Penggemar Ku Seorang Ustadz

Penggemar Ku Seorang Ustadz
31. Pasar Malam


__ADS_3

Nirmala tersenyum dibalik masker yang dikenakan melihat tangan nya digenggam erat oleh Adnan sepanjang mereka berjalan mengelilingi Pasar Malam. Sesuatu yang tak pernah didapat olehnya selama ini. Bukan ingin membandingkan, ia juga tak ingin mengungkit sikap Arman kepadanya semasa hidup. 


"Mas. Beli itu," tunjuk Nirmala ke arah stand penjual cemilan. 


Adnan mengangguk dan mengikuti Nirmala jalan lebih dulu dengan tangan masih saling menggenggam. 


"Beli sosis jumbo dua, telur gulung 10 tusuk, Bu." Pekik Aisyah sebab suara berisik.


Nirmala menunggu pesanan selesai sembari memperhatikan orang-orang berlalu lalang. Ada bersama teman, pasangan, dan bersama anak mereka. Terlihat jelas tatapan sendu Nirmala ketika melihat pasangan membawa anaknya. Harapan nya, semoga pernikahan keduanya ini dapat dikaruniai seorang anak. 


Adnan membayar pesanan kemudian mengajak Nirmala untuk duduk di bangku besi yang ada dekat wahana baling-baling. Ia merasa sangat asing di tempat ini.


"Mas. Nanti naik baling-baling, ya." Ajak Nirmala seraya memakan sosis jumbo itu. 


Adnan mengikuti arah pandang Nirmala. Ia pun mengangguk menuruti permintaan istrinya itu. Menyenangkan istri juga mendapat pahala besar, bukan?

__ADS_1


Setelah menghabiskan jajanan yang dibeli tadi, keduanya pergi ke penjual karcis. Usai itu, keduanya antri menunggu baling-baling itu berhenti. 


"Mas. Makasih, ya." Ucap Nirmala tulus. Hatinya sangat bahagia lantaran khayalan nya semasa sebelum dinikahi Adnan menjadi kenyataan.


Benar.


Dahulu, Nirmala selalu berkhayal akan tetap seperti orang berpacaran meski sudah menikah. Menikmati waktu bersama dan menjaga hati masing-masing agar tidak ada hati yang tersakiti. 


Dan harapan Nirmala sikap Adnan akan seperti ini seterusnya, bukan hanya di awal saja. 


"Takut. Tapi aku pengen. Dulu sebelum aku dinikahi almarhum mas Arman, aku kerja jadi anggota jualan lempar gelang itu," tunjuk Nirmala ke bawah dimana stand permainan lempar gelang berada.


"Oh, ya?" Adnan menatap Nirmala tak percaya. Sangat jarang sekali anak gadis mau bekerja.


Nirmala mengangguk. "Iya, mas. Pagi sampe siang sekolah, sorenya aku kerja." Ia tak malu menceritakan keadaan nya kepada Adnan. 

__ADS_1


Adnan menatap Nirmala sejenak. Mengabaikan pasangan di hadapan mereka. "Kalau mas boleh tahu, Bapak kemana?"


Nirmala menipiskan bibir mengingat almarhum bapak nya. "Bapak itu penjudi dan selalu ninggalin hutang. Jadi, semasa hidup ibu selalu bayar hutang bapak. Bahkan saat ibu juga sudah meninggal, aku yang meneruskan hutang mereka. Rumah peninggalan orang tua ku akhirnya disita dan aku sudah gak punya apa-apa lagi. Apa mas malu nikahi aku?" 


Adnan sempat terkejut. Tapi, mengingat Nirmala telah memberi tahu masa lalu istrinya itu membuatnya mengerti. Ia pun mengelus kepala Nirmala sangat lembut. Memberikan ketenangan sebab mata istrinya itu sudah terlihat menganak sungai. 


"Nggak, sayang. Biarlah itu menjadi masa lalu kamu. Terpenting, sekarang kamu sudah berubah menjadi lebih baik."


Nirmala mengangguk dan mencoba menahan air matanya. Ia pun memeluk dengan kepala bersandar pada dada bidang Adnan. Memejamkan mata meresapi ketenangan tercipta dari dekapan itu. Dekapan yang tak pernah didapatkan selama ini sebelum dinikahi Adnan.


Keduanya turun dari baling-baling menuju penjual karcis lain nya. Ya, Nirmala ingin naik kereta api yang dapat dinaiki orang dewasa. Kebanyakan, orang dewasa naik kereta api ini bersama seorang anak kecil. 


Adnan sendiri hanya nurut dan mengikuti kemauan Nirmala. Sama sekali tidak malu atas kelakuan istrinya itu seperti anak-anak. Tetapi, tetap saja ia merasa senang melihat senyuman Nirmala selalu menghiasi wajah cantik itu. 


"Gak bawa anak saja pake naik. Penuhi tempat saja."

__ADS_1


__ADS_2