
Adnan mengecup pucuk kepala Nirmala berulang kali. Ia tahu bahwa istrinya masih trauma atas kejadian yang lalu. "Kamu tidur saja, biar mas yang beli sate yang kamu mau."
Nirmala mengangguk lemah. "Hati-hati, mas."
"Assalamualaikum," kata Adnan sambil menghela nafas panjang. Ia sudah sangat rindu Nirmala yang selalu ceria.
"Waalaikumsalam."
Adnan tidak langsung membeli martabak. Ia pergi ke rumah orang tuanya. Sesampainya disama, ia masuk setelah mengucap salam dan tidak menunggu sahutan dari orang yang berada di dalam.
"Adnan," kata ummi Salma tersenyum melihat Adnan kembali datang ke rumahnya. Sebab, setelah hari itu Adnan tidak lagi mengunjungi rumah mereka.
"Abi .. Ummi.. Apa kalian gak berniat datang ke rumahku dan minta maaf kepada Nirmala? Kalian sudah jelas nyata bersalah kepada istriku, tapi kenapa gak ada niat untuk minta maaf? Istriku setiap malam menangis karena rasa takut karena berpikir aku akan menikahi Farah secara diam-diam. Dia selalu berpikir buruk setiap kali aku datang ke pesantren."
"Aku sangat merindukan istriku yang dulu. Dia selalu tersenyum, tertawa, bercerita apa saja padaku, dia selalu merengek agar hukuman diringankan saat hafalan mengajinya tidak benar. Bukan Nirmala yang seperti ini, dia selalu bungkam dan akan menangis di malam hari saat aku tidur."
"Abi.. Ummi… Nggak ada salahnya meminta maaf kepada anak saat menyadari melakukan kesalahan. Istriku sedang hamil. Tolong, minta maaflah kepada Nirmala. Setidaknya permintaan maaf dari kalian dapat mengurangi trauma istriku."
Adnan pergi setelah mengatakan itu tanpa mengucap salam. Ia pergi ke tempat jualan sate yang diinginkan Nirmala. Setelah itu ia langsung pulang.
***
"Maaf, mas lama pulangnya." ucap Adnan sambil membuka bungkus sate di atas piring untuk Nirmala.
Nirmala hanya mengangguk tanpa bertanya penyebab lama pulangnya. Dan itu semakin membuat hati Adnan teriris. Biasanya Nirmala akan mengoceh panjang lebar saat ia pulang terlambat.
Sampai sebegitu traumakah?
Nirmala menyodorkan satu tusuk sate ke depan mulut Adnan dan membuat Adnan menoleh menatapnya. Nirmala mengembangkan senyum disertai anggukan pelan. "Jangan nangis," cicit Nirmala saat menyadari mata Adnan sudah berkaca-kaca.
Adnan mengunyah sate kambing itu sambil kepala menengadah menahan air matanya agar tidak tumpah. "Tolong percaya sama mas, sayang. Mas gak akan menduakan kamu. Kita jangan begini terus, ya?" Adnan meraih tangan kanan Nirmala dan melabuhkan banyak kecupan disana. Untuk pertama kalinya Nirmala menyuapinya setelah kejadian itu.
Tangis Nirmala kembali pecah. "Aku percaya sama mas. Tapi aku takut kamu gak bisa menolak permintaan ummi karena mas harus berbakti pada orang tua. Aku takut, mas." Nirmala menaruh piring yang di pegangnya ke atas meja.
Saling berpelukan tidak terelakkan lagi. Keduanya mengungkapkan perasaan cinta yang mendalam. Kesabaran Adnan menghadapi trauma Nirmala akhirnya menyadarkan Nirmala bahwa Adnan sangat mencintainya.
__ADS_1
Malam itu, mereka kembali mengungkapkan rasa melalui sentuhan manja yang memabukkan. Adnan begitu bahagia akhirnya Nirmala dengan suka rela melakukan ritual malam bersamanya, lagi. Gairah cinta yang bergelora semakin melambung tinggi ke atas awan. Menghabiskan malam dengan saling memuaskan.
****
"Kamu gak merasa bersalah, Farah?" tanya kyai Hasan kepada Farah yang baru saja selesai mengaji. "Beberapa santriwati bicarakan keadaan istri Adnan yang jarang keluar rumah dan gak pernah lagi mengundang mereka makan bersama saat akhir pekan."
"Kenapa kamu begini, nak? Kenapa kamu gak memikirkan perasaan istri Adnan saat ibunya membujukmu menjadi istri kedua Adnan? Bukankah Abi gak setuju sejak awal? Tapi karena bujukan kamu meyakinkan Adnan akan menuruti permintaan ibunya, Abi terpaksa setuju hanya karena kamu begitu juga ummi kamu. Kamu gak memikirkan jika benar-benar kamu dinikahi Adnan, perasaan kamu dan perasaan istri Adnan pasti saling tersakiti. Astaghfirullah, Abi gak habis pikir sama kamu. Pokoknya, saat ada yang mengkhitbah kamu jangan lagi ditolak. Demi Allah, Abi malu sama kelakuan kamu."
