Penggemar Ku Seorang Ustadz

Penggemar Ku Seorang Ustadz
15.


__ADS_3

Nirmala menepuk-nepuk pipi nya yang sudah terpoles dengan make up tipis. Baru saja terdengar oleh nya kalimat ijab kabul dan ucapan kata 'sah' oleh dua saksi dari sisi masjid dekat mimbar. Ia memejamkan mata untuk menenangkan hati dan degub nya. Tak pernah di sangka jika jodoh kedua nya datang begitu tiba-tiba dan sangat singkat.


Jika dalam Agama Islam memiliki proses ta'aruf, khitbah, akad, dan walimah. Berbeda dengan dirinya berawal dari keisengan, tantangan, dan akad.


Jaffan Al Adnan. Itulah nama suami Nirmala saat ini. Nama yang tak asing menurutnya, namun tidak ingat dimana pernah membaca nama lengkap itu.


Ibu Sarifah, ibu mertua dan Dani sedang tidak berada di rumah ketika Nirmala hendak meminta izin menikah. Hanya ada orang tua Nining dan Nining saja. Yang menjadi saksi nikah ialah anak santri Zaki dan ayah Nining. Nirmala juga sudah mengurus surat persyaratan nikah di kantor Cipil dan sedang dalam proses penyelesaian.


"Mbak Lala. Sana gih duduk di sebelah suami mbak," bisik Nining membuat Nirmala menelan saliva dengan kasar.


Bagaimana ini?


Nirmala merasa belum siap menjadi seorang istri dari pria asing yang tak pernah dikenalnya. Tapi, ketika semua mata tertuju padanya tak memiliki pilihan lain. Ia pun bangkit dan mengayun tungkai kaki menuju ke depan dimana Adnan berada. Duduk manis dengan kepala menunduk.


"Di salim suami nya, La." Tegur ayah Nining mengejutkan Nirmala.


Sebab terlalu gugup membuatnya lupa. Sekilas Nirmala menegakkan kepala dan menatap Adnan yang sedang menatapnya. Ingin sekali ia menjerit akibat ditatap seperti itu yang tak dapat diartikan.

__ADS_1


Diraih tangan Adnan perlahan. Nirmala tersenyum menyeringai ketika merasakan tangan suami baru nya itu sangat dingin.


Hahaha.. Bisa gugup juga Bapak ini, gumam Nirmala dalam hati.


Nirmala merasa senang mendapati Adnan gugup seperti dirinya. Ingin rasanya menertawakan pria aneh itu sekarang juga. Namun, sedetik kemudian tubuh nya tegang ketika telapak tangan Adnan berada di atas kepalanya, membacakan doa untuknya.


Hatinya bergetar, tak pernah ia diperlakukan seperti ini oleh mendian suami pertamanya, Arman. Matanya terpejam meresapi suara merdu Adnan yang sedang berdoa.


Seketika Nirmala merasa rendah diri bersanding oleh pria dihadapan nya.


Tidak banyak yang tahu bila Nirmala menikah hari ini karena para warga sedang sibuk bergotong royong membantu mempersiapkan acara MTQ esok. Ada yang sibuk berbelanja bahan makanan yang akan di masak untuk ustadz, para juri, peserta dari berbagai Desa satu kecamatan, dan terpenting para petinggi Pemerintah. Bupati, Wakil Bupati, dan camat akan turut hadir.


"Waalaikumsalam," sahut ketiganya.


Nirmala segera mendekati pintu. "Masuk, pak."


Kepala Desa tersebut masuk ke dalam rumah dan berjabat tangan kepada Zaki dan Adnan. Nirmala melihat itu gegas ke dapur membuat teh bagi ketiga pria itu. Berulang kali menghembus nafas dengan kasar seraya mengaduk teh agar gula di dalam nya larut.

__ADS_1


Meletakkan tiga gelas teh hangat di atas nampan lalu dibawa ke ruang tamu. Nirmala menatap Adnan sekilas, terlihat Adnan memberi isyarat agar dirinya masuk ke dalam. Ia mencebik bibir tapi tetap menuruti.


Senyum penuh maksud terbit di bibir Nirmala. Ia memang masuk ke dalam kamar tapi tetap berdiri dibalik gorden agar dapat mendengar pembicaraan tiga orang itu.


***


"Ini teman saya yang akan menggantikan besok, pak." Kata ustadz Zaki kepada Kepala Desa.


Adnan mengangguk kemudian menyambut jabatan tangan. "Salam kenal, pak."


***


Dia ganti Pak Zaki? Apa dia seorang ustadz?


❤️


__ADS_1


Assalamualaikum semua.. maaf untuk beberapa hari, update emak jarang yang. Qadarullah.. Semua isi dapur lenyap❤️


__ADS_2