
"Pergilah, tapi jangan pulang lagi." Nirmala mengangkat kepala Adnan agar menyingkir dari pahanya kemudian bangkit dari duduknya. Saat hendak bangkit, ia ditahan oleh Adnan agar tetap duduk.
"Mas minta maaf, ya. Sudah jangan marah lagi." Adnan memeluk Nirmala agar tidak lagi berdebat. Memang ia sudah tahu jawaban Nirmala akan seperti ini, tapi rasanya jika tidak membicarakan permintaan Adi tadi kepada Nirmala seperti kurang afdhol saja.
"Sayang, mas lapar." rengek Adnan kepada Nirmala.
Benar saja, wajah Nirmala terlihat cemas mendengar rengekan Adnan. "Mau makan apa, mas? Biar aku masakin." Nirmala mengurai pelukan.
"Mas mau makan kamu," bisik Adnan karena memang serindu itu pada Nirmala.
Mata Nirmala melotot mendengar bisikan Adnan yang tidak tahu malu. Rasanya sangat aneh seorang ustadz memiliki sisi genit kepada istrinya meski itu hal wajar karena ustadz juga manusia biasa.
"Ini masih sore, mas." Tapi tetap saja mau protes juga pada akhirnya akan pasrah atas sentuhan lembut dari Adnan.
****
__ADS_1
Usai mengajari dan mengoreksi hafalan mengaji Nirmala, Adnan pamit akan ke rumah Adi untuk menyampaikan ketidak bisanya menemani esok ke rumah kyai Hasan. Sebenarnya bisa saja mengirim pesan melalui telepon genggam, tapi rasanya tidak sopan jika tidak bertemu langsung.
Awalnya Nirmala tampak keberatan karena overthingking. Tapi, Adnan meyakinkan Nirmala bila dirinya benar-benar ke rumah Adi dan tidak perlu ditakutkan lagi. Adnan juga sudah berjanji sebagai bukti esok tidak menemani Adi, ia akan membawa Nirmala keliling kota.
Di samping Adnan khawatir dengan trauma Nirmala, ada rasa senang karena Nirmala menunjukkan sikap takut kehilangan.
Setelah mengucapkan salam dan dipersilahkan duduk, Adi menjamu Adnan dengan segelas kopi dan roti kering. "Maafkan saya, Tadz. Esok tidak dapat menemani ustadz buat mengajukan ta'aruf. Istri saya sedang ingin dlkeliling kota esok," tidak mungkin Adnan mengatakan alasan sejujurnya, ia tidak ingin Nirmala dinilai jelek oleh orang lain.
Anggukan kecil pun terlihat dari kepala Adi. Maksud dari mengajak Adnan bukan karena masalah kemarin, tapi ia merasa Adnan lebih banyak tahu ilmu agamanya dan usianya tidak terpaut jauh darinya. Apalagi mereka sudah akrab jadi tidak lagi terlalu canggung. Meski sering bicara formal diantara keduanya.
***
Esok harinya, Adi datang ke rumah kyai Hasan ditemani oleh Abi Musa. Akhirnya Adi meminta bantuan Abi Hasan karena merasa butuh wali yang lebih tua.
Kini. Adi, kyai Hasan, dan Abi Musa tampak diam setelah Abi Musa mengutarakan niat kedatangan mereka. Adi sendiri merasa takut di tolak karena spek pria idaman Farah adalah Adnan. Tentu saja sangat jauh darinya.
__ADS_1
"Saya terima niat baik kamu asal dalam 3 hari ke depan kamu akan menikahi Farah, anak saya."
Ucapan kyai Hasan mengejutkan Adi dan Abi Hasan. Adi juga tak menyangka kyai Hasan memberi persyaratan seperti ini.
"Maaf, kyai. Apakah cukup untuk mempersiapkan berkas pernikahan kami?"
"Nikah siri dan berkas akan menyusul."
Adi terdiam beberapa saat. "Maaf, kyai. Apakah persyaratan ini ada berkaitan ya dengan ustadz Adnan?" Ia juga tidak ingin sebagai pelampiasan bukan?
Kyai Hasan dan abi Musa hanya dapat menghela nafas beberapa kali.
"Tidak sepenuhnya berkaitan. Tapi, ini demi kebaikan rumah tangga Adnan dan istrinya yang sempat goyah karena kesalahan Farah." Kyai Hasan menatap Abi Hasan dengan perasaan yang tidak dapat di urai dengan kata-kata.
"Baik. Saya terima syarat kyai."
__ADS_1