
Hati Adnan menjadi cemas manakala Nirmala tidak juga keluar dari kamar mandi dalam waktu cukup lama. Ia pun meminta izin kepada dokter untuk pergi ke kamar mandi guna mengecek keadaan Nirmala.
"Sayang. Apa kamu baik-baik saja di dalam?" Adnan mengetuk pintu dengan tempo ketukan sedikit cepat menandakan dirinya begitu cemas.
Nirmala tidak menjawab melainkan membuka pintu kamar mandi. Ia langsung memeluk Adnan kemudian terdengar tangisan dari wanita itu.
"Sudah jangan menangis. Kalau gagal bulan ini, kita bisa coba lagi, kan? Pernikahan kita juga masih sangat Barus," ungkap Adnan menenangkan Nirmala. Pria itu berpikir bahwa Nirmala menangis karena merasa gagal seperti pernikahan sebelumnya.
Nirmala mendengar ucapan Adnan justru memberi pukulan di dada kekar itu. Kemudian menyerahkan lima alat tes kehamilan yang sedari tadi ia pandangi saat di dalam kamar mandi.
Adnan menerima alat tersebut, dilihatnya dengan dahi yang berkerut. "Ini apa artinya, sayang? Mas benar-benar gak ngerti."
"Aku hamil, mas." Bisik Nirmala tak dapat menahan harunya.
Tubuh Adnan mematung, matanya berkaca-kaca. Menunduk menatap Nirmala sangat dalam. Ucapan syukur terus dilantunkan dalam hati atas rejeki yang didapatnya.
Adnan menuntun Nirmala agar duduk di kursi berseberangan dengan dokter. Kemudian Adnan memberikan alat tes kehamilan itu kepada dokter.
Sang dokter tampak tersenyum melihat alat tes kehamilan itu. "Kita USG dulu ya, Bu."
Nirmala mengangguk kemudian bangkit mengikuti suster yang menuntun naik ke brankar.
Adnan yang melihat istrinya kesulitan naik ke atas brankar karena tinggi benda itu tidak sesuai dengan tingginya langsung membopong Nirmala ke atas brankar.
__ADS_1
"Usia kandungan sudah 7 Minggu. Panjang janin sudah 1,5 cm dan berat 1 gram. Kalau perumpamaan itu seperti sebesar kacang tanah. Detak jantungnya normal."
Adnan dan Nirmala hanya diam mendengarkan. Adnan sendiri ingin sekali mendekap tubuh Nirmala sebagai bentuk betapa bersyukurnya telah dititipkan keturunan diantara mereka.
Sejak mengetahui Nirmala tidak hamil-hamil saat pernikahan pertama sebenarnya memiliki sedikit kekhawatiran. Namun, Adnan tak henti-hentinya melantunkan doa agar segera diberi momongan.
Tapi, Adnan tidak menyangka secepat ini mereka diberi momongan. Usai di periksa, Adnan dan Nirmala memilih pulang.
Keduanya duduk di sofa panjang dan saling berhadapan. Adnan membuka cadar yang dikenakan Nirmala. Saling bertatapan dengan binar bahagia di mata keduanya.
Tanpa mengatakan apapun, wajah keduanya saling mendekat dan menyalurkan kebahagiaan dengan sebuah sentuhan lembut yang memabukkan. Adnan membopong Nirmala menuju kamar mereka tanpa mengingat pintu sudah terkunci dari dalam atau belum.
Dua jam kemudian Nirmala dan Adnan sudah kembali rapi meski tubuh kekurangan tenaga akibat menyalurkan hasrat kebahagiaan.
Ucapan Adnan membuat Nirmala cemberut. "Mas bilang begini biar bebas ketemu Farah, kan?"
Adnan tercengang dengan pertanyaan Nirmala. Ia ingat bahwa istrinya sangat sensitif sesuai yang dikatakan dokter tadi.
"Ya sudah ikut, ya. Nanti marahin saja Farah kalau lihatin mas terus."
Nirmala tetap cemberut dan mengikuti langkah Adnan di sampingnya. Ia juga menurut saat Adnan memintanya mengenakan cadar lagi. Ternyata, tanpa sepengetahuan Nirmala, Adnan menyediakan cadar cukup banyak di lemarinya.
"Assalamualaikum," ucap Adnan dan Nirmala hampir bersamaan ketika baru saja masuk ke dalam rumah kyai Hasan.
__ADS_1
Sesuai yang dikatakan ummi Salma kemarin. Hari ini Adnan wajib datang ke rumah kyai Hasan guna mengkhitbah Farah. Sebelumnya, penolakan Adnan sudah di ikrarkan karena tidak ingin melakukan poligami. Tapi, sepertinya ummi Salma tidak mengindahkan penolakannya.
"Waalaikumsalam," jawab semua orang yang mendengar salam dari sepasang suami istri tersebut.
Adnan menuntun Nirmala duduk di sofa sebelahan dengannya. Tak lupa pula tangan pria itu terus saja menggenggam tangan Nirmala.
"Maaf kami terlambat," kata Adnan membuka obrolan.
"Saya dan Abi kamu sudah mengambil tanggal pernikahan kamu dengan putri kami," terang kyai Hasan mengejutkan Adnan dan Nirmala.
Nirmala sendiri hanya mencoba berdiam diri karena menjaga nama Adnan. Andai saja boleh bicara, maka ia akan menyerukan penolakan dengan lantang.
Rupanya, usaha Nirmala malam itu telah gagal. Ia terus menatap Farah yang duduk tepat di hadapannya.
"Saya sebagai istri sah tidak setuju kalau suami saya menikah lagi apapun alasannya. Meski di agama juga tidak di haramkan, tetap saja saya tidak setuju. Kalau tetap ngotot dengan dalih bakti sebagai anak kepada orang tua dan pernikahan kedua suami saya terjadi, maka saya akan tuntut kalian di pengadilan."
"Dan kamu mbak Farah. Apa selama kamu menuntut ilmu agama tidak tahu kejahatan seorang perempuan paling jahat itu apa?" Semua orang terdiam saat Nirmala berbicara secara lantang.
"Jangan kurang ajar kamu, Nirmala." Ummi Salma berdiri menatap Nirmala garang.
"Maafkan saya, Mmi. Saya memang tidak paham tentang agama kita. Sebagai orang awam, saya miris melihat kalian."
Nirmala menatap Adnan. "Ikut aku pulang, mas. Kalau aku sudah sampai rumah dan kamu belum sampai itu sudah aku anggap bahwa kamu lebih memilih menikahi Farah dan aku akan urus surat perceraian kita."
__ADS_1