
"Kamu jangan banyak ngerjain rumah, sayang. Mas itu sengaja bayar orang untuk memasak untuk acara syukuran kita itu agar kamu cukup duduk diam saja. Kamu harus jaga anak kita, sayang." Adnan terus saja menegur Nirmala agar tetap duduk saja karena setiap ia menyempatkan pulang sementar selalu melihat istrinya itu sibuk membantu memasak.
Nirmala justru terkekeh dan semakin membuat Adnan merasa gemas hingga mencubit hidungnya. Semakin hari Nirmala merasakan cinta dari Adnan begitu tulus.
Memang benar, pilihlah suami yang paham agama dan mempraktekkan dengan benar cara memperlakukan wanita maka insya allah hidup dalam kebahagiaan. Maka dari itu, jauhilah yang namanya pacaran. Segeralah perbaiki diri dan berjalan ke jalan Allah agar hidup kita selalu aman.
"Iya, aku duduk saja. Mas kok pulang lagi, sih? Bukannya masih ada jam ngajar?" Ya ampun, pertanyaan beruntun dari Nirmala justru membuat Adnan memicing curiga.
Nirmala berdecak tapi selanjutnya diam mengikuti saat Adnan menarik tangannya agar masuk ke dalam kamar. Ia sedikit panik saat Adnan mengurungnya di kamar.
"Mas mau apa?" Nirmala berusaha tetap terlihat baik-baik saja meski perasaan was-was mulai menyerang.
"Kamu mau mas kasih kerjaan, kan? Kerjain mas saja. Nih," Adnan menyerahkan alat make up milik Nirmala. Memang semenjak hamil, Nirmala lebih suka berdandan dan bahkan sering sekali meminta Adnan menjadi model make nya. Wajah Adnan yang begitu tampan dengan dagu yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu akan berubah menjadi lebih feminim.
Senyuman Nirmala mengembang dengan nafas lega.
"Kamu nggak lagi berpikir aneh-aneh kan?" Selidik Adnan menatap Nirmala menyadari bila istrinya itu panik.
"Eng-gak, mas. Siapa yang mikir aneh-aneh. Suudzon, tahu." Nirmala berkilah padahal dirinya memang memikirkan aneh-aneh sejak Adnan membawanya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Suara pintu kamar telah terbuka. Gegas Adnan membukanya dan ternyata yang mengetuk adalah ummi Salma.
Hubungan ummi Salma dan Nirmala juga mulai membaik. Nirmala juga memperlakukan ummi Salma seperti ibu sendiri.
"Ada apa, mi?" tanya Adnan dan Nirmala ikut keluar kamar.
"Maaf ummi ganggu. Bingkisannya mau di simpan dimana, Nan?" ummi Salma terlihat sungkan karena sudah mengganggu waktu berdua anak dan menantunya.
"Di kamar saja, Mmi." Bukan Adnan yang bicara melainkan Nirmala. Justru ia merasa sungkan karena ummi Salma ikut membantu persiapan acara syukuran mereka.
Sore harinya setelah ba'da ashar, sebagian anak pesantren dan anak panti yang sengaja di undang Adnan sudah tampak hadir, sebagian warga, dan ustadz-ustadzah juga tampak hadir.
Ia juga melihat ada Adi hadir, itu berarti Farah juga turut hadir. Ternyata, sedang duduk bersebelahan dengan ummi Salma dan ummi kulsum.
Pengajian dimulai dengan khusyuk dan hikmat. Adnan sendiri yang memimpin pengajian beserta doanya.
Senyuman Nirmala selalu mengembang setiap kali mendengar suara merdu Adnan sedang mengaji. Benar-benar dapat menenangkan hatinya.
Jika benar jodoh adalah cerminan dari diri sendiri. Dan orang yang kurang baik sekalipun pasti menginginkan jodoh yang lebih baik dari dirinya. Maka, jika menginginkan seperti itu harus perbaiki diri sendiri pula lebih dahulu.
__ADS_1
Ucapan selamat dan doa agar diperlancar hingga persalinan diterima oleh Nirmala dan Adnan.
"Selamat ya mbak Lala," ucap Farah mendatangi Nirmala.
"Makasih ya. Semoga kamu segera menyusul."
"Aamiin."
❤️
Pembaca setia aku...
Adnan dan Lala besok tamat ya..
dan emak udah rilis novel baru..
mohon dukungannya ya sayang aku..
cerita Arsy dan Jo rilis hari Senin yaaa
__ADS_1