
Adnan bersenandung sholawat yang sedang viral di salah satu aplikasi booming sembari mengelus pucuk kepala Nirmala. sedari malam ia terus menjaga istrinya itu dengan setia. Bahkan ia memasak dan menyuapi Nirmala tanpa ragu.
Seperti seorang sedang jatuh cinta dan di mabuk asmara. Seperti itulah keduanya. Adnan merasakan berpacaran setelah menikah itu memang benar-benar indah. Hanya saling pandang saja dapat pahala, apalagi yang lain nya.
Tak sabar rasanya ingin membawa Nirmala ke rumahnya.
Nirmala tersenyum mendengar Adnan sedang sholawatan di samping nya. Sedangkan dirinya hanya rebahan tidak diperbolehkan untuk turun dari tempat tidur karena masuk angin.
Teringat kebawelan Adnan malam tadi membuat darah nya berdesir.
"Jangan lagi hujan-hujanan, La. Lihat, merah semua punggung kamu." Meski sedari tadi Adnan terdengar bawel, tetapi begitu perhatian.
Sediakan teh hangat, makan malam, dan sekarang sedang mengurut badan Nirmala juga kerokin pakai koin dan bawang.
***
"Nyanyi dong, mas." Pinta Nirmala. Teringat dulu saat zaman masih sekolah, ingin sekali punya pacar atau suami yang nyanyikan sebuah lagu untuknya. Apalagi diiringi dengan gitar.
"Tapi lagu Indonesia, ya. Jangan Arab atau bahasa Inggris," rengek nya. Bagaimanapun, Nirmala juga tak lupa mode kunti nya.
Adnan menatap Nirmala sejenak. "Mas gak pintar nyanyi, sayang."
Nirmala cemberut mendengarnya. "Gak pintar, itu artinya bisa nyanyi, mas. Bilang saja gak mau," katanya sewot.
Melihat Nirmala cemberut membuatnya ketar ketir. Menggaruk kening yang sama sekali tidak merasa gatal. Bingung harus menyanyikan lagu apa.
"Mas."
"Hem."
"Ish, ya udah deh. Gak usah nyanyi." Ucap Nirmala kesal.
Tatapan keduanya bertemu. Adnan tersenyum mendengar ucapan Nirmala barusan.
"Tapi jangan tidur bareng aku."
Surut sudah senyuman yang baru saja terbit. "Sayang."
Kau begitu sempurna, dimataku kau begitu indah
Kau membuat diriku, akan slalu memujamu
__ADS_1
Nirmala yang tadi nya memunggungi Adnan kembali mengubah posisi menjadi menatap suaminya yang juga sedang menatapnya.
Disetiap langkah ku, ku 'kan s'lalu memikirkan, diri mu
Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu
Nirmala senyum malu-malu mendengarnya. Sekali lagi, ia merasa keinginan dan impian di masa lalu terwujud melalui Adnan. Dahulu, ketika masih menjadi istri Arman. Ia menginginkan suaminya menghibur sedikit saja ketika sedang bersedih. Namun, apa yang di dapat?
Arman akan memberikan uang jajan dan menyuruhnya beli sesuatu agar hati nya menjadi tenang kembali. Padahal, bukan hanya materi yang dapat menenangkan hati seorang wanita, apalagi seorang istri. Ia hanya membutuhkan sedikit perhatian agar hatinya kembali tenang.
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku, lengkapi diri ku
Oh sayangku kau begitu
Sempurna, sempurna
Nirmala duduk dan menangkup wajah Adnan setelah nyanyian itu berhenti. Di kecup seluruh wajah pria itu dengan lembut. Menyesap bibir yang merah sebab tak tersentuh benda bernikotin itu.
"Mas juga mencintaimu, dek. Mas sayang padamu. Mas bersyukur dipertemukan padamu."
Degup jantung kedua nya bertalu-talu dan lagi-lagi melakukan aktifitas di atas tempat tidur di pagi hari. Sepertinya, setelah ini flu dan masuk angin Nirmala akan sembuh. Sebab sudah diobati Adnan dengan obat alami.
