
Mata Adnan hampir keluar melihat penampilan Nirmala. Kebaya merah ketat menampakkan lekuk tubuh yang dapat membangkitkan syahwat. Kebaya transparan dengan memakai braa tanpa tali berwarna krim dan rok kain sebatas separuh paha saja.
Daerah perut tembus pandang menampakkan perut Nirmala yang rata dan mulus. Adnan sudah kembali masuk ke dalam kamar, duduk di kasur dan bersandar pada headboard langsung berdehem lalu menegakkan tubuhnya. Mengalihkan pandanganeski sesekali melirik ke arah Nirmala masih berdiri dengan senyum nakal.
Adnan sendiri merasa tak menyangka bila Nirmala memiliki pikiran untuk berpenampilan menggoda seperti ini. Memang benar jika dirinya tahu dan sadar kalau malam ini adalah malam pertama bagi pernikahan mereka. Namun, ia juga tak ingin memaksa Nirmala untuk melaksanakan hubungan badan. Biarlah hal itu dilakukan seiring waktu saling mengenal, pikirnya.
Pria itu tidak menyangka bila Nirmala akan memakai kebaya seksii seperti ini, sekarang. Dari lirikan, curi-curi pandang. Adnan melihat lekuk tubuh dan bentuk tubuh sangat bagus. Seketika itu pula timbul rasa cemburu terbit di hati mengingat dirinya bukan pertama melihat istrinya. Meski tahu yang melihat tubuh bagian dalam Nirmala adalah suami sebelumnya.
Adnan berdehem semakin gugup ketika Nirmala berjalan menuju ke arahnya. Sungguh, Adnan kesulitan mengendalikan degub jantung nya. Mungkin, ini reaksi tubuhnya yang tak pernah sedekat ini dengan seorang perempuan selain sang ibu.
"Aku buatin kopi susu buat, mas." Kata Nirmala menyerahkan segelas kopi susu kepada Adnan. Tadi, sebelum masuk ke dalam kamar Nirmala sempat membuat kopi susu.
Nirmala sendiri sebenarnya belum sepenuhnya siap untuk melaksanakan kewajiban nya sebagai istri sesungguhnya. Tapi, ia berpikir secara logis. Jika bukan malam ini, kapan lagi akan menjalani pernikahan sesungguhnya? Bukankah jika malam ini tidak dilaksanakan, maka akan terlaksana juga pada malam selanjutnya?
Meski tak dipungkiri, rasa gugup menyelimuti dirinya dan masih dapat di atasi. Bukan hanya itu saja, Nirmala juga sudah pasrah jika nafkah batin nya akan sama seperti dulu, lagi. Entahlah, jika memang harus sama seperti dahulu maka sudah saat nya ia menerima takdir yang diberikan Ilahi.
"Mas, suka kopi nya atau susu nya?" tanya Nirmala. Ia tahu jika Adnan terkejut dan hampir tersedak akibat ulahnya yang membusungkan dada ke arah pria itu.
Kenapa wajah mas Adnan sangat menggemaskan?
Ingin sekali Adnan menghilang untuk saat ini setelah mendengar pertanyaan Nirmala. Apa yang harus di jawab sekarang ini?
"Mas gak pengen nyusu?" tanya Nirmala lagi semakin menggoda Adnan sebab wajah suaminya itu sudah memerah bak buah tomat.
Lengkap sudah.
__ADS_1
Adnan tidak dapat mengendalikan dirinya lagi. Ia benar-benar tak menyangka bila Nirmala seberani ini menggoda nya. Benar-benar diluar dugaan.
"Dek," panggil Adnan memberanikan diri.
Kedua sudut bibir Nirmala tersenyum mendengar Adnan memanggilnya dengan sebutan 'dek'. Hati nya berbunga-bunga hanya karena satu kata itu. Semenyedihkan itukah dirinya?
Semiris itukah nasib batin nya yang tak pernah terpenuhi?
"Ya, mas."
"Kamu sudah siap?" tanya Adnan menatap mata Nirmala.
Nirmala tersenyum kikuk disertai anggukan. Melihat itupun membuat Adnan tersenyum.
Nirmala sedikit terkejut. Sebab, ia tidak tahu sholat apa yang akan mereka kerjakan. Ia hanya diam saja.
"Mas ajari. Kita akan sholat Sunnah sebelum melakukan malam pertama," terang Adnan kembali mengecup kening Nirmala setelah mengucapkan kalimat barusan.
Malu.
Nirmala malu sebab tidak tahu dan sangat dangkal ilmu agama yang dimilikinya. Ia hanya dapat mengangguk kecil saja dan mengikuti Adnan.
"Aku ganti baju dulu, mas." Cicit Nirmala seraya menunduk melihat tampilan nya sangat mengundang syahwat tersebut.
"Jangan!!" Pekik Adnan menghalangi Nirmala hendak membuka kebaya merah itu.
__ADS_1
Kedua tatapan mereka bertemu.
"Kamu tambah cantik kalau gini. Tetap begini saja," ucap Adnan malu-malu mencoba untuk tidak menatap Nirmala terus. Bagaimana pun, penampilan Nirmala sangat menyiksa pusaka miliknya.
Nirmala menunduk disertai senyum malu-malu. Apakah seindah ini dipuji oleh seorang pria? Padahal kalimat itu begitu sederhana, tapi dapat membuat hati nya berbunga-bunga. Seperti ada banyak kupu-kupu beterbangan di perut nya. Rasanya begitu menggelitik.
Keduanya sudah berwudhu dan menjalankan sholat Sunnah dengan Adnan menjadi imam.
Untuk kali pertama, meski sholat Sunnah. Nirmala terharu sebab sholat akhirnya merasakan suami sendiri menjadi imam nya. Mimpi nya sedari dahulu sebelum di nikahi oleh Arman. Setiap sujud, tubuh Nirmala tampak bergetar sebab merasa bersyukur tiada terkira.
Nirmala kembali berdandan sebelum berhadapan dengan Adnan. Bukan berdandan seperti hendak kondangan. Tapi, ia kembali mengenakan pewarna bibir, memakai lotion, dan parfum. Percayalah, meski ia pernah menjadi seorang istri. Tetap saja mengalami kegugupan luar biasa.
Adnan tersenyum melihat Nirmala sedang mempersiapkan diri sebelum berhadapan nya. Padahal, ia merasa khawatir bila hasil kerja keras nya nanti tidak sebanding kehebatan nya dengan mendiang suami Nirmala.
Adnan menegakkan badan setelah Nirmala baru saja duduk di hadapan nya. Diperhatikan nya sekali lagi penampilan Nirmala begitu menggoda. Setelahnya, ia berdoa sebelum menggauli istrinya.
"Kamu sudah siap?" tanya Adnan lembut menunduk melihat Nirmala. Di raih dagu Nirmala perlahan hingga kedua tatapan mereka bertemu.
"Aku siap, mas. Lakukanlah dan aku berharap, kamu gak kecewa dengan ku yang sudah gak gadis lagi."
Adnan meletakkan jemari telunjuknya ke bibir Nirmala. "Aku menikahimu dengan keyakinan penuh. Apapun terjadi, aku akan tetap mempertahankan kamu dan berpegang atas komitmen kita."
Nirmala mengangguk disertai senyuman.
"Ajari mas, ya."
__ADS_1