Penggemar Ku Seorang Ustadz

Penggemar Ku Seorang Ustadz
26 merasa tidak pantas


__ADS_3

Saking Nirmala merasa sangat insecure bersanding dengan Adnan, perempuan itu belum pulang juga sampai membagikan makanan ke kafilah untuk makan malam. Pikiran nya sudah bercabang-cabang tentang masalah apa saja yang akan dihadapi.


Ketidak serasian antara dirinya dan Adnan.


Rendah nya ilmu agama dibandingkan Adnan.


Bagaimana dengan orang tua Adnan?


Akankah kisah lama terulang kembali?


Entahlah. Setelah mengetahui siapa Adnan sebenarnya justru membuatnya takut untuk melanjutkan pernikahan ini. Sebenarnya, dalam hati justru merasa bersyukur sebab mendapat seorang ahli agama agar dirinya juga mudah belajar agama. Tapi, rasa tidak pantas itu lebih kuat.


Usai sholat isya, Nirmala menyerah berada di dalam Kantor Desa tanpa melakukan apapun. Ia menjalankan sepeda motor nya secara sangat pelan sekali agar memakan waktu lama.


Beberapa saat berlalu, Nirmala sudah sampai dan hanya duduk di teras rumah tanpa mengetuk ataupun mengucap salam.


"Kenapa gak masuk, dek?" tanya Adnan baru saja pulang dari Masjid.

__ADS_1


Nirmala balik badan, menelan saliva terasa sangat kasar lalu membalikkan tubuh nya kembali gegas membuka pintu dengan cepat. Setelah pintu terbuka, Nirmala masuk ke dalam kamar mengambil pakaian ganti lalu ke dapur, masuk ke dalam kamar mandi.


Rasanya belum siap bertemu dengan Adnan setelah mengetahui kebenaran nya. Usai berganti pakaian, Nirmala kembali masuk ke dalam kamar. Menyalakan laptop dan membuka platform novel yang di tulisnya.


Adnan sendiri merasa heran atas sikap Nirmala barusan. Ia pun berpikir keras, kesalahan yang telah diperbuat nya. Ketika masuk ke dalam kamar, ia mengurungkan niat untuk bertanya sebab istrinya sedang bekerja.


Dua jam kemudian, Nirmala menyelesaikan pekerjaan nya dan mematikan laptop. Ia pun bangkit dan terkejut melihat Adnan tidur dengan posisi duduk bersandar pada headboard. Ia pun berjalan mendekati, mengambil sebuah buku tafsir dan menaruhnya ke atas nakas.


"Mas," panggil Nirmala pelan seraya mendudukkan bokong nya di tepi ranjang sisiip Adnan berada.


"Maaf mas ketiduran," tutur Adnan seraya mengusap wajah agar mengurangi rasa kantuk yang mendera.


"Kenapa tidur duduk begini? kalau sudah mengantu, mas bisa tidur duluan. Gak perlu tungguin aku," kata Nirmala jujur.


"Mas gak mungkin bisa tidur nyenyak kalau kamu diemin mas begini," kata Adnan.


Wajah Nirmala berubah pias. Ia tak menyangka bila Adnan memerhatikan gerak-gerik nya sedari tadi.

__ADS_1


"Aku takut, mas. Aku takut menjadi istri mas," kata Nirmala jujur dan memang harus dikatakan daripada akan menjadi boomerang di kemudian hari.


Dahi Adnan mengerut. "Takut? Kenapa harus takut?" tanya nya bingung.


Nirmala mengangguk yakin. "Karena kamu itu ustadz." Jawab nya singkat, jelas, dan padat.


Tapi agaknya jawaban Nirmala belum memuaskan bagi Adnan. "Kenapa kalau mas ustadz, La?"


Nirmala berdecak seakan kesal sebab Adnan tidak mengerti maksud dari ucapan nya. Namun, tidak dapat menyalahkan Adnan, sebab Nirmala tidak memberitahu secara detail.


Perempuan memang seperti itu. Enggan menjelaskan namun ingin dimengerti oleh kaum laki-laki. Padahal, kita tahu sendiri bahwa kebanyakan kaum Adam itu memiliki sifat bawaan yaitu tidak peka.


"Kamu itu ustadz, sementara aku perempuan minim agama dan masa lalu ku justru jauh dari kata baik. Aku gak pantas buat kamu mas."


Keadaan hening sesaat. Adnan hanya diam memerhatikan Nirmala yang hendak menangis.


"Apa kita pisah saja, mas?"

__ADS_1


__ADS_2