
"Kenapa baru datang?" tanya mertua ku.
Aku yang baru masuk rumah mertua sempat terkejut, tapi dapat ku tenangkan.
"Baru siapan, Bu." Aku menjawab seadanya. Padahal, aku sempatkan menulis sebelum datang ke rumah mertua.
Ku lihat sudah banyak saudara datang guna membantu mertua hendak pengajian. Keluarga suamiku memang seperti ini, masih rukun hingga sekarang. Tapi, untuk aku yang introvert tentu sangat tidak nyaman.
"Sini, La. Kamu bersihkan akar toge ini, ya." Ucap kakak sepupu suami dan aku hanya mengangguk saja lalu memulai mengerjakan membuang akar toge itu. Jenis sayuran yang sensitif berada di dekat ku yang belum kunjung hamil.
"Ini toge banyak. Nanti kamu makan yang banyak biar bisa hamil, lagi."
Belum juga hilang pikiran kuengenai sayur sensitif itu, sudah ada yang mengeluarkan kalimat paling sensitif buat ku. "Iya," hanya itu yang dapat aku ucapkan daripada lebih banyak membuat ribut.
Tidak sengaja mataku melirik ke arah pintu masuk ke dapur. Disana, Dani. Adik suamiku berdiri bersandar pada Didin dengan kedua tangan bersidekap di dada sedang menatapku. Tatapan yang selalu membuatku risih.
"Arman kemana, La?" tanya Bude mas Arman.
"Masih kerja Bude. Sore baru pulang," kata ku sopan.
Kami bergotong royong membuat soto Medan. Mertua ku juga baik jika aku di dekat mereka. Namun, tidak tahu bila di belakang ku.
"Suruh si Dani makan, La. Dari pagi belum makan adik kamu itu," terang mertua ku membuat enggan.
Bagaimana tidak?
Aku sendiri sangat enggan berinteraksi terlalu sering dengan adik ipar ku.
Dani sendiri berusia 27 tahun dan tidak bekerja.
Aku bangkit berjalan menuju kamar adik ipar ku itu dengan langkah perlahan.
"Dani.. Di suruh makan sama ibu," kata ku malas. Tidak terdengar sahutan dari dalam kamar itu.
"Dani," panggil ku lagi beberapa kali tapi belum juga terdengar sahutan sehingga membuat ku kesal.
Mata ku melotot ketika pintu kamar Dani terbuka dan melihat penampilan Dani yang seharusnya tidak di perlihatkan oleh perempuan, apa lagi aku adalah kakak ipar nya.
Penampilan Dani bertelanjang dada dan handuk terlilit di pinggangnya.
"Aku mandi, La. Apa sih?" tanya Dani masih berdiri diambang pintu. Sementara aku sudah balik badan memunggungi adik ipar ku itu.
__ADS_1
"Di suruh makan sama ibu." Aku berlalu begitu saja dari hadapan Dani. Rasanya enggan harus berdekatan dengan adik ipar. Selain menghindari fitnah, aku juga rasanya ilfil.
Malam hari Mas Arman menjemputmu di Rumah Mertua. Ku layani makan malam nya dengan baik. Aku merasa selama sebulan ini suami ku menjadi lebih baik. Tidak lagi melarangku mengikuti pengajian, beberapa kali meminta maaf pada ku meski kesalahan kecil. Entahlah, padahal menurutku kesalahan kecil tak perlu meminta maaf. Tapi, dari sudut hati ku yang lain berucap syukur akan perubahan suamiku.
Mas Arman juga selama sebulan ini sudah beberapa kali bertanya keinginan ku dalam bercinta. Awalnya membuatku heran sekaligus malu untuk mengatakan keinginanku sedari dulu. Meski aku akui suami ku belum dapat memenuhi keinginan ku masalah bercinta, tetap saja aku sudah senang. Bagiku, biarlah perlahan asal tidak seperti yang lewat-lewat.
"Mau buat teh?" tanya ku lembut ketika mas Arman masih makan malam.
Mas Arman menggeleng. "Kamu duduk saja disini temani mas," katanya dan aku menurut saja.
Setelah selesai makan malam, kami berdua pamit pulang kepada ibu mertua dan juga Dani yang terus menatap ku dengan tatapan aneh.
***
"Aku mau pergi. Kamu jaga rumah, ya. Mulai sekarang uang kamu yang pegang." Ucap mas Arman ketika hendak pergi bekerja.
Tumben sekali.
Biasa nya, mas Arman jarang berpamitan ketika hendak pergi. Hampir tidak pernah. Dan apa tadi? Aku pegang uang mulai sekarang?
