
"Nirmala… Nirmala!!!!" Ibu Sarifah teriak-teriak di depan rumah kontrakan Nirmala. Wanita paruh baya itu tampak sedang menahan amarah.
Nirmala yang sedang di kamar bersama Adnan terkejut mendengar teriakan ibu Sarifah.
"Astaghfirullah, itu siapa ya?" Tanya Adnan ikut berdiri bersamaan dengan Nirmala.
"Ibu mertuaku, mas." Nirmala panik karena di rumahnya sedang ada orang tua Adnan. Gegas ia keluar kamar dan menemui ibu Sarifah.
"Ibu," panggil Nirmala ketika sudah berada di depan rumah.
PLAK
Sontak wajah Nirmala terhuyung ke kanan selaras dengan tamparan yang diberikan oleh ibu Sarifah. Ia tak percaya akan mendapatkan perlakuan kasar seperti ini.
"Ibu," ucap Nirmala menatap ibu Sarifah dengan tatapan sendu sambil memegang pipinya yang masih terasa panas akibat tamparan tadi.
"Dasar menantu gak tahu diri kamu, ya. Uang kematian anak saya, kamu nikmati sendiri malah sekarang menikah lagi. Tanah kuburan anak saya masih basah, dada perempuan gak bener kamu!!!" Ibu Sarifah benar-benar marah dengan Nirmala setelah mendengar kabar rumput tetangga apabila Nirmala sudah menikah lagi.
__ADS_1
Adnan melihat Nirmala ditampar tidak terima tetap berusaha menahan amarahnya. "Maaf, Bu. Bisa kita bicara di dalam? Gak baik dilihat orang," tutur Adnan berusaha tetap sopan terhadap ibu Sarifah.
Ibu Sarifah meneliti penampilan Adnan dari atas kepala hingga ujung kaki. Ia akui bila Adnan memang jauh lebih tampan dari mendian Arman. Tapi, bukan berarti Arsy menikah seenaknya begini.
Belum juga ibu Sarifah mengatakan sesuatu, orang tua Adnan juga ikut keluar karena mendengar keributan itu.
"Ada apa, ini?" Tanya Abi Musa.
"Kebetulan sekali. Saya adalah mertua Nirmala. Saya kesini merasa tidak dihormati karena dia menikah tanpa seizin saya dan membawa uang kematian mendiang anak saya."
"Bu-bukan begitu, bu. Saat Nirmala menikah, ibu dan mas Dani sedang ke Pekanbaru kata Pakde."
"Hati-hati kalian sama Nirmala ini. Dia itu wanita malam sebelum dinikahi mendiang anak saya. Kerjanya di tempat karaoke hotel."
"Saking bejatnya Nirmala, dia ini gak bisa hamil. Mungkin azab untuknya."
Deg
__ADS_1
Jantung Nirmala berdegup kencang mendengar kalimat terakhir ibu Sarifah yang membongkar masa lalunya di hadapan mertua barunya.
Adnan menggenggam tangan Nirmala memberikan ketenangan. Ia sudah mengetahui masa lalu Nirmala sebelum menikah. Ya, saat pertama kali bertemu dan Nirmala memberitahukan masa lalu nya, Adnan sudah bertekad menerima.
Bukankah seseorang dapat berubah? Apalagi Adnan melihat secara langsung perubahan Nirmala selama menjadi istrinya.
"Kita masuk dulu." Kata Abi Musa setelah ibu Sarifah pergi.
Adnan dan Nirmala ikut masuk dan duduk berhadapan dengan Abi Musa juga Ummu Salamah. Nirmala hanya dapat pasrah jika setelah ini akan mendapat perlakuan tidak baik dari mertuanya.
"Benar yang dikatakan mertua kamu tadi?" Tanya Ummu Salma memecah keheningan.
"I-iya, umi. Tapi itu dulu, sebelum menikah dengan almarhum mas Arman. Tapi aku bisa hamil kok, umi. Aku pernah keguguran karena kelelahan kata dokter waktu itu," jawab Nirmala takut-takut.
"Pilih istri kok begini, Adnan? Ibu sekolahkan kamu jauh-jauh. Kamu seorang ustadz malah nikahi perempuan malam begini, lebih baik Farah jadi istri kamu." Setelah mengatakan kalimat menyakitkan itu, ummi Salma masuk ke dalam kamar.
"Ummi hanya terkejut, jangan berkecil hati, nduk. Setiap orang punya masa lalu masing-masing. Kamu yang sabar hadapi ummi mu, ya." Kata Abi Musa yang selalu jadi penengah.
__ADS_1
Nirmala bangkit dari duduknya ketika melihat orang tua Adnan masuk ke dalam kamar. Ia gegas masuk ke dalam kamar nya, menumpahkan air mata yang sedari tadi di tahan.
"Ceraikan aku saja, mas."