
"Ayo kita pulang, bi. Sadarkan Adnan kalau perempuan itu gak baik untuk jadi ibu keturunan anak kita. Adnan gimana, sih? Pasti perempuan itu sembunyikan masa lalunya agar di nikahi anak kita," cerocos Ummu Salma kepada Abi mudah sembari memasukkan pakaian ke dalam tas travel.
Abi Musa menghela nafas mendengar hal itu. Menjadi suami dari wanita paruh baya di hadapannya puluhan tahun membuat beliau sangat mengenal istrinya. "Setiap orang punya masa lalu, mmi. Jangan hakimi nasib seseorang, kita gak pernah tahu yang akan terjadi selanjutnya. Bisa saja, Nirmala lebih mulia dari kita."
"Ummi gak boleh lupa kalau zaman dulu, ada seseorang yang hidupnya banyak dosa tetapi dia mati dalam keadaan beriman karena sebelum meninggal, dia bertaubat dan Allah mengampuni segala dosanya."
Ummi Salma tampak tidak suka dengan ucapan sang suami. "Tapi, bukan berarti anak kita juga menikahi orang yang begitu. Kalau masih ada yang jauh lebih baik, kenapa harus pilih yang seperti itu?"
"Astaghfirullah, istriku!!"
****
"Ceraikan aku, mas." Kata Nirmala sekali lagi. Wanita itu menunduk dalam tangisnya tanpa pedulikan Adnan diam menatapnya sedari tadi.
"Pernikahan bukanlah permainan, sayang." Kata Adnan merasa sakit mendengar permintaan Nirmala. Ia sendiri tidak menyangka reaksi Ummu Salma akan seperti tadi.
"Kita baru saja memulai pondasi rumah tangga kita. Apa kamu akan menyerah? Apa kamu belum jatuh cinta kepada mas?" Tanya Adnan beruntun saat Nirmala masih diam saja.
"Apa gak ada sedikitpun hati kamu merasakan cinta dari mas, sayang?" Tanya Adnan sekali lagi, suaranya terdengar bergetar saking takutnya menerima jawaban yang dicemaskan nya.
Spontan Nirmala mendongak menatap Adnan. Hatinya tersentil mendengar segala pertanyaan dari Adnan. Tentu saja tahu bahwa mereka baru memulai pondasi rumah tangga dan ia sudah merasakan cinta itu dari Adnan. Tapi, ia tidak ingin kisah lama terulang kembali.
Nirmala kembali menunduk tanpa mengatakan apapun tetapi Adnan gegas menangkup wajah Nirmala sehingga tatapan keduanya kembali bertemu.
"Katakan sesuatu, Nirmala. Katakan sejujurnya, jangan menyerah semudah ini."
__ADS_1
"Aku ta-ku, mas. Aku takut kisah lama akan terulang lagi." Nirmala tidak dapat membendung kesedihannya.
"Mas, aku memang bekerja di tempat karaoke itu. Tapi, saat mas Arman menikahiku, aku masih dalam keadaan suci. Memang aku gak pungkiri, aku bukanlah gadis penjaga aurat. Aku pakai jilbab hanya sekolah saja, itupun karena peraturan yang mengharuskan. Tapi, bukan berarti aku menjadi gadis liar kayak mereka bilang."
Adnan memeluk Nirmala yang sedang menjelaskan masa lalu dengan tangis menyertai. Di usap punggung Nirmala dengan lembut. "Mas percaya, sayang. Mas gak peduli bagaimana masa lalu kamu, yang terpenting kamu berubah menjadi lebih baik dan kita akan meraih bekal untuk ke akhirat agar bertemu kembali disana."
Nirmala tidak dapat membendung air matanya lagi, ia memeluk erat Adnan dan menangis sesegukan.
Adnan kembali menenangkan Nirmala dengan kasih dan sayang. "Jangan pernah meminta mas untuk meninggalkan kamu, ya. Kita berjuang bersama untuk mendapat restu ummi. Maaf kalau ucapan ummi buat kamu sedih," ungkap Adnan dan dijawab anggukan oleh Nirmala yang masih memeluknya.
Adnan mengurai pelukan, di usap air mata istrinya kemudian memegang kedua lengan atas Nirmala. Tatapan keduanya bertemu. "Apa kamu belum mencintai mas, La?"
