Penggemar Ku Seorang Ustadz

Penggemar Ku Seorang Ustadz
9. Ada apa dengan ku?


__ADS_3

"Gimana persiapan kamu mengenai keberangkatan undangan MTQ, itu?" tanya kyai Hasan kepada ku. Kami telah selesai makan malam bersama dan sekarang sedang mengobrol di ruang tamu.


"Hampir rampung, kyai. Saya juga sudah memberikan materi untuk kelas saya kepada ustadz Adi selama saya pergi," aku menjelaskan dengan tenang meski hati ku sedang gundah gulana.


Memang benar. Kurang lebih satu Minggu lagi aku akan pergi ke sebuah kota kecil, sepertinya aku pernah mengunjungi kota tersebut saat masa kampanye pemilihan Presiden dua tahun lalu. Aku di undang sebagai pendakwa di acara MTQ disana. Sebenarnya, aku tidak mengenal orang-orang di Pemerintahan daerah tersebut. Hanya saja, teman semasa belajar di Kairo menghubungi ku untuk mengisi dakwa disana karena beliau tidak bisa. Aku sebagai pengganti beliau, bisa dikatakan seperti itu.


Aku melihat Kyai Hasan menghela nafas. Entah apa yang dipikirkan pemilik Pondok Pesantren tempat ku bekerja itu.


"Ada yang ingin saya bicarakan padamu, Tadz. Ini mengenai putri saya, Farah."


Benar dugaan ku. Pasti ini mengenai pernikahan. Astaghfirullah, ternyata begini rasanya jika belum menikah dan selalu di jodoh-jodohin.


"Ya, Kyai." Aku hanya dapat menjawab itu karena tak tahu harus bagaimana lagi, meski dugaan ku benar akan mengara yang namanya PERNIKAHAN.


"Saya sudah tua, Farah juga sudah 27 tahun. Dia anak kami satu-satunya. Menikahlah dengan Farah, Adnan."


Aku memejamkan mata untuk beberapa saat. Menarik nafas dalam-dalam agar hatiku tetap tenang. "Kenapa Kyai memilihku sebagai suami Farah?" tanya ku kepada Kyai Hasan.


"Sebab saya yakin kamu dapat menjadi imam bagi anak saya dan kamu dapat memimpin Pondok Pesantren ini."

__ADS_1


Aku terkejut mendengar ucapan Kyai Hasan padaku barusan. "Gimana kalau saya yang tidak siap untuk menjadi imam Farah, Kyai?" tanyaku lagi, tetapi hatiku mulai tidak tenang.


"Farah sudah menolak pinangan beberapa ustadz. Padahal sudah menjalani ta'aruf dan hasilnya tetap Farah menolak."


Aku memberanikan diri menatap Kyai Hasan setelah mendengar penjelasan beliau. "Kenapa di tolak, Kyai?"


"Farah menolak karena sudah lama menyukaimu, tadz. Saya tidak ingin perasaan cinta yang tumbuh di hati nya menjadi dosa. Alasan itu pula aku melamar mu untuk putriku. Tolong pertimbangkan lamaran saya ini dan juga pemimpin Ponpes akan segera berganti," terang Kyai Hasan.


Aku semakin terkejut mendengar penjelasan dari Kyai Hasan. Bagaimana bisa Farah menyukai ku? Sementara selama ini yang aku tahu, perempuan itu tidak pernah berdekatan dengan ku meski aku sedang dakwah di Pesantren putri.


Dan apa itu tadi?


"Maafkan saya, Kyai. Saya tidak bisa menerima lamaran ini. Terlebih menjadi Pemimpin Pondok Pesantren. Ilmu saya belum sampai kesana dan maaf, saya belum ingin menikah."


Sebenarnya, aku juga bingung pada diriku sendiri. Sampai pada usia 30 tahun, belum juga siap untuk menikah. Padahal, siapa yang tidak mengenal ustadzah Farah?


Hanya dengan melihat mata nya saja, aku sangat yakin kecantikan tersembunyi disana.


Aku melihat ada guratan kecewa dari manik pria paruh baya itu. Namun, aku tak mungkin menerima sesuatu yang menentukan dunia dan akhirat ku hanya karena rasa sungkan pada beliau.

__ADS_1


"Apa kamu tidak bisa memikirkan nya, Tadz? kalian bisa menjalani proses pendekatan dengan ta'aruf. Jika masih merasa tidak cocok, kamu bisa membatalkan sebagaimana Islam mengajarkan."


Astaghfirullah.


Sepertinya Kyai Hasan belum menyerah membujukku. "Maafkan saya, Kyai. Sesuatu yang dipaksakan sulit untuk meraih kebahagiaan."


Aku menghela nafas panjang kemudian bangkit dari duduk. "Saya permisi, Kyai. Ini sudah sangat larut. Assalamualaikum," ucapku kemudian meraih tangan beliau dan menyalam takzim.


Saat aku menegakkan tubuhku, tak sengaja melihat Farah berdiri di ambang pintu menatapku. Tatapan kecewa, aku yakin perempuan itu telah mendengar obrolanku dengan Kyai Hasan. Aku pun mengangguk kecil sebagai sarapan ku lalu pergi meninggalkan rumah kyai Hasan yang berada di Pondok Pesantren.


Di perjalanan pulang, aku tidak merasa terbebani lagi meski harus menyakiti hati orang lain.


Sesampainya di rumah, aku berganti pakaian dengan celana cingkrang dan kaos polo. Ku buka ponsel ku dan senyuman ku terbit melihat pesan dari salah satu penulis novel digital.


Meski aku seorang ustadz, aku juga memiliki akun sosial media. Tapi, nama akun yang ku pakai bukan lah nama asli dan tidak menunjukkan profil ku. Aku memiliki akun tersebut sebagai wadah penyebar kebaikan.


Namun, beberapa waktu lalu tak sengaja aku melihat satu akun di aplikasi media sosial masuk ke beranda ku. Aku melihat dia seorang penulis online dan suaminya telah meninggal dunia. Dorongan hati membuatku mendownload aplikasi novel digital tersebut lalu mencari judul buku yang kulihat tadi.


Tidak ada yang aku baca, hanya melihat dan memfollow lalu iseng membuka kolom komentar. Aku baca setiap pembaca setia orang itu seperti memberi semangat. Lagi-lagi aku terdorong oleh hati ku menuliskan komentar mengajak nikah.

__ADS_1


Ada apa dengan ku?


__ADS_2