****
Hari ini adalah hari ketiga acara MTQ dan itu berarti acara akan segera selesai. Nirmala sudah tampak lebih sehat dari hari semalam. Meski ia lebih dahulu berada di tempat lokasi, tak lupa menyiapkan keperluan Adnan saat hendak berangkat ke tempat lokasi.
Nirmala menghentikan sepeda motor tepat di depan rumah kontrakan nya. Ia menenteng sebuah plastik kresek berisi nasi bungkus.
"Assalamualaikum, mas."
"Waalaikumsalam, dek."
Setelah mencium punggung tangan Adnan dan mendapat balasan kecupan di kening dari suaminya itu, ia mengecup pipi Adnan kemudian memberikan nasi bungkus yang dibawa nya.
"Ini jatah makan, mas." Katanya.
"Tapi mas sudah makan masakan kamu, sayang. Kasih ke orang lain, saja." Tolaknya. Bukan tidak suka, tapi daripada mubazir di rumah tidak di makan. Apalagi Nirmala juga tidak makan di rumah.
__ADS_1
"Mas. Ini nasi Padang, loh. Khusus untuk mas, sayang kalau di kasih ke yang lain." Tentu saja ia bilang seperti ini karena ia sangat suka nasi Padang.
Adnan diam sejenak menatap Nirmala. "Kamu mau?"
Benar dugaan Adnan. Terlihat dari reaksi Nirmala yang senyum malu-malu dan pipi memerah sudah meyakinkan nya. Ia menerima nasi bungkus itu kemudian mengajak istrinya masuk ke dapur.
Nirmala bersorak gembira dalam hati ketika Adnan hendak memakan nasi Padang yang dibawa nya. Ia pun mengambilkan piring dan satu sendok. Dibukakan bungkusan itu dan menyerahkan kepada Adnan.
Ingin rasanya Adnan tertawa melihat reaksi Nirmala sedari tadi sangat antusias membuka nasi Padang tersebut. Ia pun mulai mengambil makanan dengan sendok dan menyodorkan ke hadapan Nirmala.
"Kok di suapin ke aku?" Tanya Nirmala.
"Kamu mau, kan?"
Nirmala mengangguk antusias dan itu berhasil membuat Adnan merasa gemas dengan tingkah istrinya itu. "Kamu gemesin banget, tahu!"
Keduanya tertawa dan nasi Padang itu telah habis tak bersisa karena telah dimakan oleh Nirmala yang di suapi dari tangan Adnan sendiri.
Sore hari saat upacara Bendera penutupan acara MTQ, Nirmala mendapat telepon dari pihak Perusahaan dimana mendiang suami pertamanya bekerja.
Ia pun segera mengirim pesan kepada Adnan kemudian pergi menuju Kantor Pabrik. Ternyata data pribadi Arman di kartu ketenagakerjaan tidak sesuai dengan data yang ada di KTP. Sehingga mengharuskan Nirmala untuk mengurusnya agar uang anggota di kartu ketenagakerjaan tersebut dapat di cairkan.
Setelah sampai di Kantor, Nirmala segera menemui pihak administrasi untuk mengambil surat keterangan ketidak cocokan data tersebut lalu membawa nya pulang. Esok hari, ia akan mengurusnya di kantor Cipil.
Usai urusan nya telah selesai, Nirmala kembali ke tempat acara MTQ sebab harus standby hingga acara berakhir.
Ketika sampai di lokasi, Nirmala melihat Adnan berada di tempat duduk paling depan barisan orang-orang penting disana. Tentu saja ia tak ingin mengganggu, apalagi perlombaan yang di selenggarakan pembacaan Tilawatil Qur'an tingkat remaja.
"Begini amat yang punya suami orang wow begini. Susah berubah jadi genderuwo ataupun mbak kunti."
"Astaghfirullah, La. Jangan ngeluh. Ini demi kebaikan dunia akhirat kamu," gumam Nirmala pada diri sendiri.
Ia pun duduk di salah satu warung gorengan pinggir jalan sekitar lokasi acara MTQ. Memesan mie ayam bakso dan jus jeruk.
Dilihat ponselnya yang bergetar.
"Assalamualaikum, mas."
"Istri mas lagi dimana?"
"Istri kamu ada di warung pinggir jalan."
__ADS_1