
Farah tertunduk malu kepada kedua orang tuanya. Tidak tahu harus berbuat apa agar kedua orang tuanya tidak lagi marah dan kecewa kepadanya. Apalagi berita penolakan Adnan terhadapnya sudah tersebar luar di pesantren.
Ummi kulsum juga sudah menangis sedari tadi akibat malu yang tak tertahankan. Sementara kyai Hasan sedari tadi diam membisu dan semakin membuat Farah takut.
"Jangan lagi kamu nampakkan wajah kamu keluar rumah. Abi malu punya anak seperti kamu," kyai Hasan bangkit masuk ke dalam kamar di ikuti ummi kulsum.
****
Sejak kejadian itu, Nirmala lebih banyak diam. Terkadang tanpa sepengetahuan Adnan, Nirmala menangis di tengah malam atau bahkan saat melamun, air mata itu menetes tanpa sendirinya.
Tidak ada lagi saling bercanda atau Nirmala yang manja kepada Adnan. Tidak ada lagi obrolan sebelum tidur ataupun mendiskusikan masa depan.
Trauma masa lalu di tambah kehamilan Nirmala membuatnya semakin sensitif. Setiap kali Adnan mengajar di pesantren, ia menjadi overthinking. Berpikir bahwa Adnan akan diam-diam menikahi Farah.
__ADS_1
"Sayang," panggil Adnan membawa segelas susu hamil.
Nirmala mengusap air matanya kemudian menoleh ke arah Adnan. Memberikan senyuman kepada suaminya itu. "Makasih, mas." Ia pun minum susu hamil itu tanpa mengatakan apa pun.
Adnan sendiri mendapati sikap Nirmala berubah hanya dapat menghela nafas panjang. Ia begitu merindukan Nirmala yang dulu, yang selalu ceria dan terbuka padanya.
Ia juga sedih karena Nirmala sudah tidak ingin keluar rumah lagi. Padahal sebelumnya, saat pesantren libur akhir pekan. Nirmala pasti mengundang beberapa santriwati untuk makan siang bersama. "Sayang. Kamu kenapa?" tanya Adnan ingin sekali Nirmala terbuka lagi padanya. Tapi, keinginan nya justru tidak terkabul saat Nirmala menggelengkan kepala.
Sebelum waktu sholat ashar, Adnan pamit untuk kembali ke pesantren karena hari ini gilirannya menyampaikan tausiyah. Waktu lalu, jika ia akan mendapat giliran atau undangan tausyiah maka Nirmala akan sangat semangat. Apalagi melihat penampilannya dengan baju koko.
****
"Sayang. Apa mas keluar saja dari pesantren, ya?" tanya Adnan bersimpuh di kaki Nirmala yang sedang duduk menyisir rambut.
__ADS_1
Nirmala terkejut langsung menunduk menatap Adnan penuh tanda tanya. "Kenapa keluar, mas?"
"Kalau mas ke pesantren dan buat kamu sedih dan over thinking, lebih baik mas berhenti. Mas gak mau kamu begitu terus, sayang."
Nirmala membuang muka tidak tahan menatap Adnan terlalu lama. Yang dikatakan Adnan, benar. Tapi, bukan berarti harus begini. "Maafin aku, mas. Aku takut kamu akhirnya menikah lagi. Aku gak mau di madu, mas."
Adnan menghela nafas panjang. "Gak akan ada pernikahan kedua, sayang. Tolong percaya sama, mas. Hanya kamu dan anak-anak kita yang akan menemani hidup mas. Jangan berpikiran begitu, ya."
Tangis Nirmala pecah. "Aku juga gak mau begini tapi pikiran itu datang sendiri, mas. Aku takut kamu lupa sama aku kalau kamu nikah sama mbak Farah."
"Ya, Allah. Itu gak akan mungkin, sayang. Tolong jangan nangis, ingat anak kita."
Diusap air matanya mendengar bila ada anak diantara mereka. Nirmala sudah mengabaikan hal itu beberapa hari ini. Fokusnya hanya takut jika Adnan akan menikah lagi. "Maafin aku, mas." ucapnya tulus karena jika tidak diperhatikan Adnan, maka Nirmala mengabaikan kehamilannya.
__ADS_1
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, ya. Mas gak akan menikah lagi. Mas janji."