Aku terheran karena tidak seperti biasanya. Hidupku memang tercukupi semenjak dinikahi oleh mas Arman. Tetapi, untuk kebutuhan dapur dan kebutuhan pribadi ku selalu di jatah. Sisa gaji, tidak pernah ku ketahui kemana habis nya.
"Kenapa aku yang pegang, mas?" tanya ku memberanikan diri.
Aku termangu mendengar ucapan mas Arman. Rasa nya seperti janggal, tapi aku tidak tahu apa kejanggalan itu. Aku pun hanya mengangguk saja.
"Mas pergi, dek. Kamu jaga diri baik-baik," kata mas Arman kemudian pergi bekerja menaiki sepeda motor Mega pro andalan nya.
Setelah kepergian mas Arman, aku merasa hati ku tidak baik-baik saja. Tapi, aku tidak tahu apa penyebabnya.
Ku lewati waktu seperti biasa. Mengerjakan pekerjaan rumah seraya mencuri waktu menulis sekalian. Hingga selepas sholat Zuhur, hujan deras melanda daerah kami. Kilat dan gemuruh saling bersahutan. Aku pun tidak berani melanjutkan menulis.
Ku pandang hujan turun sangat deras dari depan jendela. Kekhawatiran melanda hati memikirkan mas Arman belum pulang dan pasti kehujanan.
Kepala ku menoleh melihat ponsel ku bergetar dan suami ku menelepon.
"Assalamualaikum, dek."
"Waalaikumsalam, mas."
"Motor kamu sudah di masukkan? disini hujan deras."
__ADS_1
"Sudah. Disini juga. Mas kehujanan?" tanya ku khawatir.
"Iya. Tapi gak apa-apa. Mas pamit pulang terlambat, ya."
"Iya." Aku menjawab begitu saja karena memaklumi jika Mas Arman akan terlambat pulang. Apalagi keadaan sedang hujan.
Tanpa terasa waktu terus bergulir hingga sore hari. Aku mengusap wajah setelah memanjatkan doa pada Sang Maha Kuasa. Hujan deras, kilat, dan petir terus menghiasi langit hingga kini.
JJJEEDDAARR....
"Astaghfirullah," ucap ku terkejut.
Langkahku mengayun mengintip dari jendela melihat cuaca masih sama buruk nya dari siang tadi. Mukenah yang aku kenakan masih melekat pada diri. Rasa khawatir masih sama ku rasakan.
Hari mulai gelap tapi aku masih belum beranjak dari tempat ku berpijak. Rasa lapar pun tak ku hiraukan. Cuaca sudah mulai membaik, tapi mas Arman belum juga pulang.
Hingga salah seorang yang aku tahu jabatan nya ialah Mandor datang ke rumah ku.
"Assalamualaikum," katanya.
Aku yang masih mengenakan mukenah gegas keluar kamar dan membuka pintu. "Waalaikumsalam, pak Mandor."
Pak Mandor nampak tegang ketika aku menjawab salam itu.
"Begini, La. Arman pulang," kata Mandor lirih.
"Oh, sudah mau pulang, ya? Terus mas Arman kemana?" Tanya ku beruntun masih bingung mengapa Mandor harus memberi tahu jika suami ku akan pulang.
Mandor masih terlihat bingung ingin menjelaskan sesuatu.
"Arman pulang bawa tamu banyak. Nanti mertua kamu juga datang. Kamu bereskan perkakas ini, ya? Ayo bapak bantu," terang Mandor yang masih membuatku bingung.
Tapi, aku masih menurut saja. Mengingat akan banyak tamu jadi tidak salah jika perkakas ruang tamu kami masukkan ke kamar belakang yang memang aku pakai untuk sholat saja.
Setelah ruang tamu bersih, aku merebus air menyiapkan membuat teh untuk para tamu suami ku.
Terdengar sirine ambulance menggema begitu dekat. Aku pun mematikan kompor setelah air mendidih lalu berjalan cepat keluar rumah melihat mobil menakutkan itu berhenti di rumah siapa.
Jantungku mulai berdentum keras ketika mobil ambulance dan diiringi beberapa sepeda motor di belakang mulai mendekati rumah ku.
Hati ku mulai cemas ketiymelihat sepeda motor kebanggaan suamiku dikendarai Dani. Ada juga beberapa teman kerja suamiku.
__ADS_1
"Mas Armaaannn," aku histeris ketika ambulance berhenti di depan rumah ku.
❤️