
Nirmala dan Adnan duduk sila di lantai beralas tikar sebab sofa di rumah mereka tidak dapat mencakup semua orang. Dihadapan mereka telah tersaji teh hangat dan dua porsi martabak manis yang dibeli tadi. Bedanya, dihadapan Nirmala bukan teh hangat melainkan susu hamil rasa cokelat.
Adi menggenggam tangan Farah saat curi-curi pandang melihat Adnan begitu perhatian pada Nirmala.
"Begini, Adnan. Kedatangan kami, khususnya saya sebagai orang tua Farah ingin menyampaikan permintaan maaf atas semua masalah yang terjadi." Kyai Hasan memandangi wajah istri, anak, dan menantunya serta orang tua Adnan. Semua tampak menunduk.
"Maaf, kyai. Kalian tidak punya kewajiban untuk minta maaf kepada saya," Adnan menghentikan ucapannya. Digenggam tangan Nirmala kemudian menatap semua orang bergantian. "Saya yakin, Allah sudah memaafkan kyai dan yang lainnya. Tapi, istri saya adalah manusia biasa seperti kita. Tolong, minta maaflah kepada istri saya." Ada rasa lega di hati Adnan setelah mengungkapkan keinginannya.
Sementara Nirmala menatap Adnan dari samping sedari tadi. Senyumannya mengembang kala menyadari bahwa Adnan benar-benar melindunginya.
__ADS_1
"Pak kyai gak perlu minta maaf. Cukup suamiku tetap berada di sisiku sudah lebih dari cukup. Demi Allah, saya sudah memaafkan kalian. Saya hanya berpesan, jangan menghalalkan segala cara demi mencapai ambisi. Walaupun cara itu di perbolehkan, tapi harus dipikirkan lagi karena bisa saja membuat pemiliknya marah."
Nirmala menatap Farah. "Mbak Farah. Terima kasih jika selama ini mbak telah mengagumi dan menjadikan suami saya sebagai kriteria suami idaman mbak. Tapi mas Adnan adalah suami saya. Jika memang bagi mbak sanggup poligami, tapi saya tidak mbak. Memang benar, poligami adalah Sunnah dan Rasul melakukannya. Tapi, saya lebih ingin seperti Siti Khadijah. Hanya saya wanita satu-satunya yang dicintai suami saya. Saya juga tidak melarang jika suatu saat suami saya berpoligami, tapi waktu itu tiba saat saya sudah tiada."
Sekilas Nirmala melirik ke arah ummi Salma yang masih diam saja. Mungkin, ibu mertuanya itu belum juga bisa menerima Nirmala sebagai menantu. Tapi, mulai kejadian yang lalu Nirmala sudah enggan memikirkan ibu dari suaminya itu. Masih ada emosi yang bergejolak saat melihat ummi Salma.
***
Adi dan Farah adalah teman ketika masih Sekolah Dasar. Berpisah ketika SMP. Farah masuk pesantren sementara Adi hanya masuk MTS karena tidak mampu untuk belajar di pesantren. Bertepatan itu pula kakak Adi masih kuliah. Saat masuk Aliyah/SMA, Adi masih berkeinginan masuk pesantren sehingga di turuti orang tuanya apalagi sang kakak telah wisudah dan bekerja sehingga keuangan orang tua Adi lebih lenggang.
__ADS_1
"Ustadz," panggil Farah menunduk setelah berada di kamar rumah kontrakan Adi yang tidak jauh dari pesantren.
"Jangan berbuat sesuatu yang menjatuhkan harga diri kamu, Farah."
"Maaf."
"Sekarang gimana?" tanya Adi menahan diri karena gugup jika berada di hadapan Farah. Sedari selesai akad, Adi dan Farah tidak ada bersentuhan kecuali ketika Farah mencium punggung tangannya dan ia menyentuh pucuk kepala Farah.
Farah mengangkat wajah menatap Adi kemudian menunduk lagi. Ia sendiri bingung harus melakukan apa. Tapi, rasa bersalah terhadap Nirmala terus saja menyelimuti hatinya.
__ADS_1
"Mandilah."