
"Gimana, mas?" Tanya Nirmala memutarkan badan ke arah Adnan yang duduk di belakangnya sedang memperhatikan sedari tadi.
Adnan mengembangkan senyuman hingga matanya membentuk bulan sabit. Manis sekali. "Masya Allah, indahnya ciptaan-Mu ya Allah." Mata Adnan berkaca-kaca melihat penampilan Nirmala dengan gamis yang baru dibelinya kemarin sore lengkap dengan cadarnya. Warna biru tua sangat cocok untuk istrinya.
Adnan berdiri mendekati Nirmala kemudian mendekap tubuh mungil istrinya itu. Tetapi, ia heran saat Nirmala mendorong hingga pelukan mereka terlepas. Tidak biasanya Nirmala menolak pelukan darinya. "Kenapa, sayang?"
"Mas ganti parfum, ya?" Tanya Nirmala memicing menatap curiga. "Apa jangan-jangan mas sengaja ganti parfum karena kita akan menemui orang tua dan Farah juga?" Cecar Nirmala seakan tidak terima.
Adnan terkejut gegas di cium bau badannya sendiri. "Enggak, sayang. Parfum mas masih sama kok. Mas pakai parfum yang kamu beli dari tiktok itu," ia berkata jujur dan masih mengingat paket berisi parfum di antar kurir dan ia sendiri yang membayarnya.
Nirmala cemberut dan balik badan. Tentu saja ia percaya dengan ucapan Adnan. Tetapi, entah mengapa merasakan aroma parfum itu sangat berbeda. "Setelah dari pesantren, temani aku berobat ke dokter THT ya, mas."
Adnan merangkak berdiri di hadapan Nirmala. "Kenapa, sayang? Apa yang sakit?"
"Entahlah. Tapi aku merasa hidungku bermasalah. Sudah lebih dua Minggu, aku selalu gak nyaman karena aroma apapun sangat menyengat bagiku. Mau antar, kan?" Tanya Nirmala memastikan.
"Kita berangkat, sekarang."
"Tapi kita harus ke pesantren, mas."
Adnan menggeleng dan meraih pergelangan tangan Nirmala. "Kesehatan istri mas lebih penting."
Nirmala tidak lagi protes. Justru merasa sangat bahagia diutamakan oleh Adnan. Ternyata, menjadi prioritas utama di hidup pasangan itu sangat membahagiakan. Sebelumnya, Nirmala tidak pernah merasakan saat menjadi istri Arman. Semuanya selalu melakukan sendiri.
Adnan dan Nirmala telah memiliki mobil meski dibeli adalah mobil milik tetangga mereka. Bukan baru dari showroom. Uang yang digunakan adalah uang keduanya dan telah diganti kepemilikan atas nama Nirmala.
Adnan dan Nirmala telah mengambil keputusan agar tidak memiliki hutang kepada siapapun karena hutang akan dibawa mati. Jika ingin memiliki sesuatu, boleh saja asal beli secara cash. Jika uang belum cukup makan jangan memiliki.
Sesampainya di tempat praktik, Nirmala langsung di periksa oleh dokter.
"Telinga, hidung, dan tenggorokan ibu Nirmala normal. Tidak ada gejala penyakit ringan ataupun serius."
"Ta-pi kenapa hidung saya akhir-akhir ini sangat sensitif dengan aroma-aroma makanan dan bau menyengat lainnya ya, Dok?"
Dokter tersebut seperti sedang memikirkan sesuatu. "Apa bau bawang, sambal, atau bau badan orang juga terasa sangat menyengat?"
__ADS_1
"Iya, Dok."
Adnan hanya diam memperhatikan dan sangat khawatir atas ucapan Nirmala. Sedikit kesal juga dirasakannya karena Nirmala tidak pernah bercerita dengannya.
Dokter tersebut diam kembali hingga akhirnya mengucapkan satu kalimat yang membuat Nirmala dan Adnan terkejut. "Apa ibu sedang hamil?"
Nirmala dan Adnan saling pandang karena tidak pernah memikirkan hal tersebut. Nirmala sendiri terdiam mengingat terakhir datang bulan sebelum dinikahi Adnan. Itu berarti sudah dua bulan tidak datang bulan.
Dokter tersebut menyarankan agar memeriksakan Nirmala ke dokter kandungan. Jika hasilnya negatif, lebih baik di periksakan ke Rumah Sakit untuk lebih detail penyakit yang diderita Nirmala.
Akhirnya Adnan membawa Nirmala ke praktik dokter kandungan seperti anjuran dokter THT, tadi. Keduanya mendaftarkan diri dan menunggu selama satu jam lebih sesuai nomor antrian.
