedatangan sang teman yang dipercepat.


Adnan sendiri nyengir kuda mendapat pertanyaan beruntun itu. Ia pun mengeluarkan surat-surat yang sudah di urusnya sebelum berangkat ketempat ini.


"Belum. Ceritanya panjang. Ayo, antar aku ke alamat ini." Adnan memberikan sebuah ponsel yang tertera alamat calon istrinya itu.


"MasyaAllah, Nan. Alamat ini tempat MTQ dilaksanakan. Jodoh yang gak di sangka-sangka, ya?" Zaki tertawa atas ucapan nya, sementara Adnan tersenyum mendengar itu tanpa menanggapi.


Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?


Adnan sendiri merasa ini seperti anugrah karena bekerja sekaligus akan bertemu calon istrinya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Keduanya banyak mengobrol tentang kehidupan masing-masing selepas dari Kairo.


"Jadi, kamu akan menikah dengan calon kamu kapan?" tanya Zaki penasaran.


"Besok," jawab Adnan enteng membuat Zaki terkekeh lagi.


"MasyaAllah, hebat."

__ADS_1


Adnan tersenyum lagi dan berucap syukur dalam hati.


****


Sudah hampir satu bulan Nirmala pindah ke rumah kontrakan di Kampung sebelah dimana Mess Perusahaan Berada. Tidak jauh, hanya berbeda dusun tetap satu Desa. Uang kematian mendiang Arman juga sudah keluar dan ia membagi dua kepada ibu mertuanya. Namun, tanpa ibu mertua ketahui masih ada uang lebih nya dari BPJS ketenagakerjaan dan Jamsostek. Tentu saja ia harus mengurus nya lebih dahulu membuat keterangan kematian melalui Desa dan pihak Rumah Sakit. Sedikit sulit, tapi tidak merepotkan bagi Nirmala.


Semenjak tinggal di rumah kontrakan, Nining lebih sering tinggal bersama Nirmala sebab tidak nyaman oleh Abang ipar di rumah orang tuanya.


Nirmala baru saja sampai di rumah, Nining membuka pintu, dan ia mengangkat jemuran pakaian nya. Matanya memicing ketika melihat mobil melaju pelan seperti hendak berhenti di depan rumah nya. Seketika membuatnya ketar-ketir sebab sedari tadi berbalas pesan dengan 'calon jenazah' itu.


Tepat sekali dugaan nya. Mobil Avanza hitam itu berhenti tepat di rumahnya. Ia melihat sekeliling ada beberapa ibu-ibu. Nirmala langsung masuk rumah melalui pintu dapur.


"Ning. Ada tamu. Cepat angkat pakaian yang di sofa tadi pagi," pekik Nirmala berjalan cepat menuju kamar. Begitu juga Nining mendengar itu langsung mengerjakan.


Tak lupa keduanya mengambil bungkus-bungkus jajan yang ada di atas meja dan dibawa ke dapur.


Nirmala membuka pintu dan menjawab salam dari tamu nya. Dilihat dua pria tampan tapi langsung menunduk ketika melihat Ustadz Zaki salah satu dari pria tampan itu.


Alhamdulillah, bukan calon jenazah itu. Pikir Nirmala dalam hati.


Nirmala menggeser tubuhnya dan mempersilahkan kedua pria itu masuk ke dalam rumah. Ia juga membiarkan pintu rumah terbuka demi mengurangi fitnah. Beruntung ia masih mengenakan pakaian muslim.


"Maaf, Tadz. Ada perlu apa, yah? Apa mengenai kafilah lusa atau ada permintaan mengenai makanan bagi ustadz?" tanya Nirmala. Tak berapa lama Nining datang dari dapur membawa nampan berisi teh hangat untuk kedua pria itu.


Nirmala sendiri merasa aneh dengan teman Zaki yang sedari tadi memerhatikan nya.


"Bukan. Kafilah dan makanan sesuai yang akan disediakan pihak konsumsi saja. Saya datang kesini ada perlu dengan kamu, La."


Nirmala mengerutkan dahi seraya menunjuk dirinya sendiri.


Zaki mengangguk. "Saya perwakilan dari teman saya, Adnan." Ia menunjuk Adnan yang masih diam saja. "Untuk melamar kamu."


"Hahh?!!"

__ADS_1


__ADS_2