
"Aku pergi, mas." Pamit Nirmala setelah mencium punggung tangan Adnan.
Keduanya masih tampak malu-malu dengan sikap bak seperti pengantin baru. Nirmala sendiri merasa gugup meski tak dapat pungkiri sisi lain tetap menahan hati agar tidak langsung memberikan hati sepenuh nya, sebab khawatir bila perlakuan manis Adnan hanya di awal saja.
Persis... Pernikahan sebelum nya.
Tatapan kedua nya bertemu. Dengan rasa gugup dan malu-malu, Adnan mendekatkan wajah ke wajah Nirmala lalu melabuhkan kecupan pada kening nya. Wajah keduanya tampak memerah dan salah tingkah, malu-malu saling bertatapan menjadikan senyuman terbit di wajah mereka.
"Hati-hati. Mas tunggu di rumah," kata Adnan setelah dapat mengontrol degub jantung tak beraturan.
Nirmala mengangguk lalu keluar rumah dan pergi dengan mengendarai sepeda motor menuju lapangan sepak bola dimana acara MTQ akan diadakan esok hari. Sepanjang jalan ia terus memikirkan pernikahan nya seperti mimpi.
***
"Mbak. Kemana suami mbak?" tanya Nining setelah mereka sudah tiba di lokasi.
__ADS_1
Nirmala menoleh menatap Nining. Di letakkan tas selempang nya ke dalam box sepeda motor nya. "Di rumah, Ning."
Nirmala dan Nini masuk ke dalam Kantor Desa. Sebab mereka panitia bagian konsumsi, jadi pekerjaan mereka ada di dalam Kantor tersebut. Sebenarnya tidak ada hal penting lagi. Sebab, kerja mereka tergantung beberapa warga sudah dipercaya untuk menyanggupi sediakan pakan bagi beberapa kelompok peserta tinggal di kafilah dan para petinggi Pemerintah turut hadir juga seorang ustadz.
Hingga kini, Nirmala belum tahu bila suami baru nya ialah seorang ustadz dan akan menghadiri acara MTQ tersebut.
Para warga berbondong-bondong saling membantu. Panggung utama telah selesai di dekorasi, panggung bagi para juri. Lokasi tempat duduk bagi petinggi Pemerintah, Ustadz, dan para peserta telah di sediakan. Tempat parkir mobil dan sepeda motor juga telah tersedia.
***
"Tadi aku segan sama yang lain kalau pulang lebih dulu, mas." Cicit Nirmala pelan. Ia menunduk duduk di hadapan Adnan.
Habis lah dirinya malam ini akan dimarahi habis-habisan seperti dahulu jika terlambat pulang atau mendiang Arman tiba di rumah lebih dulu. Maka, Nirmala akan dimarah dan di maki habis-habisan oleh mendiang suami pertamanya.
"Sholat, La. Minta ampun karena kamu lebih segan pada yang di ciptakan dari pada pencipta-Nya," tutur Adnan tegas namun tetap dengan suara lembut.
__ADS_1
Nirmala tertegun mendengar penuturan Adnan barusan. Ia langsung bangkit dan melangkah ke dapur, masuk ke dalam kamar mandi berwudhu. Tidak ada ucapan keluar dari mulutnya bahkan ketika melewati Adnan, ia tetap diam saja.
Adnan melihat reaksi Nirmala justru menjadi merasa bersalah. Ia berpikir ucapan nya barusan sangat kasar sehingga membuat istrinya itu diam saja. Adnan terus mengucapkan istighfar seraya berjalan mondar-mandir menunggu istrinya selesai sholat.
Cukup lama Adnan menunggu di ruang tamu, sementara Nirmala sholat di kamar belakang. Adnan berjalan menuju dapur dan di lihat beberapa piring kotor gegas di cuci agar Citra mengurungkan niat marah padanya.
Apalagi...
Adnan menggeleng kepala mengingat bila malam nanti adalah malam pertama bagi mereka.
***
Nirmala keluar kamar setelah selesai sholat. Ia mencari keberadaan Adnan sebab tidak ada di ruang tamu. Ia ingin meminta maaf dan berterimakasih telah menegurnya. Mendengar suara benturan piring dan gelas di dapur membuat nya gegas ke sana khawatir kucing membuka tudung saji.
"Mas, kok cuci piring?"
__ADS_1
❤️