Penggemar Ku Seorang Ustadz

Penggemar Ku Seorang Ustadz
Bab 33. Pergi


__ADS_3

"Assalamualaikum," ucap Adnan baru saja memasuki dapur dimana Nirmala sedang sibuk memasak. 


Nirmala menoleh ke arah sumber suara dimana Adnan tengah berjalan ke arah nya. "Lari pagi sampai mana, mas?" Tanya nya sebab tadi usai dari Masjid, suaminya pamit pergi lagi pagi.


"Keliling lapangan bola tempat acara MTQ kemarin," jawab Adnan lalu mengecup pipi Aisyah. "Kamu masak apa?" Lanjutnya lagi.


Nirmala mencoba biasa saja meski pipinya terasa panas setelah mendapat kecupan dari Adnan di pipi nya. "Aku masak ikan nila sambal hijau, mas."


Adnan hanya diam saja dan masuk ke dalam kamar mandi. Nirmala melihat itu segera memindahkan masakan ke dalam wadah kemudian gegas ke kamar sediakan pakaian ganti bagi suaminya.


Setelah itu Nirmala menata menu makanan di atas meja kecil yang selalu digunakan untuk makan bersama. Terkadang makan di lantai beralas tikar saja. 


Satu hal yang membuat Nirmala murung sedari tadi ialah Adnan akan kembali ke Jawa Timur malam ini. Sedari tadi ia menahan agar tidak menangis di depan suaminya. 


"Sayang," panggil Adnan membuka pintu kamar mandi sedikit.


"Iya, mas." Sahut Nirmala mendekat ke arah pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Handuk, dek."


"Oh, iya. Bentar mas." Nirmala keluar melalui pintu belakang yang ada di dapur, mengambil handuk yang sudah di jemurnya bersama pakaian lain nya.


"Ini, mas."


"Makasih, sayang."


Sebenarnya, Adnan juga merasa sedih harus meninggalkan Nirmala seorang diri. Apalagi mereka baru saja menikah, manis nya hidup berdua masih sangat kental dirasa. 


Adnan keluar kamar mandi dengan handuk melilit pinggangnya. 


Adnan hanya mengangguk dan gegas ke kamar memakai pakaian yang telah disediakan Nirmala. Ia juga melihat pakaian nya telah rapi berada di koper, hanya saja belum di tutup. 


Adnan keluar kamar kembali menuju dapur. Ia memeluk Nirmala dari belakang dengan erat dan tak ingin dilepas. 


"Mas bakal kangen," cicit Adnan. Nirmala balik badan dan langsung memeluk Adnan tak kalah erat juga. 

__ADS_1


"Sama. Aku pasti kangen banget sama mas. Apalagi sama kebiasaan mas ngaruh handuk di tempat tidur," sindir Nirmala setelah mengetahui kebiasaan Adnan. Adnan tak marah, ia justru tertawa. Apalagi handuk yang dipakainya tadi juga masih berada di tempat tidur.


"Mas lupa, sayang. Maaf."


****


Nirmala tidak dapat membendung kesedihan nya ketika mengantarkan Adnan di Terminal. Sedari tadi suaminya itu terus memberi ketenangan agar tidak lagi menangis. Namun, bukannya berhenti justru tangis Nirmala semakin kencang. 


"Mas berangkat, ya." Ucap Adnan pelan seraya mengurai pelukan. Ia mengusap air mata yang membasahi pipi istrinya itu. 


Tak lupa Adnan memberikan kecupan pada seluruh wajah Nirmala. "Akan mas usahain jemput kamu lebih cepat."


Nirmala hanya mengangguk sembari menahan tangisnya. Ia mencium punggung tangan Adnan cukup lama selaras dengan tetesan air mata yang membasahi punggung tangan Adnan. 


"Mas hati-hati," cicit Nirmala setelah merasa tenang. Suaranya terdengar sangat serak. 


Nirmala mencoba tersenyum ketika Adnan masuk ke dalam bus. Padahal, saat bus itu sudah melaju, Nirmala kembali menangis. Ia tidak tahu mengapa bisa sesedih ini. Apakah sikap lemah lembut Adnan mampu membuatnya kembali merasakan cinta? 

__ADS_1


Atau hanya sesaat saja?


__ADS_2