Farah hanya dapat menunduk mendengar kemarahan kyai Hasan. Ia juga merasakan rasa bersalah yang teramat. Cinta buta yang ia alami membuat semua orang menyalahkannya.
****
"Assalamualaikum, ustadz." sapa Adi melihat Adnan yang sedang duduk di bawah pohon rindang menikmati makanan di kota bekal.
Adnan mengangguk. "Waalaikumsalam, ustadz."
"Wah. Seperti sedang senang, ni?" goda Adi yang memang sering perhatikan kemurungan Adnan beberapa waktu belakangan.
Senyuman Adnan mengembang mendengar godaan dari Adi. "Alhamdulillah, tadz. Kenikmatan mana lagi yang harus saya dustakan, tadz."
Adi mengangguk mengerti. Meski Adnan sangat jarang memberitahukan kehidupan pribadi, tapi ia tahu bila Adnan beberapa waktu lalu sedang menghadapi masalah.
"Ya gak gimana-gimana. Pertama harus datangi orang tua beliau, bertukar CV ta'aruf, bertemu dengan beliau tapi gak boleh berduaan, menjaga pandangan, mengkhitbah, akad." jawab Adnan santai tanpa memakai perasaan karena ia tak punya perasaan apapun terhadap Farah.
"Kalau ustadz dengan istri ustadz gimana waktu itu?" tanya Adi penasaran karena setahunya, Adnan pergi bekerja. Kenapa pulang bawa istri?
Mendengar pertanyaan dari Adi barusan justru membuat Adnan terkekeh. Ia tidak langsung menjawab, memilih menutup kotak bekal, mencuci tangan, dan minum lebih dahulu. Adi yang menunggu seakan tidak sabar saking penasarannya.
"Saya tidak ada proses ta'aruf ataupun mengkhitbah."
"Jadi, kenapa bisa sampai menikah? Ustadz tidak pacaran kan?"
Adnan menggeleng karena memang tidak pernah pacaran. "Mungkin sudah jalan jodohnya begitu, tadz. Saya adalah penggemar istri saya yang seorang penulis. Dan bertepatan dapat kerjaan di desa istri saya pula. Ya sudah, saya ajak teman saya ke rumah istri saya dan besoknya menikah."
Adi tampak takjub mendengar awal kisah cinta Adnan. "Maaf, Tadz. Setelah menikah, apa ustadz dan istri langsung melakukan itu?"
__ADS_1
"Ya. Karena kami berdua saling menerima pernikahan ini. Awal menikah juga istri saya tidak tahu kalau saya seorang ustadz, padahal di acara MTQ waktu itu istri saya sebagai panitia."
"Waaahh," Adi tertawa mendengar cerita Adnan. Ia juga dapat membayangkan gimana terkejutnya Nirmala saat pertama kali tahu bila Adnan seorang ustadz.
"Tadz. Mau temani saya sebagai wali untuk mengkhitbah ustadzah Farah?" tanya Adi pelan-pelan setelah mereka diam sesaat barusan.
Lama Adnan terdiam. Adi meminta pertolongan demi kebaikan, tapi ia tidak boleh mengambil keputusan sepihak tanpa memikirkan perasaan Nirmala.
"Saya harus bicarakan dulu dengan istri saya, Tadz."
Adi mengangguk mengerti.
****
"Istri mas gimana kabarnya hari ini?" tanya Adnan sambil memeluk perut Nirmala yang sudah membuncit sedikit.
"Kami sehat, mas." Nirmala mengelus kepala Adnan.
"Makan apa saja hari ini?"
Nirmala terkekeh mendengar pertanyaan Adnan. Memang semenjak kehamilannya memasuki trimester kedua, naffsu makan Nirmala bertambah kecuali nasi karena akan muntah saat makan nasi.
"Aku sudah makan sup buatan mas, jelly, salad buah, dan jus buah naga buatan mas juga."
"Alhamdulillah."
"Aku gendut banget ya, mas?" tanya Nirmala merasa berat badannya bertambah banyak.
"Enggak, sayang. Kamu makin cantik dan seksi. Lihat, sumber kekuatan mas makin gede."
"Iiihh… mesum. Ini punya dede nya."
Adnan tertawa mendengar itu. "Sayang. Mas mau minta izin, boleh?"
"Izin kemana, mas?"
__ADS_1
"Ke rumah kyai Hasan untuk,-" belum sempat Adnan selesaikan bicara sudah di potong oleh Nirmala.
"Pergilah, tapi jangan pulang lagi."