
Lahir sebagai anak perempuan yang memiliki ayah seorang penjudi dan mabuk-mabukan membuat Nirmala harus bekerja paruh waktu demi memiliki uang jajan karena sang ibu bekerja untuk membiayai sekolah, kebutuhan hidup, dan membayar cicilan hutang judi sang ayah.
Sebab itulah Nirmala bekerja selepas sekolah. Ia pernah bekerja di warung Nasi Padang, penjual bandrek, bahkan pernah menjadi penjual tiket di Pasar Malam.
Terakhir kali ia bekerja sebagai pemandu karaoke di Hotel karena merasa gaji lebih besar dari yang lain meski pulang kerjanya lebih larut. Tetapi, demi memiliki uang tambahan karena sebentar lagi Ujian Nasional membuat Nirmala bekerja di tempat karaoke tersebut. Sebab, di sekolah Nirmala memiliki peraturan jika ingin mengikuti Ujian maka harus melunasi setiap tunggakan di sekolah.
Malam itu, seperti biasa Nirmala akan masuk bekerja pukul tiga sore selepas pulang sekolah. Ia bahkan tidak pulang ke rumah lebih dahulu karena tidak ingin terlambat bekerja.
Seperti biasa, ia mengenakan kaos seragam pemandu. Kaos putih dan rok span selutut bahan denim. Sebagai anak gadis dan memiliki kulit mulus tentu saja merasa penampilannya cantik.
Nirmala melayani para tamu karaoke nya. Tidak ada yang aneh-aneh seperti dugaan orang lain. Justru pelanggan Nirmala sering sekali berpasangan meski yang dilakukan mereka membuatnya mual.
Malam itu, pelanggannya berbeda dari biasa. Lima orang laki-laki yang Nirmala duga lebih tua darinya karena tampak dewasa.
Lontaran kalimat gombal untuk Nirmala dari para laki-laki tersebut. Ia sedikit risih karena ucapan mereka.
"Ngamar yuk, dik."
__ADS_1
"Cantik sekali kamu, main semalam yuk."
"Berapa satu ronde?"
Sekuat tenaga Nirmala bersikap biasa saja. Jika ia membuat masalah, maka gaji malam ini tidak akan diberikan. Itulah peraturan yang diberikan pemilik Hotel.
Ingin rasanya Nirmala mengumpat para lelaki tersebut, apalagi sudah mulai mabuk.
"Sombong sekali kamu dari tadi hanya diam saja." Sungut salah satu lelaki itu.
"Maaf, saya hanya bekerja disini."
"Jangan kurang ajar, ya!!" Sentak Nirmala melawan padahal sangat ketakutan.
Ketiga lelaki pengaruh minuman tuak itu justru tertawa dan semakin semangat menggoda Nirmala.
"Sudah. Kalian jangan ganggu dia," kata seorang lelaki memisahkan mereka agar tidak mengganggu Nirmala.
__ADS_1
Rupanya, ada satu laki-laki sedari tadi duduk diam memperhatikan mereka. Dia adalah Arman. Mereka sengaja datang ke tempat ini karena baru saja menerima bonus tahunan dari Perusahaan tempat mereka bekerja.
Arman mendekati Nirmala yang meringkuk ketakutan. "Jangan takut. Mereka gak akan macam-macam. Bangunlah, ini tip untuk kamu. Maafkan kami sudah membuat kamu ketakutan," katanya meletakkan selembar uang kertas pecahan seratus ribu di dekat Nirmala.
Sejak saat itu, Arman sering sekali mendatangi Nirmala di tempat kerja. Nirmala sendiri tidak menolak, apalagi diberi tip oleh Arman. Sebagai anak sekolah tentu saja tip seratus ribu itu sangat besar baginya.
Nirmala juga menerima pernyataan cinta dari Arman meski masih sekolah. Ia menerima Arman dan juga terharu melihat Arman melamarnya secara langsung dihadapan ibunya.
Namun, satu hal yang belum dimengerti Nirmala sejak saat itu. Ia belum pernah diperkenalkan oleh keluarga Arman. Dahulu, Nirmala menganggap bahwa yang terpenting sikap Arman kepadanya baik, tidak perduli bagaimana keluarga Arman yang tidak menyukainya.
***
Assalamualaikum semua..
Hari ini aku rilis karya baru ya.. Sebenernya yg kemarin aku rilis dan hapus karena novel ini ikut lomba.
Doain, moga gak keteter..😅
__ADS_1
Mampir ya..