Lidah Nirmala seakan kelu hanya untuk menjawab pertanyaan Adnan. Bahkan menelan saliva nya saja seperti menelan bakso bulat seperti bola pingpong tanpa di kunyah lebih dahulu. Belum juga Nirmala dapat menjawab pertanyaan itu, Adnan sudah lebih dahulu melabuhkan ciuman di bibirnya.
Gerakan lembut yang diberikan Adnan mampu membuat Nirmala melayang dan tidak kuasa menolaknya. Ia terhanyut dalam buaian yang diberikan dan tak segan untuk membalas kelembutan itu. Ketika bersama Adnan, Nirmala tidak akan malu untuk menunjukkan sisi dirinya yang berbeda.
Jika pasangan suami istri tengah menghadapi masalah dan berhubungan badan adalah solusinya, maka seperti itu pula yang dilakukan Adnan dan Nirmala.
Nirmala sendiri masih merasa bahwa suaminya itu sudah ahli dalam bidang memuaskan istri karena Adnan dapat membuatnya tak berdaya karena merasa saking terpuaskan. Padahal, Nirmala sudah melakukan dan meminta Adnan melakukan atas yang ia inginkan selama ini. Akan tetapi, tetap saja dirinya akan kalah dan berakhir pasrah dengan kelakuan Adnan.
"Makasih sayang. Tanpa kamu ungkapkan perasaan kamu, tapi mas merasa dicintai." Bisik Adnan setelah mengakhiri permainan dengan kecupan di kening Nirmala. Setelahnya, ia memisahkan diri dari penyatuan mereka. Diambilnya selimut dan menutupi tubuh mereka yang polos.
"Aku malu sama Abi dan ummi mau keluar kamar, mas." Cicit Nirmala yang tengah meringkuk di hadapan Adnan.
"Istirahat saja, dulu. Mereka juga paham kalau kita harus bekerja keras dan menikmati pengantin baru," goda Adnan justru mendapat cubitan diperutnya dari Nirmala yang sedang tersipu malu.
__ADS_1
Adnan sendiri tidak merasakan sakit justru ia tertawa akan hal itu. Ia pun memberikan usapan halus agar Nirmala segera tertidur.
Beberapa jam kemudian, Adnan bangun lebih dahulu. Di pakai boxernya kemudian keluar kamar dengan membawa handuk dan pakaian ganti. Dilihat orang tuanya tengah makan malam lebih dahulu.
Selesai mandi, Adnan mendatangi orang tuanya. "Ummi. Jangan begini, ya."
Ummi Salma membuang muka tidak ingin menahltap Adnan. "Itulah pentingnya restu orang tua, Adnan. Jangan asal menikah saja," sindir ummi Salma.
Adnan menghela nafas panjang. "Maafin Adnan soal ini. Tapi, sekarang Nirmala sudah berubah dan Adnan sendiri yang akan menjadikan Nirmala istri yang solehah. Bukankah sudah menjadi tugas Adnan sebagai seorang suami?"
Akan tetapi, agaknya ummi Salma belum ingin mendengar penjelasan dari Adnan. Abi Musa sendiri hanya menggeleng saja melihat kelayistri beliau. Sedari tadi juga sudah menasehati tetapi tidak di gubris.
"Gimana jadi istri solehah? Kemana dia? Kamu belum makan tapi dia gak ada."
"Adnan yang minta Lala tidur, mi. Dia capek karena Adnan tadi."
Abi Musa mendengar itu hanya dapat melotot. Beliau baru tahu bila anak pertamanya akan bicara sepolos ini.
"Ayo, bi. Kita harus segera berangkat."
"Berangkat kemana, Mmi? Kenapa gak besok saja?" tanya Adnan tahu maksud kedua orang tua nya akan berangkat malam ini juga.
"Gak perlu. Kamu sudah pesan tiket." Jawab ummi Salma ketus.
Adnan hanya dapat menghela nafas panjang dan menerima tepukan dari Abi Musa di punggungnya
__ADS_1
"Kamu harus pulang juga. Jangan demi wanita itu, kamu gak pulang dan meninggalkan pekerjaan kamu disana."
Adnan mengangguk mengerti. "Baik Ummi."