Penggemar Ku Seorang Ustadz

Penggemar Ku Seorang Ustadz
22. Astaghfirullah


__ADS_3

Betapa terkejut Nirmala melihat Adnan mencuci piring. Rasa bersalah semakin menggebu lantaran sudah pulang terlambat dan belum beberes rumah. Seketika hatinya menciut tidak dapat menjadi istri baik bagi Adnan.


"Mas ngapain di cuci piring nya?" tanya Nirmala pelan.


Adnan baru selesai mencuci dan membilas piring, berdiri sebab sebelumnya berjongkok saat mencuci piring itu. Ia membawa piring tersebut lalu meletakkan di rak. Justru dirinya gugup di tanya seperti itu oleh Nirmala.


"Ya cuci piring saja, dek. Aku takut kamu marah jadi aku cuci," jawab Adnan tak kalah pelan. Ia tahu bahwa sifat wanita berbeda-beda. Apalagi mengingat sang ibu juga bawel, jadi harus hati-hagi berbicara dengan Nirmala.


Dahi Nirmala berkerut mendengar jawaban Adnan. "Aku marah, mas? kenapa?" tanya nya bingung. Bukan kah seharusnya Adnan marah padanya?


"Iya. Mas takut kamu marah karena teguran mas keterlaluan," terang Adnan mengungkapkan kekhawatirannya.


Nirmala mendengar itu justru menahan senyum. Ia tak menyangka bila Adnan salah paham. "Kenapa mas duga begitu?"


"Kamu diem saja setelah mas tegur. Jadi, mas khawatir kamu marah."

__ADS_1


Nirmala mengangguk-angguk mengerti. "Jadi, mas pikir aku marah terus mas cuci piring biar aku gak jadi marah?" tanya nya menyimpulkan perlakuan Adnan.


Benar saja, Adnan mengangguk polos. Bahkan terlihat imut di mata Nirmala. Ingin sekali tertawa, tapi di urungkan sebab tak ingin membuat Adnan berkecil hati.


Kenapa suami ku terlihat imut begini? mana polos lagi.


"Apa kamu masih marah?" tanya Adnan kemudian.


Nirmala terkekeh geli mendengar pertanyaan Adnan. Gelengan kepala dengan senyum manis menghiasi wajah nya.


"Justru aku takut kamu marah. Tapi, aku mau bilang makasih sudah cuci piring kita dan tegur aku. Maaf, aku sudah lalai."


Sementara Nirmala diam terpaku di peluk begitu erat oleh Adnan. Hatinya berdesir, sudah sangat lama sekali tidak menerima pelukan dari seseorang. Bahkan ketika menjadi istri Arman juga tak pernah dipeluk seperti ini. Matanya menganak sungai. Ia pun memejamkan mata menikmati kehangat dari pelukan tersebut.


Merasa istrinya diam saja membuat Adnan mengurai pelukan, kedua tangan berada di lengan Nirmala. "Kamu kenapa menangis?" tanyanya menjadi panik melihat Nirmala menangis.

__ADS_1


Nirmala menggeleng disertai mengusap air mata sendiri. "Aku terharu."


***


Setelah persoalan cuci pirin dan salah paham, serta terharu atas pelukan yang diberikan Adnan, Nirmala kembali di panggil ke Kantor Desa selepas waktu sholat isya. Adnan tetap mengizinkan sebab tahu bila Nirmala salah satu panitia. Namun, hingga sekarang Nirmala belum juga tahu bila Adnan sebagai pengganti ustadz Zaki.


Sedangkan Adnan di rumah menghabiskan waktu dengan mengaji dan melihat buku-buku tersusun rapi di rak kecil berada pada pojokan kamar Nirmala. Pria itu tak menyangka bila Nirmala benar-benar suka membaca. Padahal, hanya tamatan Sekolah Menengah Atas dan sudah lama berumah tangga.


Nirmala hanya satu jam berada di luar. Bukan hanya karena ada Adnan sedang menunggu di rumah melainkan harus menulis beberapa ribu kata malam ini.


"Mbak duluan, Ning. Kerjaan belum siap."


"Iya, mbak. Hati-hati."


Nirmala mengendarai sepeda motor nya menuju rumah. Sesampainya di rumah, setelah mengucap salam dan di sahut Adnan dengan jawaban salam. Kemudian ia ke dapur masuk ke dalam kamar mandi melewati Adnan yang sudah berdiri di ambang pintu kamar mereka.

__ADS_1


Ia masuk ke dalam kamar mandi segera membersihkan diri kemudian memakai pakaian ganti yang baru saja dipesan sore tadi. Setelah selesai berganti pakaian, Nirmala masuk ke dalam kamar.


"Astaghfirullah!!!"


__ADS_2