
Setelah sarapan bersama, Nirmala segera bersiap untuk ke rumah salah satu warga yang bertugas memasak makanan bagi peserta menginap di kafilah. Pihak panitia pembagian konsumsi ada lima orang. Nirmala sendiri hari pertama kebagian membagi untuk peserta yang berada di dusun sebelah bersama Nining. Sedangkan tiga orang lain nya membagi makanan dua kafilah lain nya dan ustadz.
Nirmala duduk di parkiran dimana ada tukang bakso bakar disana. Ia menunggu bakso pesanan nya tanpa bercerita apapun sebab sedari tadi menahan kantuk. Bagaimana tidak mengantuk?
Nirmala dan Adnan menyelesaikan ritual malam pertama hingga jam dua, bercerita sampai jam tiga lalu terlelap, dan bangun sebelum subuh. Sungguh, Nirmala ingin tidur sebentar saja.
Dilihatnya para panitia lain sibuk kesana kemari. Ada yang sibuk menyusun parkir, sebagai penerima tamu, menyambut kedatangan peserta lain, para perwakilan Desa, ada juga sibuk mengurus panggung, sound sistem, menyusun tempat duduk, dan lain nya.
Hingga sore telah tiba, acara pembukaan MTQ telah di mulai. Upacara penaikan bendera diiringi lagu Indonesia Raya dan para paskibraka telah di mulai. Di barisan utama terdapat para petinggi Pemerintah, tokoh agama, dan tokoh masyarakat disana. Meski terik Matahari menyinari, tak menampik semangat para pelaksana. Sama seperti Nirmala juga turut baris paling belakang sehingga tidak melihat bila suaminya berada di barisan utama.
Hingga upacara selesai dan acara selanjutnya kata sambutan dari beberapa petinggi Pemerintah, hingga ustadz naik ke atas panggung memberikan sedikit tausiyah serta memimpin doa.
"Para saudara-saudari ku sekalian yang di muliakan oleh Allah subhanahu ta'ala. Memperhatikan Al-Qur'an, itu sangat kemuliaan bagi kita. Semakin banyak memperhatikan Al-Qur'an, semakin banyak manfaatnya bagi kita. Contoh, ayat kursi. 1 ayat, Rasulullah SAW bersabda. Barang siapa membaca ayat kursi, setiap habis sholat fardhu. Tidak ada sesuatu yang menghalanginya masuk surga."
"Itu baru 1 ayat. Bagaimana jika seluruh isi Al-Qur'an? Maka dari itu, mari sama-sama belajar Al-Qur'an."
Nirmala yang masih berada di Kantor Desa setelah selesai upacara, merasa tak asing dengan suara Ustadz sedang menyampaikan tausiyah. "Ning. Kamu dengar ustadz yang ceramah itu?" tanya nya.
Nining mengangguk disertai menyeruput air mineral dalam botol. "Ya. Itu suami mbak. Hebat mbak, ya. Dapat Ustadz!"
Mata Nirmala terbelalak mendengar nya. Ia langsung bangkit berjalan terburu-buru keluar dari Kantor Desa menuju tanah lapang. Benarkah demikian?
Bukankah Adnan pernah bilang kalau dirinya pengajar?
Dan sekarang!
__ADS_1
Ustadz?
Nirmala menggeleng tak percaya melihat Adnan sedang memimpin doa di atas panggung. Ia berjalan ke arah sebelah kanan tiga kali seraya menepuk-nepuk jidat dan tangan satu nya berada di pinggang. Pikiran nya melayang ketika Adnan berada di rumah nya. Tidak sedikitpun menaruh curiga bila Adnan seorang ustadz. Tentu saja tidak curiga sebab dirinya disibukkan dengan acara MTQ ini.
"La," panggil Adi, Kepala Dusun.
"Ya, bang." Sahut Nirmala memanggil Adi sebab dirinya masih lajang.
"Betul kamu sudah menikah?" tanya Adi.
Nirmala menoleh menatap Adi kemudian mengangguk. Ia tahu, laki-laki di hadapan nya menaruh hati padanya. Hanya saja, ia selalu menolak karena belum siap menikah lagi.
"Kamu bilang belum siap untuk berumah tangga lagi," kata Adi lagi.
Ada rasa tak enak hati mendengar ucapan Adi barusan. Memang benar adanya, ia mengatakan belum siap berumah tangga lagi lantaran takut akan merasakan luka batin.
"Mbak. Ayo kita bagi botol mineral ini ke tamu," ajak Nining dan di angguki oleh Nirmala.
"Aku bagi ini, mas."
Nirmala dan Nining berjalan memasuki area tanah lapang. Ia mengambil botol mineral dari dalam kotak yang di bawa Nining lalu di taruh kebatas meja para tamu khusus petinggi Pemerintah. Dengan sopan dan senyum ramah ia bagi hingga tiba di meja untuk Adnan.
Entah karena malu atau merajuk kepada Adnan, Nirmala cemberut ketika Adnan tersenyum padanya.
"Mau saya jodohkan dengan keponakan saya, Tadz? Dia Hafizah, pendidikan di Kairo juga seperti ustadz."
__ADS_1
Nirmala mencebik mendengar Bapak Wakil Bupati menawarkan perempuan lain. Ia pun segera mengambil botol dalam kotak itu lagi kemudian meletakkan di depan Bapak Wakil Bupati.
Adnan melihat tingkah Nirmala justru terkekeh. "Sepertinya, istri saya marah mendengar tawaran Bapak."
"Maksud Ustadz?"
"Saya sudah menikah, pak. Mana berani saya menikah lagi."
"Aduh. Maafkan saya, Tadz. Saya belum tahu jika ustadz sudah menikah."
Adnan mengangguk seraya memerhatikan Nirmala semakin menjauh.
Acara pembukaan selesai hingga sore dan perlombaan di buka pada malam hari usai sholat isya. Malam di buka dengan lomba Tilawatil Qur'an tingkat dewasa.
****
Nirmala enggan pulang sebab akan merasa canggung dan malu sekaligus. Apalagi ia menjadi rendah diri bersanding dengan Adnan.
Seorang ustadz, cuy.
Nirmala mengacak-acak hijab nya memikirkan betapa liar dan agresif dirinya saat berhubungan badan dengan Adnan. Ronde kedua ia lebih banyak memimpin permainan.
Ia terus mengetuk kening nya karena benar-benar bingung harus bersikap seperti apa ketika berhadapan dengan Adnan. Apalagi ketika melihat penampilan Adnan tadi siang menjadi ingatan kembali beberapa waktu lalu.
Jaffan Al Adnan.
__ADS_1
Sebab membaca nama ustadz itu membuatnya menabrak sang pemilik nama. Matanya terbelalak ketika teringat ucapan nya kala itu.
Ya Allah. Ucapan ku jadi kenyataan, dia jadi suamiku setelah bertemu kembali.