Sepanjang antrian, Nirmala menjadi gugup sampai tangannya terasa sangat dingin. Ia justru takut di periksa jika hasilnya negatif dan dapat membuat Adnan kecewa. Rasanya, sangat tidak mungkin ia hamil. Mengingat selama menjadi istri Arman, ia tidak lagi hamil pasca keguguran.
Selama tidak pernah lagi mengalami yang namanya mengandung, Nirmala tidak pernah mencari tahu ciri-ciri hamil. Bahkan kehamilan pertamanya dahulu tidak memiliki tanda-tanda hamil pada umumnya. Kalau orang lain bilang, hamil kebo. Tidak merasakan yang namanya morning sicknes.
"Mas. Gimana kalau aku gak hamil dan justru punya penyakit?" Tanya Nirmala mempertimbangkan pernikahan kedua untuk Adnan. Meski hati tak rela, tapi jika kenyataannya adalah memiliki penyakit maka ibu mertuanya itu semakin menuntut.
"Kalau gak hamil, ya kita usaha lagi. Kalau perlu, sekalian kita konsultasi untuk program hamil. Kalau sakit, kita berobat sampai kamu sembuh." Adnan merasakan kekhawatiran Nirmala dan ia juga merasakan hal yang sama.
Adnan melihat arloji di pergelangan tangan. "Dua jam lagi. Semoga waktunya sempat. Ini, kamu sambil makan rotinya." Adnan menyodorkan sepotong roti selai ke mulut Nirmala. Ini kali pertama pengalaman Nirmala dan Adnan mengunjungi tempat praktik dokter kandungan. Sehingga tidak tahu bila akan selama ini menunggu antrian.
"Agak susah makan pakai cadar begini ya, mas." Celetuk Nirmala.
Adnan tersenyum. "Nanti juga terbiasa, dik."
30 menit kemudian, nama Nirmala dipanggil dan keduanya masuk ke dalam ruang periksa.
"Ada keluhan apa sama kandungannya, Bu?" Tanya ibu dokter dan membuat Nirmala juga Adnan saling pandang.
"Begini, Dok. Belakangan ini saya merasa aneh dengan hidung saya," terang Nirmala tetapi membuat ibu dokter menjadi bingung.
"Kami sudah memeriksakan ke dokter THT. Tapi, disarankan untuk periksa ke dokter kandungan lebih dulu sebelum periksa ke rumah sakit," lanjut Adnan yang menerangkan.
Ibu dokter itu mengangguk-angguk mengerti setelah mendengar penjelasan dari Adnan. "Sudah berapa lama terlambat datang bulan?" Tanya ibu dokter.
__ADS_1
"Sekitar dua bulan, Dok." Jawab Nirmala membuat Adnan menoleh. Sebab pria itu juga tidak sadar bahwa selama menikah, Nirmala tidak pernah menolak atas ajakannya saat menginginkan berhubungan. Dan baru sadari bahwa sang istri tidak pernah libur beribadah.
"Punya riwayat keguguran?"
"Pernah sekali, Dok. Lima tahun lalu," jawab Nirmala jujur dan polos. Sebab dulu ia tidak pernah memeriksakan kandungan ke dokter, hanya bidan yang ada di polindes saja.
"Sudah pakai testpack?"
"Belum, Dok."
"Baiklah. Kita pakai testpack dulu, ya
Sebelum kita periksa," tutur sang ibu dokter. "Bapak, tolong belikan testpack di apotek sebelah, ya."
Adnan mengangguk dan langsung melaksanakan yang dikatakan ibu dokter tersebut. Sesampainya di apotek, Adnan mendadak bingung.
"Beli alat untuk tes kehamilan, mbak."
"Mau merk apa, pak? Yang biasa atau yang bagus?"
"Yang bagus."
"Mau yang setrip, digital, test pack dengan wadah urin, atau testpack USB?"
Adnan yang ditanya begitu semakin bingung. "Semua saja, mbak."
Penjaga apotek tersebut memberikan semua jenis testpack yang dikatakan tadi dan menerima sejumlah uang. Adnan langsung kembali ke ruang periksa dan memberikan kepada ibu dokter.
"Kenapa banyak sekali, pak? Yang setrip saja cukup, seharusnya."
"Saya gak tahu namanya, Dok. Jadi saya beli semua jenis yang ada di apotek saja."
Nirmala yang mendengar itu justru menjadi malu. Ia akhirnya membawa alat tes kehamilan tersebut agar menggunakannya. Beberapa saat kemudian, jantung Nirmala berdetak saat melihat dua garis dan tanda + di alat tersebut.
"Aku ha-hamil?"
__ADS_1