
"Sudah jangan merasa bersalah terus. Mas juga salah, tadi." Adnan mencoba menenangkan Nirmala sedari tadi tampak diam saja lantaran tidak memasak untuk sarapan. Padahal, ia sudah membeli kelontong ketika baru pulang dari Masjid.
"Iya. Aku hanya ngerasa gak enak sama kamu, mas."
Adnan menggenggam tangan Nirmala disertai senyuman manis yang dapat menggetarkan hatinya. Ia merasa seperti anak ABG sedang jatuh cinta saja, pikir Nirmala.
Selesai sarapan, Nirmala kembali izin pergi untuk menjadi panitia MTQ. Sebab hari kedua ini sudah banyak perlombaan yang akan diadakan. Ada banyak perlombaan seperti Tahfidz Qur'an, cerdas cermat, ayat pendek, dan banyak lagi. Ada pula perlombaan nasyid rebana putra dan putri pada malam ketiga. Keesokan yaitu hari ke tiga dimana hari terakhir MTQ pengumuman juara, pembagian hadiah, upacara penutupan acara MTQ dilaksanakan.
Nirmala mencium punggung tangan Adnan setelah izin. "Aku pergi, mas."
Adnan tak lupa mengecup kening dan bibir nirmala sebelum istrinya itu keluar dari rumah.
"Mas, ih." Nirmala protes tapi terdengar seperti rengekan malu-malu kucing.
"Kenapa harus pakai pewarna bibir? Mas cemburu," tutur Adnan jujur.
Nirmala nyengir kuda mendengar penuturan Adnan. "Padahal ini sudah paling transparan warna nya, mas."
"Memang bibir kamu yang merah," kata Adnan menimpali membuat Nirmala tersipu malu.
__ADS_1
Nirmala pergi dengan sepeda motor matic nya. Sedangkan Adnan berada di rumah saja mengerjakan pekerjaan rumah. Sebenarnya, Nirmala ingin mengerjakan sebelum pergi. Tapi, Adnan melarang. Ia tidak ingin membuat istrinya itu sangat kelelahan. Ia juga sadar bila Nirmala sangat kelelahan akibat nafsu nya yang sulit terkontrol.
Apalagi mendapati pelayanan dari Nirmala sangat memuaskan dirinya.
Adnan memulai dari menyapu halaman, sapu lantai lalu mengepel, cuci piring, dan cuci pakaian. Ia ingat pesan Nirmala agar janga jemur pakaian. Baiklah, ia akan menuruti perkataan istrinya.
Selesai beberes, Adnan pergi ke warung terdekat untuk membeli lauk dan sayur mentah.
"Oh. Jadi beneran ya suami Lala ustadz?" Tanya penjual warung.
"Iya, Bu."
Adnan mendengar itu gegas menyudahi belanja nya. Ia tak ingin mendengar cerita dari penjual sayur meski itu hal benar.
Sesampainya di rumah, Adnan segera mengeksekusi belanjaan nya. Tumis kangkung dan sambal ikan lele. Sebelum menikah sudah rumah sendiri membuatnya bisa memasak. Apalagi pendidikan jauh di Kairo memaksanya menjadi pria serba bisa.
Hari mulai sore dan langit tampak mendung. Adnan menunggu Nirmala harap-harap cemas. Tapi, mencoba tetap tenang usai mendapat kabar Nirmala segera pulang.
***
__ADS_1
"Assalamualaikum," pekik Nirmala ketika melihat rumahnya tertutup. Keadaan nya sekarang basah kuyup sebab sedang hujan deras sedari tadi.
Benar, ketika langit tampak mendung tak lama setelah itu hujan turun deras. Acara MTQ juga terpaksa dihentikan sejenak menunggu keadaan lebih kondusif. Para panitia kalang kabut menyelamatkan barang-barang. Apalagi hujan deras disertai angin kencang.
"Waalaikumsalam," suara Adnan terdengar panik dan buru-buru membuka pintu. Benar saja, ia menduga itu suara Nirmala.
"Sebentar. Mas ambil handuk," kata Adnan kembali masuk untuk mengambil handuk di jemuran dapur. Setelah itu kembali ke depan.
Adnan membawa Nirmala masuk menuju dapur. Membantu istrinya membuka hijab, baju, rok, dan dalaman. Kemudian membalut tubuh polos istrinya dengan handuk. "Kamu duduk. Sebentar mas rebus air untuk kamu mandi," terang nya penuh khawatir.
Adnan juga membuat teh hangat buat Nirmala. Setelah air mendidih, ia membawa air panas itu ke dalam kamar mandi dan di tuang ke dalam ember lalu dicampur dengan air biasa. Dirasa hangat nya cukup, Adnan keluar kamar mandi menghampiri Nirmala. "Sayang. Air hangat nya sudah siap. Mandi dulu, ya."
Nirmala hanya mengangguk saja dengan mata mulai memanas. Ia tidak menyangka akan mendapat perlakuan manis seperti ini dari Adnan. Seumur ia menjadi istri, baru kali pertama ia diperlakukan seperti ini. Biasanya, jika sudah keluar sendiri tanpa Arman dan kehujanan maka pulang ke rumah akan dimarahi.
Di dalam kamar mandi, Nirmala mengguyur tubuh nya secara perlahan beriringan dengan isak tangis nya. Bukan dirinya menyesali telah dinikahi oleh Arman. Ia juga masih mengingat pria itu lah yang menyelamatkan dirinya dari kehidupan masa lalu.
Beberapa saat berlalu, Nirmala keluar dari kamar mandi dan melihat Adnan sedang menunggu nya. Hatinya kembali tersentuh dimana suaminya itu membantu mengenakan pakaian nya.
"Haciim," Nirmala bersin ketika Adnan membantu menyisir rambut. Beruntung rambutnya tidak tersangkut di sisir.
__ADS_1
"Kamu pasti flu. Sampai nangis begini," ucap Adnan sangat khawatir.