
"Eng-engak perlu, pak. Bapak duduk saja disana. Bapak bisa main hape atau baca buku, atau laptop saya di kamar. Biar saya saja yang masak." Nirmala menolak dibantu oleh Adnan.
Adnan mengangguk dan duduk di kursi, meja makan yang ada di dapur.
Nirmala sendiri merasa bingung pada dirinya. Dahulu, ingin sekali pekerjaan rumah dibantu oleh suaminya, sama seperti para tetangga nya dahulu. Tapi, sekarang? Mengapa ia merasa aneh seperti ini?
Kenyataan nya, banyak yang seperti Nirmala. Ingin sesuatu yang lebih baik dan Sang Pencipta mengabulkan nya. Namun, karena sudah sangat lama terbiasa melakukan apapun sendiri membuat nya merasa keinginan nya yang telah terkabul itu sedikit aneh.
Ia menggeleng kecil lalu melanjutkan masak nya. Membiarkan Adnan duduk memerhatikan nya.
Masakan nya telah siap dan disajikan ke atas meja makan. Ia tetap diam tak terpengaruh dengan tatapan Adnan sedari tadi ke arah nya. Mungkin, sudah lama menikah dan tak pernah dekat dengan laki-laki setelah menjanda membuatnya tak merasa gugup sedikitpun.
"Mau makan sekarang, pak?" tanya Nirmala memberanikan diri menatap Adnan.
__ADS_1
Adnan menggeleng. "Nanti saja setelah selesai sholat Zuhur."
Nirmala mengangguk mengerti. Ia pun menutup masakan nya dengan tudung saji. Mengingat esok adalah acara MTQ, ia harus pergi ketika sore hari untuk membantu mempersiapkan pembukaan acara.
"Pak. Sore nanti gak apa-apa aku tinggal, pak?" tanya Nirmala ragu-ragu.
Adnan diam sejenak tak langsung menjawab. "Memangnya kamu mau kemana?" ia tak menjawab melainkan bertanya kepada Nirmala.
Adnan mengangguk mengizinkan Nirmala pergi. "Tapi ingat. Waktu sholat kamu harus segera pulang dan sholat dulu setelah itu bisa balik lagi."
Nirmala tersenyum mendengar ucapan Adnan. Hatinya menghangat diingatkan waktu sholat. Ah, seperti masa pacaran saat SMA saja.
Cukup lama keduanya diam diri hingga terdengar suara adzan dari Masjid dimana mereka akad pagi tadi. Adnan bangikit dari duduk. "Saya mau ke Masjid. Kamu ja gan tinggal sholat nya."
__ADS_1
Nirmala hanya mengangguk dan melihat Adnan mengambil kopiah dari dalam tas. Kemudian mendekat ke arahnya. Ia pun mengerti dan langsung meraih tangan Adnan dan mencium punggung tangan nya, salam takzim.
Tubuh Nirmala membeku ketika Adnan mengecup kening nya setelah dirinya melakukan salam takzim. Darahnya berdesir tak karuan menerima perlakuan Adnan begitu. Jika di dalam agama seperti itu sangat dianjurkan, tapi. Sebab dirinya tidak perna melakukan dan orang-orang yang tinggal di sekitar rumah nya tidak pernah melakukan itu membuatnya merasa tabu.
"Saya pergi sholat. Kamu juga."
Seperti yang diperintah Adnan, Nirmala memilih sholat di rumah. Dalam doa nya, Nirmala mengucapkan ribuan terimakasih dan memohon agar menjadikan pernikahan ini terakhir untuk nya dan juga Adnan. Ia juga meminta agar hati nya ikhlas dan berusaha menjadi istri yang baik. Memohon diberi momongan atas pernikahan ke duanya.
Beberapa saat kemudian setelah selesai sholat, Nirmala mengambil laptop dan ponsel di atas kasur lalu dibawa nya ke ruang tamu. Ia belum membuka mukenah nya. Laptop dan ponsel di nyalakan lalu menulis novel kelanjutan episode sebelum nya.
"La.."
"Lala.."
__ADS_1