
"Sudah jangan sedih. Biar saja Abi dan ummi pulang lebih dulu agar dapat nenangin diri sebelum kita datang. Sekarang kita selesaikan masalah yang disini lebih dulu, ya." Adnan mengerti perasaan yang dirasakan oleh Nirmala.
Nirmala hanya mengangguk dengan mata terpejam merasakan kenyamanan dalam dekapan Adnan. Baru disadari, pelukan Adnan membuatnya semakin terasa aman. Rasanya, sudah sangat lama tidak mendapat pelukan dari seseorang. Bahkan Nirmala lupa terakhir kali merasakan pelukan dari seseorang.
"Ayo kita berangkat," ajak Adnan mengurai pelukan lalu merapikan hijab yang dikenakan Nirmala.
Keduanya keluar rumah saling bergandengan tangan. Adnan membonceng Nirmala menuju rumah mertua Nirmala dahulu.
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai. Dengan penuh keyakinan Adnan mengajak Nirmala agar segera memberi salam dan menyelesaikan masalah mereka.
"Assalamualaikum," ucap Adnan dan ia mengeratkan genggaman karena Nirmala tampak tidak nyaman setelah mendengar sahutan salam dari dalam rumah.
"Oh, kalian. Masuk," kata ibu Sarifah tidak ramah sama sekali.
Untuk sesaat Nirmala terpaku menatap isi rumah ibu Sarifah. Sudah banyak perubahan disini. Sofa baru dan ada lemari kaca hias di sudut ruangan. Rak televisi juga baru. Belum lagi sepeda motor matic baru ada di pojok ruang tamu. Mungkin, uang yang ia berikan dipergunakan untuk membeli ini, pikir Nirmala.
"Ada apa?" Tanya ibu Sarifah langsung pada inti tujuan kedatangan Adnan dan Nirmala tanpa menyuguhkan minum atau makanan.
"Begini, Bu. Nirmala akan mengembalikan sisa uang kematian mas Arman. Tapi dengan satu syarat," ucap Nirmala memberanikan diri dan mencoba menerima. Meski uang tersebut seharusnya miliknya, tetapi demi kedamaian hati dan hidupnya maka memilih menyerahkan uang tersebut.
"Apa syaratnya?" Tanya ibu Sarifah sok jual mahal, padahal dalam hati sangat antusias atas ucapan Nirmala. Sedari dulu memang dirinya tidak menyukai Nirmala sejak menjadi menantunya, apalagi tidak juga kunjung hamil. Ia yakin, hal itu karena azab bagi Nirmala yang hidupnya di dunia bebas.
__ADS_1
"Ibu jangan lagi ganggu hidup Nirmala, Bu. Nirmala sekarang sudah memiliki keluarga baru, dan maaf menikah tanpa izin ibu." Ucap Nirmala kemudian mengeluarkan sebuah ATM berisi sisa uang kematian Arman. Selain uang dari kartu ketenagakerjaan dan beberapa emas peninggalan Arman.
Dengan cepat ibu Sarifah mengambil kartu ATM tersebut dan menyetujui syarat dari Nirmala. Bodo amat akan persyaratan itu, terpenting uang itu akan menjadi miliknya.
"Kalau begitu, kami pamit. Assalamualaikum," kata Adnan kembali menggenggam tangan Nirmala, berjalan keluar rumah tersebut.
"Waalaikumsalam."
****
Malam harinya, Nirmala dan Adnan sudah menaiki bus menuju Bandara yang ada di ibu kota provinsi. Sepanjang jalan, Nirmala melantunkan doa dalam hati agar dirinya di terima oleh keluarga Adnan.
Usai melaksanakan sholat, Adnan dan Nirmala menuju rumah makan. Memesan makanan dan teh hangat.
"Masih pusing?" Tanya Adnan seraya berpindah duduk di sebelah Nirmala, memberikan pijatan-pijatan halus di leher dan kening Nirmala.
"Iya, mas. Perut ku mual, mungkin masuk angin." Terang Nirmala.
"Ya sudah, nanti mas kasih minyak angin punggung dan perutnya ya. Kita makan dulu. Mau mas suapi?" Tawar Adnan dan dijawab gelengan oleh Nirmala.
"Mas juga harus makan. Aku bisa sendiri kok." Tolak Nirmala halus tidak ingin merepotkan apalagi ia tahu Adnan juga pasti sangat lapar.
__ADS_1
Adnan mengangguk paham saja. Tetapi, baru beberapa suap Nirmala sudah tampak tak berselera. Ia pun menyodorkan tangannya berisi makanan ke depan mulut Nirmala. "Perjalanan kita masih jauh, sayang. Makan, ya. Mas suapi," katanya dan ia tersenyum ketika Nirmala menerima suapan darinya.
Adnan terkekeh melihat betapa lahap Nirmala saat di suapinya. Justru lebih banyak makanan yang dihabiskan istrinya itu daripada dirinya." Mau nambah?" Tanya Adnan ketika melihat Nirmala masih melihat piring miliknya dan sudah kosong, piring Nirmala juga sudah lebih dulu habis.
Nirmala hanya nyengir kuda dan Adnan peka akan hal itu. Adnan pun memesan satu porsi makanan lagi.
"Suapi lagi, mas." Kata Nirmala manja membuat Adnan terkekeh senang.
"Baiklah. Makan yang banyak biar gak masuk angin lagi, oke."
"Oke."
Setengah jam kemudian bus yang di tumpangi Adnan dan Nirmala kembali melanjutkan perjalanan. Karena hari sudah malam, banyak penumpang mulai terlelap.
"Masih pusing?" Tanya Adnan kepada Nirmala yang sedang bersandar di dada bidangnya.
"Gak terlalu, mas. Aku suka bau badan mas," ungkap Nirmala sedari tadi menghirup aroma tubuh Adnan.
Adnan meringis mendengar ucapan Nirmala. Padahal sedari tadi ia merasa tak percaya diri di peluk Nirmala karena belum mandi.
"Mas gak boleh dekat-dekat perempuan lain, ya. Aku cemburu, nanti ada yang cium aroma tubuh mas."
__ADS_1