Penggemar Ku Seorang Ustadz

Penggemar Ku Seorang Ustadz
35. Deg


__ADS_3

"Astaghfirullah, Adnan. Kamu itu gimana? Kalau memang kamu mau nya janda, kenapa harus jauh disana?" Tanya Ummi Salma masih terheran-heran oleh putra sulungnya. 


Adnan menghela nafas panjang. "Bukan masalah jandanya, Mmi." 


"Apa kalian sudah pacaran sebelum bertemu?" Tanya Abi Musa dan Adnan menggeleng. 


"Awalnya aku hanya merasa tertantang dengan ucapan istriku, bi. Tapi, setelah menikah dan tinggal bersama selama seminggu. Aku merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Istriku memang gak sama seperti mereka yang berlomba-lomba ingin menjadi istriku ataupun perempuan yang diinginkan ummi untuk menjadi istriku. Bersamanya, aku merasa menjadi laki-laki yang berguna. Aku ingin selalu melindungi istriku."


"Besok kita jemput menantu kita, Ummi." Kata Abi Musa tegas membuat Ummi Salma dan Adnan terkejut. 


"Tapi besok Adnan harus mengajar, bi. Dan harus menghadiri tausiyah ke kantor Bupati," terang Adnan pula.


"Yang mengajak kamu siapa, Adnan? Abi cuma ajak Ummi kamu," jawab Abi Musa pula. 


Adnan lebih terkejut lagi mendengar jawaban Abi. Pikirannya teralih sikap antara orang tuanya dan juga Nirmala jika sudah bertemu. "Abi dan Ummi mau ngapain kesana tanpa aku?" Pertanyaannya terdengar panik sekali. Apalagi mengingat cerita Nirmala kepadanya sebelum menikahi istrinya itu.


"Abi dan Ummi kamu ini gak akan sakiti istri kamu. Takut banget," kata Ummi Salma sewot. 


Adnan menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Abi dan Ummi gak akan galak-galak 'kan?" Tanyanya sekedar memastikan. 

__ADS_1


"Ummi ingin lihat. Dia perempuan baik-baik saja atau nggak. Ummi ingin cucu ummi terlahir dari perempuan gak baik," kata ummi Salma sedikit tak rela bila Adnan sudah menikah dengan perempuan yang tidak dikenalnya.


Tubuh Adnan membeku sesaat. Belum sempat untuk mengatakan sesuatu, kedua orang tuanya telah beranjak masuk ke dalam kamar. "Aku khawatir Ummi dan Lala akan sering selisih paham. Semoga hanya kekhawatiran ku saja, ya Allah."


****


"Ummi, Abi. Tolong berbuat baik pada istriku, ya. Kalau istriku salah, ditegur dengan baik. Jangan marahi dia," Adnan masih merasa khawatir sampai keesokan hari kedua orang tuanya benar-benar akan pergi menyusul Nirmala.


"Kamu ini. Abi dan ummi gak sejahat itu," kata Abi Musa dan Adnan mendapat cubitan dari ummi Salma. 


Adnan akhirnya menyerah, ia mencium punggung tangan kedua orang tuanya. Begitu juga Rizal, adiknya. 


"Mas. Mampir gitu ke warung. Aku lapar," kata Rizal merengek.


Adnan melirik ke arah Rizal. "Makan di Pondok saja," ucapnya.


Rizal berdecak kesal. "Di Pondok sayurnya kangkung terus, mas. Aku bosan," keluhnya. Beruntung rumah orang tua mereka dekat dengan Pondok Pesantren sehingga mudah baginya izin pulang hanya untuk makan masakan ummi Salma.


"Bersyukur. Masih banyak orang diluaran sana kelaparan bahkan makan nasi bekas orang lain," kata Adnan. Seperti itulah dirinya yang selalu tegas kepada sang adik. 

__ADS_1


Sesampainya di Pesantren, Adnan kembali ke kelas untuk mengajar begitu juga Rizal. 


Para santri senang atas kepulangan Adnan sebab sudah merindukan ustadz tampan mereka. 


****


"Assalamualaikum, Tadz." Kata seorang perempuan dengan hijab panjang dan penutup wajahnya.


Mata adnan terpejam beberapa saat ketika mendengar suara yang dikenalnya yaitu Farah. "Waalaikumsalam," ucapnya tanpa menatap ke perempuan tersebut dan ingin segera meninggalkan Pondok sebab tak ingin menjadi fitnah. 


"Ustadz, tunggu."


Adnan menghela nafas panjang tanpa berbalik ke arah Farah. "Tolong, ustadzah. Jika bukan mengenai pekerjaan, lebih baik kita tidak saling menyapa. Saya tidak ingin timbul fitnah diantara kita. Demi Allah, saya ingin menjaga perasaan istri saya."


Deg


🌹


Cerita Anggita dan Devano aku hapus dulu ya.. Mereka aku ikutin event jadi harus banyak di revisi dulu

__ADS_1


__ADS_2