Penggemar Ku Seorang Ustadz

Penggemar Ku Seorang Ustadz
13. Pertimbangan


__ADS_3

"Saya perwakilan dari teman saya, Adnan." Ia menunjuk Adnan yang masih diam saja. "Untuk melamar kamu."


"Hahh?!!"


Nirmala begitu syok mendengar ucapan Zaki, matanya berulang kali berkedip lucu. Pandangan nya teralih menatap teman Zaki. Dahinya berkerut saat merasa pernah bertemu dengan orang itu.


"Kamu siapa? kita gak saling kenal kenapa datang-datang melamar aku?" Tanya Nirmala masih dalam keterkejutan nya. Sebagian besar orang-orang pada umumnya sebelum menikah kebanyakan melewati masa perkenalan, pendekatan, pacaran, melamar, menikah. Sedang pria ini melamar akan menikahi, padahal tidak saling mengenal.


"Calon Jenazah," jawab Adnan singkat membuat Zaki dan Nirmala menatap dengan air muka yang berbedah. Jika Zaki mengerutkan dahi merasa heran dengan jawaban Adnan, berbeda pula dengan Nirmala. Janda muda itu menatap Adnan dengan seksama. Seketika itu pula wajahnya berubah masam disertai degup jantung yang tak biasa.


Nirmala menelan saliva dengan kasar. Isi kepala nya mendadak kosong tak dapat berpikir keras akibat masalah yang menimpa nya.


"Maaf ini, pak. Saya janda, loh." Kata Nirmala mencari alasan dengan harapan Adnan mengurungkan niat untuk menikahi nya.


Adnan mengangguk menatap Nirmala sekilas. "Sudah kamu katakan lewat telepon," tutur nya.

__ADS_1


Nirmala menghela nafas panjang. Merutuki kebodohan nya mengucapkan kalimat asal kepada Adnan waktu itu.


"Aku gak kerja. Bisa menjamin nafkah yang kamu berikan kepadaku, cukup?" tanya Nirmala seolah meremehkan. Padahal, itu cara nya agar Adnan tidak menikahinya.


"InsyaAllah, cukup."


Nirmala memutar bola mata jengah. Ternyata bukan hanya dari sambungan telepon Adnan memberi jawaban dengan gigih. Melainkan sekarang ini juga.


"Emang bapak kerja apa?" tanya Nirmala kepada Adnan.


"Adnan. Nama saya Adnan," kata Adnan sebelum menjawab pertanyaan Nirmala barusan. "Saya pengajar," imbuhnya lagi.


Nirmala mengangguk-angguk saja. Pantas saja 'calon jenazah' itu membaca novelny karena seorang guru, pikirnya.


Wanita itu percaya jika Adnan seorang guru bukanlah ustadz karena penampilan pria itu tidak seperti seorang ustadz pada umumnya. Bahkan lebih terkesan seperti anak muda pada umumnya.

__ADS_1


"Maaf ini ya pak, Tadz. Khusus nya anda, pak Adnan. Kita inikan gak saling kenal. Bahkan bisa di bilang kita saling bicara melalui telepon itu gak sampai satu bulan. Masa iya bapak baru saya tantang begitu sudah yakin ingin menikahi saya?" tanya Nirmala jujur mengungkapkan kegundahan hati.


Tentu saja ia harus banyak bertanya, sebab pengalaman masa lalu tak ingin terulang kembali. Ia tidak ingin mengalami kisah rumah tangga dengan konflik yang sama. "Banyak laki-laki setelah menikah berubah sikap. Beda dengan saat masih pacaran," imbuhnya lagi berani menatap Adnan lalu menunduk kembali.


"Kita bukan pacaran. Tapi, akan menikah. Pasti sifat dan sikap kita akan terlihat dan dipahami seiring waktu."


Ucapan Adnan semakin membuat Nirmala pening. Ia memejamkan mata, menarik nafas panjang menenangkan hatinya.


"Baiklah. Saya juga harus bertanggung jawab atas ucapan beberapa hari lalu. Tapi, saya bukanlah perempuan baik-baik. Saya punya masalalu yang buruk," katanya pelan.


Hening.


Untuk sesaat keadaan menjadi hening. Tak mungkin Nirmala memberitahukan masalalu nya kepada Adnan dihadapan Zaki yang notabane nya adalah seorang ustadz.


"Seburuk apa masa lalu kamu?" tanya Adnan penasaran. Bagaimanapun, ia harus tahu dan mempertimbangkan. Sebab, bukan hanya akan dijadikan istri, melainkan menjadi ibu untuk anak-anak nya kelak.

__ADS_1


"Kita harus bicara berdua saja."


❤️


__ADS_2