Penggemar Ku Seorang Ustadz

Penggemar Ku Seorang Ustadz
20. Bicara


__ADS_3

Nirmala mengerjap mata berulang kali mendengar pertanyaan dari Adnan. Ia menggeleng cepat lalu duduk di hadapan Adnan. "Aku enggak apa-apa, pak. Mau makan siang sekarang?" tanya nya.


Adnan diam saja sembari menatap Nirmala yang menunduk. Senyuman pria itu mengembang melihat istrinya yang malu-malu. Abi Musa baru saja menelepon dan ia memberitahukan jika sudah menikah. Tetapi, ia meminta agar tidak memberitahu Ummi lebih dahulu sebab takut akan riweh dan mengganggu pekerjaan nya selama disini.


Kulit kuning langsat, hidung kecil mancung seukuran perempuan, alis tebal tanpa pensil alis, bulu mata lentik. Adnan mengucapkan banyak bersyukur atas semua yang di takdirkan untuknya. Termasuk mendapat istri sesingkat ini.


Adnan tahu, Nirmala bukanlah Farah yang sudah Istiqomah dalam menutup aurat. Namun, sejak awal keyakinan untuk menikahi Farah tidak pernah ada. Justru di beri tantangan oleh perempuan di hadapan nya membuat keyakinan nya semakin membara.


Ia juga tahu, Nirmala terus saja berusaha agar mengurungkan niatnya untuk menikahi janda muda ditinggal mati, ini. Namun, sekali lagi ia tekankan. Hatinya merasa yakin atas keputusan untuk menikahi Nirmala.


"Kita harus bicara, La. Kita gak mungkin terus begini," terangnya membuat Nirmala memberanikan diri menatap Adnan.


Nirmala mengangguk setuju. Ia juga tak mungkin terus canggung. Ia sadar bukan waktu nya lagi malu-malu seperti gadis baru dinikahi, ia adalah seorang perempuan yang pernah menikah.


"Benar. Pertama yang harus kita ubah adalah panggilan dan cara ngomong diantara kita. Aku minta bapak jangan ngomong formal begitu," pinta Nirmala jujur sebab setiap kali Adnan bicara persis seperti seorang guru.


"Dan kamu jangan panggil bapak," kata Adnan menimpali membuat Nirmala menahan senyum.


Nirmala terdiam cukup lama memikirkan panggilan yang pantas. "Mas. Aku panggil mas Adnan saja," katanya membuat Adnan tersenyum.

__ADS_1


Nirmala terus menunduk dan salah tingkah karena Adnan terus menatapnya tanpa mengalihkan pandangan. Ia melihat penampilan nya sekali lagi, tidak ada yang salah. Daster nya tidak kebalik, ia pun merapikan rambut agar memeriksa adakah sesuatu tersangkut di rambutnya. Ia berpikir, ketombe nya nampak disana.


Padahal, sudah beberapa bulan ini rajin ke salon dan merasa tidak ada lagi ketombe disana. Nirmala juga melipat bibir ke dalam mulut, khawatir bila lipstik nya tidak merata.


Ya ampun. Nirmala merasa aneh sendiri pada dirinya.


"kamu sudah cantik. Enggak ada yang salah dengan penampilan kamu, La. Rambut kamu juga rapi," celetuk Adnan sepertinya mengerti maksud gelagat Nirmala yang sedari tadi tidak dapat duduk dengan tenang.


Padahal, penyebab Nirmala seperti itu adalah Adnan sendiri.


Nirmala menelan saliva dengan kasar, memberanikan diri menatap Adnan. Astaga, entah mengapa tatapan suaminya itu begitu mengintimidasi. Kepemimpinan sangat tercetak jelas meski hanya dari tatapan saja.


Adnan tidak langsung menjawab. Pria itu menepuk sofa di sebelahnya yang kosong agar Nirmala duduk disebelahnya.


Nirmala bangkit dan duduk di samping Adnan ragu-ragu. Sudah sangat lama sekali dirinya tidak berdekatan dengan laki-laki mana pun selain mendiang suaminya, Arman.


"Menurut kamu, pernikahan seperti apa yang kamu inginkan?" tanya Adnan menggeser sedikit posisi duduknya agar berhadapan dengan Nirmala.


Nirmala di tanya seperti itu menjadi ketar-ketir. "Pernikahan yang bahagia. Yang aku tahu, setelah kita menikah bukan lagi membandingkan sesuatu sebelum atau sesudah menjadi pasangan. Kalau sudah menikah yang harus kita lakukan adalah bersabar dan bertahan. Saling introspeksi agar pasangan gak terbebani. Jangan hanya menuntut pasangan yang sempurna tapi gak mau ikut berubah jadi lebih baik."

__ADS_1


"Mas. Aku ingin pernikahan ini adalah pernikahan terakhirku. Jika suatu saat terjadi sesuatu, aku harap kamu pertahankan aku dan tetap menjadikan aku istri kamu satu-satunya. Pernikahan ku sebelum nya, mertua ku gak suka dengan ku. Apalagi aku yang gak kunjung hamil, lagi. Sungguh, aku akan merasa baik-baik saja kalau suamiku mendukung ku. Bukan hanya membela ibu mertua. Disamping, aku tahu kalau suami adalah milik ibu nya sampai mati."


Adnan diam mendengar kan dengan cermat setiap kata keluar dari mulut Nirmala. Tangan nya terulur menggenggam tangan Nirmala. Untuk pertama kali kedua pasang mata tersebut saling pandang dalam kurun waktu cukup lama.


"Mas hanya ingin menjadikan kamu istri sehidup se surga bersama mas. Jadi, mati kita belajar dan mendalami Agama bersama. Ada atau gak nya anak itu urusan Allah. Penting kita sudah berusaha. Kalau di dunia kita gak di kasih anak, semoga di akhirat anak kita banyak."


Keduanya tersenyum setelah ucapan Adnan barusan. Kemudian kedua orang itu pula mengangguk.


"Kita jalani dan berkomitmen. Bersabar dan bertahan," kata Adnan tegas dan Nirmala mengangguk.


"Ayo kita makan, mas." Ajak Nirmala dan Adnan mengangguk.


Nirmala berjalan mendahului Adnan ke dapur. Setelah Adnan duduk, Nirmala mengambil dua piring dari rak lalu membawa nya ke meja makan. Ia mengambilkan makan bagi Adnan.


"Maaf, mas. Hanya telur balado dan sayur tumis bayam saja," kata Nirmala.


Adnan tersenyum seraya menerima piring yang diserahkan Nirmala. "Alhamdulillah. Ini sudah lebih dari cukup, La. Dulu, saat mas masih kuliah. Sering makan nasi dicampur minyak jelanta demi menghemat uang."


Nirmala termangu. Dalam hati mengucap istighfar sebab masih sering mengeluh bahkan sering pula sudah masak tapi sering makan di luar hanya karena tidak berselera.

__ADS_1


Ampuni aku, ya Allah.


__ADS_2