Penggemar Ku Seorang Ustadz

Penggemar Ku Seorang Ustadz
8. Dengarkan


__ADS_3

"Dengarkan baik-baik bagi perempuan."


"Banyak lelaki yang siap menikah karena sanggup menafkahi. Namun, tak banyak yang siap untuk membimbing istri. Maka, saat kamu memilih, pilihlah dia yang terlihat bisa mengimami. Sebab, suami bukan hanya sebatas mencari rezeki. Namun, lebih dari itu.Seorang suami, dialah penuntut surga untuk istri."


"Jadi untuk para perempuan, lebih selektif dalam memilih pasangan, ya. Jangan hanya karena tampan dan kaya, kita lupa bahwa ilmu Agama lebih utama."


Usai mengisi kajian di Pesantren santriwati dan ditutup doa juga salam, gegas ku tinggalkan area itu karena merasa tidak nyaman. Namun, langkahku harus terhenti karena seorang wanita dengan pakaian syar'i serta niqob yang menutupi wajah menghampiri ku.


"Assalamualaikum, ustadz."

__ADS_1


Aku menoleh ke belakang, dari suara tersebut aku dapat mendengar bila itu suara ustadzah Farah. Aku pun melangkah mundur memberi jarak lebih. "Waalaikumsalam, ustadzah. Ada apa, ya?" aku menundukkan pandangan dan tidak ingin berlama-lama berduaan dengan Farah meski di tempat umum. Selain dilarang, aku takut ada yang melaporkan kepada ummi, maka tak akan bisa memberi alasan untuk menunda menikah.


"Ustadz di undang Abi buat makan malam di rumah."


Aku menatap mata Farah sekilas, aku lihat gadis itu tersenyum dari gambaran garis mata nya. "Iya. Kyai sudah memberi kabar itu. Permisi, ustadzah. Assalamualaikum," ucap ku kemudian pergi meninggalkan pesantren santriwati itu. Terdengar di telinga bahhwa banyak santriwati bersorak kepada Farah.


Jadwal mengajar telah selesai. Aku gegas pulang ke rumah lebih dahulu lalu ke rumah orang orang tuaku untuk memberitahu pesan yang di sampaikan Farah barusan. Tapi, aku berniat menyampaikan pesan itu kepada Abi bukan kepada Ummi.


"Ummi kamu sedang pengajian bareng ummi Kalsum. Ada apa, nak?"

__ADS_1


Abi selalu saja dapat mengerti aku ketika gundah gulana seperti ini. Aku pun duduk di kursi seberang kiri Abi dan meja kayu diantara kami.


"Farah tadi mendatangiku, Abi. Kyai Hasan mengundangku makan malam di rumah beliau," kata ku menoleh menatap Abi sekilas lalu menatap lurus melihat buah rambutan yang sudah menguning dan ada yang mulai memerah sebagian.


Abi menghela nafas panjang. "Memaksa anak untuk menikah dengan orang yang tidak mereka cintai sebenarnya adalah tirani. Bagaimana seorang wanita atau pria bisa bahagia ketika dia harus bersama seseorang yang tidak dia cintai? Karena tujuan utama pernikahan adalah untuk mendatangkan kebahagiaan bagi kedua belah pihak, antara dua pasangan suami istri. Pernikahan adalah satu sunnah Nabi Muhammad SAW yang harus diikuti oleh pengikutnya, itu adalah sifat manusia untuk memenuhi kebutuhan rohani tubuhnya. Pernikahan juga memiliki cita-cita yang tempatnya tertentu dalam kehidupan manusia karena mengandung ikatan antara dua orang yang dapat mengangkat derajat mereka. Jadi, nikah paksa dalam agama Islam itu hukumnya haram. Karena akan menimbulkan mudharat bagi pasangan dan keluarganya."


Aku mendengar ucapan Abi dan mencerna makna yang sebenarnya aku sudah tahu. Namun, jika sedang kalut begini selain mengadu pada Sang Pencipta, aku selalu berbagi pada Abi agar pikiran dan hati ku menjadi lega.


Kini, aku sudah siap untuk menjawab dan menuturkan keputusan ku kepada kyai Hasan, ayah Farah. Pemilik Pondok Pesantren dimana tempatku bekerja.

__ADS_1


❤️


__ADS_2